Jakarta, FORTUNE – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus menjadi perbincangan publik. Di tengah berbagai kritik dan dukungan yang mengemuka, laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 mengungkap bagaimana generasi muda memandang program tersebut.
Laporan yang diterbitkan IDN Research Institute itu menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap MBG tidak dapat dilihat secara hitam-putih. Dukungan terhadap tujuan program berjalan beriringan dengan pertanyaan mengenai efektivitas pelaksanaan dan tata kelolanya.
Konteks tersebut mengemuka dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 pada 13 Februari 2026. Saat itu, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa perwakilan Apindo melaporkan program MBG telah membantu mendorong konsumsi rumah tangga pada Januari 2026 sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di tingkat desa dan kecamatan. Temuan lapangan tersebut menjadi salah satu dasar optimisme pemerintah terhadap prospek ekonomi nasional pada 2026.
Secara tujuan, MBG dirancang untuk meningkatkan kecukupan gizi anak-anak Indonesia, menekan angka stunting, serta menggerakkan perekonomian daerah melalui rantai pasok yang melibatkan petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro maupun kecil.
Survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia menunjukkan program tersebut memperoleh tingkat kepuasan publik yang tinggi. Sebanyak 72,8 persen responden mengaku puas terhadap pelaksanaan MBG. Menariknya, Generasi Z menjadi kelompok dengan tingkat kepuasan tertinggi, yakni mencapai 80,7 persen.
Meski demikian, laporan IMGR 2027 menunjukkan adanya pandangan lain yang berkembang di masyarakat. Survei Policy Research Center pada Maret 2026 menemukan mayoritas responden menilai manfaat program belum sepenuhnya diterima oleh kelompok sasaran utama.
Dalam survei tersebut, sekitar 88,5 persen manfaat program dinilai lebih banyak dinikmati mitra pelaksana dan kelompok elite. Sementara itu, anak-anak yang menjadi target utama program disebut hanya menerima sekitar 6,5 persen manfaat yang dirasakan secara langsung.
Menurut laporan IMGR 2027, kedua temuan tersebut tidak saling bertolak belakang. Sebaliknya, hasil itu menggambarkan bahwa kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah bekerja dalam beberapa lapisan sekaligus. Masyarakat dapat mendukung tujuan sebuah program, tetapi pada saat yang sama tetap mempertanyakan proses pelaksanaan dan mekanisme pengawasannya.
Fenomena tersebut juga terlihat pada Generasi Z. Tingginya tingkat kepuasan terhadap MBG tidak serta-merta menunjukkan kelompok ini kurang kritis. Sebaliknya, mereka cenderung menilai manfaat nyata yang dirasakan oleh diri sendiri maupun keluarga, sambil tetap mempertahankan sikap kritis terhadap aspek distribusi manfaat dan akuntabilitas program.
Laporan tersebut menilai pola ini konsisten dengan karakter generasi muda yang tidak lagi memberikan kepercayaan secara utuh kepada suatu institusi. Mereka cenderung mengevaluasi setiap aspek secara terpisah, mulai dari tujuan kebijakan, implementasi di lapangan, hingga tingkat transparansi dan pertanggungjawaban.
Dalam konteks komunikasi publik, MBG menjadi contoh bahwa dukungan tinggi terhadap sebuah program belum tentu berbanding lurus dengan kepercayaan terhadap sistem yang menjalankannya. Menurut laporan itu, transparansi yang dapat diverifikasi secara independen menjadi faktor penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Selama kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas belum sepenuhnya terpenuhi, berbagai narasi yang berkembang di luar saluran resmi diperkirakan akan terus memengaruhi persepsi publik terhadap program tersebut.
