TECH

Masalah Besar di Amazon Bukan Sekadar PHK Massal

Merambat ke respons kasar pelanggan hingga kehadiran AI.

Masalah Besar di Amazon Bukan Sekadar PHK Massalilustrasi perusahaan Amazon (Unsplash.com/Bryan Angelo)
10 June 2024
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE – 'Badai' pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di perusahaan teknologi global, Amazon, ternyata makin membesar. Respons kasar pelanggan dan ketakutan terhadap teknologi AI (artificial intelligence), membayangi janji Amazon tentang ‘obsesi pada pelayanan pelanggan’.

Fortune.com memberitakan bahwa 'badai' PHK ini menghasilkan sejumlah kekhawatiran lain bagi para karyawan Amazon yang terkait dengan pelayanan.

“Penderitaan yang dialami manajer layanan pelanggan Amazon bisa menjadi gambaran perubahan yang lebih luas tentang tenaga kerja perusahaan di seluruh dunia,” seperti dikutip dari Fortune, Senin (10/6).

Kabar ini berkenaan dengan langkah Amazon memecat lebih dari 100 karyawan pada level menengah—divisi Customer Service—pada pertengahan Mei 2024. Sayangnya, banyak dari mereka mengaku tidak tahu-menahu tentang masalah pemecatan ini.

Selanjutnya, pertanyaan tentang apa yang akan terjadi berikutnya di divisi customer service Amazon pun ramai dibicarakan oleh para karyawan di pusat panggilan dan kantor virtual dari AS, Kosta Rika, hingga India.

“Akankah Amazon terus mengalihdayakan lebih banyak interaksi pelanggan ke perusahaan pihak ketiga? Apakah karyawan saat ini secara tidak sadar melatih pengganti AI dengan kedok perangkat lunak baru yang memaksa manajemen untuk menggunakannya? Seberapa jauhkah otomatisasi penuh atas peran mereka?” demikian laporan Fortune menggambarkan kebingungan para karyawan.

Dipandang rendahan

Meski Amazon mengaku telah memberikan kompensasi kepada karyawan yang dipecat, mulai dari gaji dan pesangon sampai dengan pemindahan ke peran lain di luar customer service (CS), tapi sejumlah karyawan di divisi pelayanan pelanggan tetap merasa kurang aman dan khawatir.

“Kami adalah orang-orang tingkat rendah, orang-orang yang memerlukan biaya,” kata seorang manajer layanan pelanggan kepada Fortune.

Amazon sebelumnya mengatakan kepada Fortune bahwa restrukturisasi tersebut dimaksudkan untuk membantu memperkecil kesenjangan antara tingkat manajemen yang lebih tinggi dan pelanggan.

Namun, beberapa manajer dan agen garis depan yang berbicara dengan Fortune mengungkapkan kekhawatirannya mengenai seberapa besar beban kerja manajer yang tersisa akan meningkat, dan bagaimana peningkatan pelanggan dari agen garis depan mungkin akan hilang begitu saja.

Kata-kata pedas

Kekhawatiran para karyawan pun berlanjut dengan sistem pemenuhan pelayanan yang berfokus pada pelanggan, yang semakin memberatkan mereka. Karyawan lama mengatakan lingkungan yang berfokus pada biaya ini telah memperburuk apa yang dianggap sebagai krisis kesehatan mental di kalangan agen CS Amazon.

Mereka mengatakan perubahan dramatis dimulai pada masa-masa awal pandemi Covid-19, ketika pelanggan yang tak bisa keluar rumah mulai melontarkan kata-kata pedas via telepon. Bahkan, kata-kata makian yang mengandung kata-kata kotor sudah menjadi hal lumrah saat itu.

Amazon, menurut salah seorang karyawan, mempersulit agen layanan pelanggan untuk memberikan konsesi kepada pelanggan. Hal ini seiring dengan merebaknya pelanggan yang jadi korban penipuan dan makin banyaknya penipu yang ada di jajaran pelanggan.

“Ini bukan layanan pelanggan seperti yang orang-orang kenal di Amazon,” kata salah satu karyawan.

Menanggapi situasi ini, juru bicara Amazon, Margaret Callahan, mengatakan perusahaannya sangat peduli dengan pengalaman karyawan dengan program dan sumber daya untuk karyawan yang menghadapi interaksi yang ‘sulit’ atau kasar, dan bahwa CSA dapat menghentikan percakapan pelanggan jika peringatan tidak mengekang perilaku pelanggan.

Amazon juga membantah klaim dari karyawan lama dan manajer bahwa lebih sulit bagi mereka untuk memberikan konsesi kepada pelanggan dibandingkan di masa lalu, namun mencatat bahwa perusahaan telah berupaya selama dua tahun terakhir untuk lebih konsisten menerapkan kebijakan konsesinya pada berbagai pasar di seluruh dunia.

Related Topics