Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Luhut Ramalkan Perang Iran-AS-Israel Bakal Berlangsung Lama

Luhut Ramalkan Perang Iran-AS-Israel Bakal Berlangsung Lama
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Beberapa faktor jadi pengaruh, seperti kekuatan militer serta semangat perlawanan rakyat Iran.

  • Ia menyoroti dua faktor penentu durasi perang.

  • Kemungkinan adanya dampak konflik terhadap pasokan energi global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, memproyeksikan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel akan makan banyak waktu.

Menurutnya, dinamika perang yang berkembang saat ini menunjukkan konflik berpotensi berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

“Beberapa pemimpin [Iran] dibunuh, [tapi perlawanan mereka] tidak ada tanda-tanda melemah. Bahwa sekarang persenjataan tembakan yang menurun, itu yang menjadi kunci,” kata Luhut dalam video singkatnya yang diunggah dalam akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan, Kamis (5/3).

Ia menilai karakter bangsa Iran menjadi salah satu faktor yang membuat konflik sulit berakhir cepat. Menurut Luhut, Iran memiliki sejarah panjang sebagai bangsa yang tidak pernah dijajah selama ribuan tahun dan dikenal memiliki semangat perlawanan yang kuat.

Menurutnya, terdapat dua faktor kunci yang dapat menentukan apakah konflik akan segera mereda atau justru berkepanjangan.

Pertama adalah kemampuan lawan untuk melumpuhkan seluruh sistem persenjataan Iran, termasuk roket, drone, serta fasilitas produksi militernya. Kedua, kemungkinan terjadinya pergantian rezim di negara tersebut.

Spirit rakyat Iran ini kita lihat. Dia embargo hampir empat dekade, tapi tidak pernah goyang,” katanya.

Luhut menilai konflik tersebut tidak hanya menjadi persoalan geopolitik, tetapi juga berpotensi memicu dampak luas terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Salah satu yang paling menohok adalah potensi gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz terganggu.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Jika aksesnya terganggu akibat konflik, harga energi global berpotensi melonjak tajam.

“Hormuz ini tertutup, berapa hari cadangan strategis minyak kita? Ini harus dihitung dengan cermat,” ujar Luhut.

Ia menyebut perhitungan sementara menunjukkan cadangan energi Indonesia berkisar antara 18 hingga 30 hari. Namun angka tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut agar pemerintah dapat menyiapkan langkah antisipatif.

Menurut Luhut, pemerintah perlu segera menyiapkan skenario cadangan, termasuk mencari sumber impor minyak alternatif jika pasokan dari kawasan Timur Tengah terganggu.

Ia juga mengingatkan lonjakan harga minyak global bisa memberikan tekanan pada anggaran negara. Saat ini harga minyak dunia berkisar US$78 per barel, sementara asumsi harga minyak dalam APBN adalah US$70 per barel.

“Kalau harga minyak naik sampai US$100 per barel, itu harus kita cermati betul karena dampaknya ke APBN,” ujarnya.

Potensi eskalasi geopolitik

Luhut juga menilai konflik berpotensi berlanjut karena pertimbangan strategis dari Amerika Serikat. Menurutnya, Washington kemungkinan akan berpikir berkali-kali sebelum mengirim pasukan darat ke kawasan konflik.

“Amerika akan mikir 10 kali mau kirim ground forces ke sana. Karena pasti akan banyak korban dan rakyat Amerika bisa marah,” katanya.

Selain itu, konflik juga memiliki dimensi persaingan geopolitik yang lebih luas, terutama terkait dengan pasokan energi bagi Cina. Luhut menyebut Cina selama ini memperoleh minyak dari beberapa negara seperti Iran, Venezuela, dan Rusia.

Jika konflik mengganggu pasokan tersebut, perekonomian Cina juga dapat terdampak, yang pada akhirnya ikut berpengaruh pada perekonomian global.

“Ini pertikaian strategis dunia yang harus kita amati dengan baik. Dampaknya pada ekonomi global, dan ekonomi kita juga bisa terkena,” ujarnya.

Untuk menghadapi ketidakpastian global, Luhut mendorong pemerintah membentuk tim khusus yang bertugas mengkaji dampak konflik terhadap ketahanan energi nasional. Tim tersebut diharapkan dapat merumuskan strategi alternatif untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasokan energi.

“Pemerintah perlu membuat semacam task force untuk melakukan studi yang cermat sebagai salah satu alternatif strategi kita,” kata Luhut.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More