Comscore Tracker
TECH

Adaptasi Kondisi Ekonomi, Startup Fintech Xendit PHK 5% Karyawan

Xendit adalah startup pembayaran berstatus unicorn.

Adaptasi Kondisi Ekonomi, Startup Fintech Xendit PHK 5% KaryawanIlustrasi startup. Shutterstock/Indypendenz

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Tren gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan digital masih berlanjut. Kali ini, giliran Xendit yang mengumumkan langkah efisiensi sebagai bagian dari adaptasi terhadap kondisi ekonomi.

Dalam keterangan yang dikutip Rabu (5/10), perusahaan teknologi finansial dan infrastruktur digital itu menyatakan efisiensi menyasar 5 persen karyawan di Indonesia dan Filipina. Namun, tidak disebutkan secara terperinci jumlah orang yang terdampak kebijakan PHK ini.

“Melakukan rightsizing tim adalah sebuah keputusan yang sangat sulit, namun tetap harus diambil untuk optimalisasi posisi kami di jangka pendek maupun jangka panjang untuk perkembangan perusahaan,” ujar Chief Operating Officer Xendit, Tessa Wijaya.

Menurutnya, Xendit berkomitmen mendampingi tim yang terdampak untuk menerima kompensasi yang layak, serta prosesnya dilakukan sesuai peraturan berlaku.

Xendit juga memberikan manfaat bagi tim yang terdampak berupa perpanjangan masa asuransi kesehatan dan bantuan pendampingan psikolog. Perusahaan ini mengeklaim akan membantu eks karyawan agar mendapatkan pekerjaan lebih cepat.

Adaptasi bisnis

Menurut Tessa, Xendit senantiasa berusaha untuk menyiapkan rencana bisnis. Namun demikian, situasi ekonomi yang tak menentu memaksa perusahaan untuk melakukan rightsizing struktur dan sumber daya tim.

Dia menyatakan hal tersebut berdasar pada strategi bisnis yang progresif, serta telah melalui pertimbangan yang komprehensif demi memastikan perusahaan siap dalam menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.

“Rightsizing struktur dan sumber daya tim ini tidak berdampak pada kelangsungan usaha Xendit,” ujar Tessa. Menurutnya Xendit tetap menjadi perusahaan pembayaran digital terdepan di Indonesia dan di Filipina, serta berkomitmen untuk terus mambangun infrastruktur perbayaran di Asia Tenggara.

Data dari crunchabase menunjukkan Xendit tercatat sebagai perusahaan rintisan yang berstatus unicorn atau memiliki valuasi di atas US$1 miliar. Perusahaan yang berdiri pada 2014 ini telah meraup total pendanaan US$534,7 juta. Xendit terakhir kali beroleh dana segar pada Mei 2022 dengan nilai US$300 juta.

Perusahaan rintisan itu didukung oleh setidaknya 15 investor, di antaranya Tiger Global Management, Intudo Ventures, EV Growth, Insight Partners, Aceel, Coatue, Kleiner Perkins, dan lain-lain.

PHK startup

Startup

Xendit menambah daftar perusahaan rintisan yang mengambil langkah efisiensi baru-baru ini. Carsome, misalnya, melakukan PHK terhadap 10 persen karyawannya. Startup otomotif yang berbasis di Malaysia ini mengaku tengah beradaptasi di tengah kondisi ekonomi yang tidak kondusif.

Perusahaan tetap sangat menghargai karyawannya di masa lalu, dan dengan karyawan yang sekarang akan bersama-sama melewati tantangan ekonomi makro,” begitu pernyataan resmi manajemen Carsome, Jumat (30/9).

Sementara, Tokocrypto melakukan PHK terhadap 20 persen tenaga kerjanya. Menurut siaran persnya, dikutip Kamis (22/9), total jumlah karyawan perusahaan yang berdiri pada 2018 mencapai 227 orang. Artinya, kebijakan efisiensi perseroan mengarah pada sekitar 45 pegawai.

VP Corporate Communications Tokocrypto, Rieka Handayani, menyatakan manejemen mesti mengambil pelbagai langkah baik di sisi eksternal maupun internal. Menurutnya, keputusan ini diambil setelah perusahaan menganalisis dan memprediksi kondisi pasar aset kripto dan ekonomi global.“Tokocrypto telah menjadi bagian dari pertumbuhan dan perkembangan ekosistem industri aset kripto, karena itu harus mampu beradaptasi cepat dengan perubahan,” kata Rieka.

Akan hal Shopee, Head of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira, menyatakan keputusan perusahaan melepas sejumlah karyawannya merupakan langkah terakhir yang mesti ditempuh. Menurutnya, perseroan telah melakukan penyesuaian sejumlah kebijakan bisnis.

“Ini merupakan sebuah keputusan yang sangat sulit,” kata Radynal, dalam keterangannya, Senin (19/9).

Shopee Indonesia tidak menyebutkan berapa karyawan yang terdampak. Namun, Bloomberg mengabarkan PHK ditujukan bagi 3 persen dari total karyawan Shopee Indonesia. Data per kuartal I-2022, jumlah karyawan e-commerce tersebut mencapai 6.232. Itu berarti efisiensi akan berdampak terhadap sekitar 180 orang.

Related Articles