Comscore Tracker
NEWS

Apa Mungkin Swasembada Gula Nasional Terwujud?

Indonesia masih bergantung pada impor untuk kebutuhan gula.

Apa Mungkin Swasembada Gula Nasional Terwujud?Shutterstock/Mr.Kosal

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengatakan kementeriannya saat ini tengah berupaya untuk mewujudkan kembali swasembada gula nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kunjungan kerja ke PT Industri Gula Glenmore, perusahaan di bawah pengelolaan BUMN PT Perkebunan Nusantara XII, Sabtu (18/9). Erick mengatakan, melalui BUMN, kementeriannya ingin turut berkontribusi pada upaya pengurangan impor dan bahkan meningkatkan ekspor komoditas seperti gula.

“Sudah satnya kita jangan hanya menjadi market saja yang akan menyulitkan negara kita. Dengan potensi yang kita miliki, bagaimana pula gula harus menjadi tulang punggung ekonomi yang penting ke depannya,” kata Erick.

Data menunjukkan Indonesia hingga kini masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Volume impor gula dalam negeri tercatat terus meningkat setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia sejak 2010 relatif terus meningkat setiap tahunnya. Kecuali, pada 2011, 2012, 2014, 2017, dan 2019 nilai impor gula Indonesia mencatatkan penurunan.

Menurut data BPS, lonjakan tertinggi nilai impor terjadi pada 2015. Saat itu, Indonesia tercatat mengimpor gula sebanyak 3,38 juta ton atau meningkat 5023,0 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 65,8 ribu ton.

Data yang sama juga menunjukkan, pada 2020 lalu, bahkan di saat krisis pandemi Covid-19, nilai impor Indonesia juga tak surut dengan melonjak dua digit 35,4 persen menjadi 5,53 juta ton. Secara rata-rata, sejak 2010-2020, volume impor gula Indonesia tercatat tumbuh 494,2 persen.

Erick Thohir mengatakan, demi mewujudkan “mimpi lama” swasembada gula nasional, BUMN yang akan bergerak di bidang bisnis perkebunan tebu akan terlibat dalam upaya tersebut. Saat ini terdapat tujuh anak perusahan PTPN yang bergerak di sektor tersebut, antara lain: PTPN VII, PTPN IX sampai XII, dan PTPN XIV. Selain itu, lanjutnya, tentu saja upaya tersebut juga tetap membutuhkan dukungan dari swasta.

Menurut Erick, upaya mewujudkan swasembada gula juga akan melibatkan kerja sama dengan masyarakat. Tak hanya, itu, kementeriannya juga akan melibatkan kerja sama dengan Perhutani untuk upaya peningkatan lahan produksi.

Dia mengatakan, lahan produksi tersebut diharapkan meningkat dari 45 ribu hektare menjadi 85 ribu hektare. Kemudian, lanjutnya, secara perlahan hingga 2024-2025 harus menjadi 250 ribu hektare. “Jika hal itu tercapai, maka impian indonesia menjadi negara pengekspor gula akan terwujud," katanya.

Produktivitas Ditingkatkan, Impor Dikendalikan

Ekonom sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menyatakan tantangan utama dalam upaya mewujudkan kembali swasembada gula nasional adalah soal produktivitas industri gula Indonesia yang masih sangat rendah.

Berdasarkan catatannya, saat ini rata-rata kebutuhan konsumsi gula nasional per tahun mencapai 7 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persennya masih harus diimpor.

Dia menyebutkan, tingkat produksi gula yang relatif meningkat dalam beberapa tahun terakhir belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Berdasarkan data BPS, rata-rata tingkat produksi gula Indonesia hanya 2,2 juta ton pada 2016-2020.

Tingkat produksi gula yang cenderung stagnan tersebut dia sinyalir terjadi akibat rendahnya produktivitas lahan tebu Indonesia. Hingga kini, tingkat produktivitas tebu Indonesia hanya 5,27 ton per hektare. Padahal, berdasarkan riset, potensi produktivitas itu bisa mencapai 10 hingga 20 ton per hektare.

Pada saat sama, lanjutnya, Indonesia juga ditengarai belum memiliki kemampuan bersaing dengan produsen gula internasional. Kondisi itu, katanya, membuat harga gula di pasar interasional lebih murah ketimbang dalam negeri.

“Dan itu sebenarnya problem utamanya, mengapa kita kok tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, ketergantungan kita terhadap gula impor semakin lama semakin tinggi,” kata Dwi kepada Fortune Indonesia, Selasa (21/9).

Doktor Lulusan Technische Universitaet, Braunweig, Jerman ini pun mengatakan, solusi pemenuhan dengan impor juga justru menciptakan masalah baru. Pasalnya, dengan harga impor yang lebih murah, praktis gula hasil produksi perkebunan rakyat tidak bisa bersaing.

Dwi Andreas pun menyimpulkan, dengan sejumlah catatan tersebut, upaya perwujudan kembali swasembada gula jelas sangat sulit. Di satu sisi harus meningkatkan produktivitas. Di sisi lain, pengendalian impor juga harus terus dilakukan terutama soal tarif agar produksi gula dalam negeri bisa bersaing.

“Kalau gula dari rakyat itu tidak bisa bersaing, ya kondisinya seperti sekarang ini,” kata Dwi.” Semakin lama industri gula nasional semakin mati. Sehingga, kalau ada cita-cita swasembada, ya sudah barang tentu itu hanya ilusi saja.”

Related Articles