Menaker Yassierli Prediksi pada 2030 Ada 170 juta Lapangan Pekerjaan Baru

- Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli memproyeksikan akan ada 170 juta lapangan pekerjaan baru pada tahun 2030.
- Sebanyak 92 juta pekerjaan diperkirakan akan hilang atau tergantikan akibat perkembangan teknologi, transisi hijau, dan perubahan demografi.
- Yassierli menilai para pekerja Indonesia perlu meningkatkan keterampilan dan kompetensinya dengan melakukan reskilling dan upskilling.
Jakarta, FORTUNE - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, memproyeksikan pada 2030 terdapat 170 juta pekerjaan baru. Kendati demikian di saat yang sama, sebanyak 92 juta pekerjaan akan hilang atau tergantikan akibat perkembangan teknologi, transisi hijau, serta perubahan demografi.
"Akan ada 170 juta pekerjaan baru tahun 2030. [Tetapi] ada 92 juta pekerjaan yang akan dibilang tergantikan 2030," katanya dalam acara Indonesia Summit 2025 di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (28/8).
Yassierli menyatakan, perubahan lanskap dunia kerja yang menjadi pendorong proyeksi tersebut. Menurutnya hal ini didorong oleh tiga faktor, yakni disrupsi digital dan kecerdasan buatan (AI), transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan, serta pertumbuhan sektor demografi dan care economy.
Ketiga faktor itu akan memengaruhi empat sektor utama, yaitu ekonomi digital, AI dan teknologi, green circular economy, serta care and people-centered economy.
Tak hanya itu, ada lima bidang pekerjaan yang akan mendominasi masa depan, yakni ekonomi kreatif seperti kreator konten dan digital marketing specialist, AI dan digital-driven economy, advanced manufacturing, green circular economy, serta care and people-centered economy misalnya mental health facilitator, wellness coach, yoga coach, hingga mental health specialist.
Dengan pergesaran lanskap dunia kerja ini, Yassierli menilai para pekerja Indonesia perlu meningkatkan keterampilan dan kompetensinya. Menurutnya jika sebelumnya cukup dengan satu keahlian khusus, kini pola tersebut dianggap tidak lagi relevan. Tenaga kerja, kata dia, dituntut menguasai lebih dari satu bidang, yakni memiliki satu spesialisasi sekaligus satu generalisasi.
"50 persen orang perlu melakukan yang disebut dengan reskilling dan upskilling," ujar dia.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan pun menyiapkan salah satu program yakni Balai Latihan Kerja (BLK). Program ini yang menawarkan pendidikan non-formal guna mempersiapkan masyarakat memasuki pasar tenaga kerja. Adapun saat ini, BLK yang dikelola pemerintah pusat berjumlah 43 unit, sementara milik pemerintah daerah mencapai 250 unit.