Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Arab Saudi Diduga Turut Desak AS Serang Iran Bersama Israel

Arab Saudi Diduga Turut Desak AS Serang Iran Bersama Israel
Tiga warga membentangkan poster saat mengikuti aksi solidaritas untuk Iran di depan Kedutaan Besar Iran, Jakarta, Minggu (1/3). Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas untuk rakyat Iran dan bela sungkawa atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan yang dilakukan Amerika Serikat-Israel. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
Intinya Sih
  • Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

  • Putra Mahkota Muhammad bin Salman disebut berkomunikasi langsung dengan Presiden Donald Trump.

  • Balasan Iran memicu eskalasi regional yang membuat India serta Uni Emirat Arab menyerukan penghentian konflik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Serangan gabungan Operation Epic Fury oleh Amerika Serikat dan Operation Roaring Lion oleh Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2) lalu dilaporkan bukan sekadar hasil kalkulasi strategis Washington dan Tel Aviv. Laporan The Washington Post mewartakan terdapat peran signifikan Arab Saudi yang mendorong operasi skala besar tersebut, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Warta tersebut mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya, Riyadh dan Tel Aviv berada pada posisi kepentingan yang benar-benar bertemu: menghalangi pengaruh regional Iran. Konvergensi ini, yang disebut sebagai manifestasi nyata dari prinsip “musuh dari musuhku adalah temanku,” diduga kuat memengaruhi keputusan strategis Amerika Serikat (AS).

Empat sumber anonim yang memahami proses pengambilan keputusan di AS menyatakan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, secara pribadi berkomunikasi beberapa kali dengan Presiden AS, Donald Trump, dalam beberapa pekan terakhir.

Walaupun secara terbuka ia menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik, di balik layar Riyadh disebut mendesak Washington untuk melancarkan serangan terkoordinasi bersama Israel.

Pada saat bersamaan, Benjamin Netanyahu meningkatkan tekanan publik yang telah lama ia gaungkan agar AS menyerang Iran. Kombinasi lobi dari Saudi dan Israel inilah yang disebut membantu mendorong Trump memerintahkan operasi udara masif terhadap kepemimpinan Iran.

Menurut The Washington Post, gempuran pada jam-jam pertama dilaporkan telah menewaskan Ayatullah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat senior Iran lainnya. Iran segera bereaksi dengan meluncurkan serangan rudal ke pangkalan AS, Israel, serta sejumlah target lain di kawasan Timur Tengah.

Militer Israel menyatakan telah memulai gelombang serangan tambahan terhadap Teheran, Senin (2/3), dua hari setelah gebrakan awal. Pernyataan tersebut, dikutip dari Arab News, menyebut Angkatan Udara Israel melakukan serangan udara besar-besaran sebagai respons atas serangan Iran yang sebelumnya melukai tiga orang di Yerusalem.

Sementara itu, situasi domestik Iran dilaporkan memanas. Negara tersebut tengah memperingati 40 hari masa berkabung atas wafatnya Ayatullah Ali Khamenei, dengan laporan luas mengenai demonstrasi serta ekspresi duka publik.

Dampak regional dari eskalasi poros Iran–AS–Israel turut mencemaskan komunitas internasional. Perdana Menteri India, Narendra Modi, melalui media sosial X, Senin (2/3), mengonfirmasi telah berbicara dengan Benjamin Netanyahu untuk mendesak penghentian konflik secepatnya.

Modi menekankan bahwa keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama dan menyampaikan kekhawatiran India atas perkembangan terbaru tersebut. Ia juga berkomunikasi dengan Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, setelah serangan balasan Iran menjangkau kawasan Teluk.

“India berdiri dalam solidaritas dengan UEA di masa-masa sulit ini,” ujar Modi. “Kami mendukung de-eskalasi, perdamaian regional, keamanan, dan stabilitas.”

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More