Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Adopsi AI Melonjak, Survei: 68% Perusahaan Keuangan Akui Infrastruktur Belum Siap
Ilustrasi AI

  • Survei Nutanix ECI 2026 menunjukkan adopsi AI di sektor keuangan meningkat pesat, namun 68% perusahaan mengakui infrastruktur TI mereka belum siap mendukung beban kerja AI secara optimal.
  • Shadow AI menjadi tantangan besar dengan 66% eksekutif IT melaporkan penggunaannya tanpa izin resmi, menimbulkan risiko kebocoran data dan pelanggaran kepatuhan bagi perusahaan.
  • Isu kedaulatan data dan tata kelola menjadi fokus utama; 79% perusahaan memprioritaskan penyimpanan sesuai regulasi lokal, sementara tren penggunaan teknologi kontainer terus meningkat untuk mendukung fleksibilitas AI.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di sektor jasa keuangan terus meningkat seiring kebutuhan industri untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat layanan digital. Namun, di balik pesatnya adopsi Ai yang pesat, banyak perusahaan keuangan masih menghadapi kendala infrastruktur teknologi, tata kelola data, dan kesiapan organisasi yang belum memadai.

Hal tersebut terungkap dalam laporan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 yang dirilis Nutanix. Survei menunjukkan bahwa meski adopsi AI berlangsung pesat, sebagian besar perusahaan belum siap menjalankan teknologi tersebut dalam skala besar.

Salah satu tantangan terbesar adalah maraknya penggunaan shadow AI, yaitu penggunaan aplikasi AI oleh karyawan tanpa persetujuan resmi perusahaan. Sebanyak 66 persen eksekutif IT menyatakan praktik tersebut terjadi di organisasinya, sementara 86 persen menilai kondisi itu berpotensi menimbulkan risiko bisnis, mulai dari kebocoran data hingga pelanggaran kepatuhan.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa hambatan terbesar bukan berasal dari teknologi, melainkan dari aspek tata kelola dan organisasi. Sebanyak 38 persen responden menyebut kompleksitas proses bisnis sebagai penghalang utama implementasi AI, disusul persoalan kepemimpinan dan kurangnya keahlian SDM (34 persen), diikut kendala teknis disebut oleh 28 persen responden.

Di sisi lain, isu kedaulatan data (data sovereignty) menjadi perhatian utama industri keuangan. Sebanyak 79 persen perusahan mengaku memprioritaskan penyimpanan dan pengelolaan data sesuai regulasi masing-masing negara. Namun, 62 persen masih menjalankan aplikasi berbasis kontainer di layanan public cloud, sehingga meningkatkan risiko kepatuhan terhadap aturan penyimpanan data.

Sebagai respons terhadap kebutuhan AI, perusahaan jasa keuangan juga semakin mempercepat penggunaan teknologi container untuk menjalankan aplikasi secara lebih fleksibel. Sekitar 90 persen responden menyatakan AI mendorong percepatan adopsi kontainer, sementara 89 persen memperkirakan tren tersebut akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, kesiapan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah. Sebanyak 68 persen perusahaan mengakui sistem TI mereka belum mampu mendukung beban kerja AI secara optimal di pusat data internal (on-premises). Akibatnya, 64 persen perusahaan memilih menggandeng penyedia layanan teknologi pihak ketiga untuk mempercepat implementasi AI.

Vice President & General Manager APJ Nutanix, Jay Tuseth, mengatakan persaingan di industri keuangan kini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan siapa yang mampu mengimplementasikannya secara aman, sesuai regulasi, dan dapat diperluas skalanya.

“Di seluruh wilayah APJ, persaingan kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan tentang siapa yang mampu meningkatkan skala penerapannya secara aman dan bertanggung jawab,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (29/6).

Menurutnya, di saat lembaga keuangan menghadapi peningkatan risiko yang semakin besar terkait kedaulatan data dan penggunaan AI yang tidak resmi, keberhasilan menuntut peralihan ke arah platform berbasis kontainer yang fleksibel, yang mampu menyatukan berbagai beban kerja di seluruh lingkungan hybrid.

“Pemenang dalam kompetisi ini bukanlah mereka yang sekadar memiliki anggaran komputasi terbesar, melainkan mereka yang berhasil menyelaraskan infrastrukturnya dengan tuntutan regulasi regional dan kedaulatan data,” ujarnya.

Laporan tersebut merupakan hasil survei global yang dilakukan Wakefield Research pada November 2025 terhadap 1.600 eksekutif IT, cloud, dan engineering dari perusahaan dengan lebih dari 500 karyawan di 14 negara, termasuk Australia, Jepang, Singapura, India, Arab Saudi, Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Brasil.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article