Comscore Tracker
NEWS

Harga Minyak Melambung, Beban Berat Bagi Pertamina

Pertamina harus menanggung selisih harga keekonomian minyak.

Harga Minyak Melambung, Beban Berat Bagi PertaminaShutterstock/saiko3p

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina (Persero) tengah menanggung beban berat akibat tren kenaikan harga minyak dunia saat ini. Pemerintah meminta BUMN minyak dan gas (migas) itu untuk tidak menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri meski harga pasar internasional tengah melonjak.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Soerjaningsih. Menurut dia, kenaikan harga BBM tidak memungkinkan lantaran daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19.

“Ini agar tidak terjadi keresahan di masyarakat karena kenaikan harga yang cukup tinggi. Pertamina sebagai BUMN diharapkan tetap men-support kelancaran penyediaan dan pendistribusian BBM yang terjangkau,” kata Soerjaningsih dalam konferensi pers terkait pembaruan Kebijakan dan Capaian Kinerja Sektor ESDM Triwulan III-2021 secara daring, Senin (25/10).

Harga minyak dunia saat ini memang melonjak tajam. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak versi Brent telah mencapai US$85,4 per barel, atau naik 107,4 persen secara tahunan. Bahkan, harga ini juga lebih tinggi dari asumsi makro harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$45 per barel versi pemerintah dalam APBN 2021.

Harga keekonomian BBM jenis Pertalite kini sudah di atas Rp11.000 per liter. Akan tetapi, Pertamina masih menjual secara luas pada level Rp7.650 per liter. Demikian juga untuk bensin berjenis Premium yang masih dijual Rp6.450 per liter. Padahal, harga keekonomiannya Rp9.000 per liter.

Menurut Soerjaningsih, pemerintah berencana memberikan kompensasi demi mengurangi beban Pertamina atas selisih harga tersebut. Namun, kompensasi itu hanya diberikan untuk jenis BBM Premium (karena merupakan penugasan dari pemerintah). Di luar itu, pemerintah juga memberikan subsidi untuk BBM solar.

Sementara untuk Pertalite (dan juga jenis BBM seperti Pertamax), karena bukan merupakan penugasan maupun subsidi, Pertamina takkan mendapatkan kompensasi apa pun dari pemerintah. Ini artinya Pertamina bakal terus menanggung selisih harga BBM jenis tersebut sejalan tren kenaikan harga minyak dunia.

VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, hanya berkomentar secukupnya ketika dikonfirmasi soal tren harga minyak dunia termasuk perkiraan sampai seberapa besar Pertamina sanggup menanggung selisih dengan BBM dalam negeri. “Kami terus memonitor tren yang terjadi seiring dengan kenaikan aktivitas masyarakat di indonesia dan dunia,” katanya kepada Fortune Indonesia, Senin (26/10).

Masih bisa diantisipasi

BBM Satu Harga di Papua

Selisih antara harga keekonomian minyak internasional dengan BBM dalam negeri tentu akan menambah beban Pertamina. Menurut Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan, hal tersebut pada gilirannya juga berdampak pada kinerja keuangan BUMN migas ini.

“Terutama untuk produk-produk seperti Pertalite dan Pertamax karena tidak diberikan izin untuk menyesuaikan harga. Sedangkan, Pertalite adalah jenis BBM yang saat ini paling besar dijual Pertamina,” kata Mamit kepada Fortune Indonesia.

Namun demikian, penurunan kinerja Pertamina ini diharapkan bisa diantisipasi oleh pendapatan terutama dari sektor hulu atau produksi. Sebagai informasi, Pertamina sebagai produsen migas selama ini memang tak hanya menjual produknya di dalam negeri. Mereka juga menyalurkan sebagian produknya ke pasar internasional melalui ekspor.

Menurutnya, dengan harga minyak dunia yang saat ini melejit, pendapatan dari sektor hulu diharapkan mampu mengimbangi penurunan dari sektor hilir (distribusi dalam negeri). “Saya kira sektor hulu akan memberikan kontribusi yang positif ke depannya,” katanya.

Laporan keuangan terakhir Pertamina menunjukkan bahwa perusahaan ini sanggup mencetak penjualan dan pendapatan usaha US$25,09 miliar sepanjang semester I-2021. Itu artinya ada pertumbuhan 22,5 persen secara tahunan.

Pertamina memiliki empat sumber penjualan dan pendapatan usaha. Pos penjualan ekspor sanggup tumbuh 96,9 persen menjadi US$3,47 miliar.

Setelahnya, Pertamina juga memperoleh kenaikan pendapatan usaha lainnya 42,1 persen menjadi US$589,56 juta dan penggantian biaya subsidi dari pemerintah US$2,14 miliar. Sementara, pendapatan utama Pertamina dari penjualan dalam negeri tumbuh 14,0 persen menjadi US$18,89 miliar.

Pada periode yang sama, Pertamina berhasil mereguk laba tahun berjalan US$264,56 juta. Kondisi ini berbanding terbalik dari rugi US$761,24 juta pada tahun sebelumnya. Namun, laba Pertamina belum kembali ke era sebelum krisis pandemi (semester I-2019) yang sebesar US$746,68 juta.

“Dampak pandemi yang berkepanjangan masih sangat dirasakan Pertamina sepanjang tahun 2021. Fluktuasi harga minyak mentah sangat berpengaruh pada kinerja Pertamina,” kata Fajriyah Usman, Senin (16/8). Menurut Fajriyah, tingginya harga minyak memberikan tekanan signifikan atas beban pokok produksi BBM. Meski begitu, Pertamina tidak menaikkan harga BBM karena pertimbangan daya beli warga.

Di sisi lain, sektor hulu migas juga mampu mencatatkan kinerja baik dengan pendapatan dan laba di di atas target. Dari sisi produksi hulu migas, Pertamina sanggup mencapai target 850 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD).

Related Articles