Jakarta, FORTUNE - Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memasang target laba kolektif seluruh perusahaan pelat merah pada kisaran Rp340 triliun–350 triliun. Bidikan itu jauh meningkat ketimbang proyeksi laba kinerja 2025 pada rentang Rp280 triliun–285 triliun.
Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengatakan target tersebut telah dimasukkan ke dalam rencana kerja BUMN untuk 2026. Namun, ia menegaskan capaian itu bukanlah batas akhir.
“Tetapi, saya mesti berekspektasi [laba] lebih dari itu,” kata Dony dalam keterangan resminya, Kamis (29/1).
Lonjakan target laba tersebut akan ditopang oleh langkah strategis melalui Danantara, entitas yang dirancang untuk mengelola perusahaan-perusahaan milik negara.
Alih-alih hanya menggabungkan BUMN, Danantara melakukan penilaian menyeluruh terhadap seluruh perusahaan milik negara sebelum proses konsolidasi dilakukan.
Proses penilaian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari model bisnis dan struktur biaya, analisis pasar dan kondisi industri, hingga kapabilitas internal masing-masing perusahaan. Hasil kajian komprehensif itu akan menjadi acuan utama dalam menentukan arah konsolidasi.
Menurut Dony, konsolidasi yang dilakukan berbasis penilaian mendalam diharapkan mampu mempercepat peningkatan kinerja BUMN sekaligus memperkuat daya saing jangka panjang.
“Bukan asal memilih mana yang dikonsolidasikan, tetapi melalui proses yang kami desain dengan sangat baik. Targetnya adalah memastikan BUMN memiliki kemampuan kompetisi yang berkelanjutan,” ujar Dony, yang juga menjabat sebagai COO Danantara.
Sebagai contoh konkret, Danantara tengah mendorong konsolidasi besar-besaran pada sektor asuransi BUMN. Dari sebelumnya 15 perusahaan, jumlahnya akan dipangkas menjadi hanya tiga.
BUMN yang berada di bawah pengelolaan Danantara akan diarahkan untuk membangun bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar target jangka pendek.
“Komitmen kerja keras dan semangat kebersamaan kita bertekad menjadikan perusahaan BUMN di bawah Danantara jadi perusahaan yang membanggakan,” katanya.