Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Populix: Indeks Keyakinan Konsumen 2026 Turun 6,17 Poin, Apa Penyebabnya?

2 min read
Populix: Indeks Keyakinan Konsumen 2026 Turun 6,17 Poin, Apa Penyebabnya?
ilustrasi masyarakat Indonesia yang harmoni (unsplash.com/firman fatthul)
  • Indeks Keyakinan Konsumen 2026 turun 6,17 poin secara tahunan menjadi 48,73, dengan persepsi ekonomi makro mencatat penurunan terdalam hingga 11 poin.
  • Biaya hidup tinggi, ketidakpastian pekerjaan, dan sikap belanja yang makin selektif menekan keyakinan konsumen; seluruh parameter, termasuk ekonomi pribadi dan kontrol keuangan, ikut melemah.
  • Pesimisme terdalam terjadi pada kelompok ekonomi atas dan responden perempuan; 51 persen responden mengkhawatirkan korupsi, disusul lonjakan biaya hidup serta kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada 2026 merosot sebesar 6,17 poin secara tahunan (year-on-year) ke level 48,73.

Riset terbaru Populix mengungkapkan penurunan ini dipicu oleh tertekannya persepsi ekonomi makro, tingginya biaya hidup, hingga maraknya kasus korupsi.

Penurunan IKK terjadi secara menyeluruh pada tiga parameter pembentuknya, yakni persepsi ekonomi Indonesia secara makro, indeks ekonomi pribadi (personal economic index), dan kontrol keuangan pribadi (financial control index).

Dari ketiga parameter tersebut, persepsi ekonomi makro mengalami penurunan paling tajam.

“Secara makronya kita turun sangat tinggi sekali, sangat dalam sekali, 11 poin,” kata Senior Research Director Populix, Indah Tanip, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/10).

Populix mengidentifikasi tiga faktor utama yang menekan keyakinan konsumen.

Pertama, tingginya biaya pengeluaran rumah tangga. Kedua, meningkatnya ketidakpastian masa depan yang berkaitan dengan risiko kehilangan pekerjaan. Ketiga, masyarakat yang kian selektif dalam menentukan prioritas belanja sembari mencermati kondisi perekonomian.

Ditinjau dari kelas ekonomi, kelompok masyarakat kelas atas (upper) justru menunjukkan tingkat pesimisme paling dalam ketimbang kelompok menengah (middle) maupun bawah (lower).

Indeks keyakinan konsumen pada segmen upper anjlok 7,57 poin menjadi 49,53. Sementara itu, segmen middle turun 5,01 poin menjadi 48,29, dan segmen lower turun 5,69 poin ke level 48,01.

“Upper ini terbentuk dari bagaimana mereka memastikan bahwa pekerjaan mereka itu tetap stabil di tahun ini,” ujar Indah.

Berdasarkan gender, responden perempuan mencatatkan tingkat pesimisme lebih tinggi terhadap perekonomian. Indeks keyakinan konsumen pada perempuan merosot 7,29 poin menjadi 47,01, sedangkan pada laki-laki turun 4,94 poin menjadi 50,46.

Tekanan ekonomi ini juga diwarnai oleh kekhawatiran sosial. Sebanyak 51 persen responden menyebut maraknya kasus korupsi sebagai alasan utama kekhawatirannya terhadap kondisi perekonomian nasional.

“Ketika berbicara tentang ekonomi di Indonesia, seharusnya semua orang kesulitan, tapi kok ternyata kasus korupsi semakin banyak, dan kemudian kok yang atas semakin makmur semakin sejahtera. Ternyata, middle bahkan low itu semakin sulit. Berarti sebenarnya tidak ada pemerataan kesejahteraan yang ada di Indonesia,” kata Indah.

Selain korupsi, tingkat kekhawatiran masyarakat yang dipengaruhi oleh lonjakan biaya hidup mencapai 50 persen, dan yang terdampak oleh kenaikan harga kebutuhan sehari-hari sebesar 48 persen.

“Ini adalah concern yang membuat mereka merasa sistem yang ada di Indonesia ini harus diperbaiki secara holistik, supaya mereka bisa merasakan bahwa ekonomi Indonesia akan lebih stabil dan akan pelan-pelan improving sampai dengan lima tahun ke depan,” katanya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More