Comscore Tracker
TECH

Berrybenka Rebranding Jadi Grow Commerce, Raih Pendanaan US$7 Juta

Perseroan menggunakan model bisnis rumah merek.

Berrybenka Rebranding Jadi Grow Commerce, Raih Pendanaan US$7 JutaFounder & CEO Grow Commerce, Jason Lamuda. Dok/Istimewa

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Grow Commerce, perusahaan rintisan bidang agregator jenama fesyen, mengumumkan telah berhasil meraup pendanaan tahap awal sebesar US$7 juta atau lebih dari Rp100 miliar yang dipimpin oleh AC Ventures, serta diikuti East Ventures dan Irongrey.

Perusahaan ini merupakan rebranding dari Berrybenka, platform e-commerce fesyen lokal, yang berdiri pada 2013. Selain Berrybenka, Grow Commerce memiliki sejumlah portofolio seperti Aleza, Kottonville, Sorabel, dan BBS, dengan pendapatan tahunan US$20 juta atau lebih dari Rp286 miliar.

Founder & CEO Grow Commerce, Jason Lamuda, mengatakan pendanaan baru tersebut akan membantu perseroan untuk mendorong rangkaian akuisisi lebih banyak merek, menciptakan teknologi lebih baru untuk mendukung aspek operasional, dan mempercepat pertumbuhan.

“Grow Commerce mengambil posisi unik sebagai House of Brands lantaran pengalaman operasional kami yang kuat dalam membangun dan mendukung pertumbuhan merek lokal. Kami telah mengembangkan platform online kami sendiri, membangun jaringan toko offline, berekspansi dan berjuang di berbagai pasar online,” kata Jason dalam keterangan resmi, Selasa (15/2).

Model bisnis Thrasio-style

Grow Commerce melakukan diferensiasi merek dengan menggunakan Thrasio Style, katanya. Model bisnis tersebut menerapkan akuisisi jenama berbasis digital yang tumbuh dengan cepat.

Menurutnya, Asia Tenggara dianggap sebagai pasar yang tepat untuk mengimplementasikan strategi tersebut. Pasalnya, sebagian besar penduduknya merupakan pengguna internet berbasis mobile, terdapat campuran direct-to-consumer (DTC) dan saluran distribusi penjualan online, dan relevansi berkelanjutan dari ritel offline.

Founder & Managing Partners AC Ventures, Adrian Li mengatakan Grow Commerce telah menunjukkan performa menjanjikan melalui infrastruktur distribusi online dan offline, rantai pasokan, dan jaringan logistik. Dengan putaran pendanaan saat ini, e-commerce tersebut berada di posisi tepat untuk mengeksekusi rencana akuisisi merek, meningkatkan penjualan, dan memperluas rantai pasokan.

Pemain e-commerce fesyen

iPrice, situs riset harga produk di e-commerce, mencatat bahwa Indonesia memiliki setidaknya 12 e-commerce fesyen. Pada kuartal ketiga tahun lalu, total jumlah pengunjung web bulanan e-commerce tersebut lebih dari 4 juta orang. Berikut lisnya.

  1. Zalora
  2. Mapemall
  3. Jam Tangan
  4. iStyle
  5. Orori
  6. Hijup
  7. Bro.do
  8. Berrybenka
  9. Bobobobo
  10. Tees
  11. Sorabel
  12. Hijabenka

Sementara menurut catatan laman Daily Social, Grow Commerce turut meramaikan pasar roll-up e-commerce di Indonesia yang sebelumnya terdapat sejumlah pemain, seperti Hypefast, Open Labs, Una Brands, dan Tjufoo.

Berdasarkan laporan e-Conomy Sea 2021 oleh Google, Temasek, dan Bain Company, sektor e-commerce Indonesia tahun lalu diperkirakan memiliki volume barang dagangan kotor (gross merchandise volume/GMV) mencapai US$53 miliar (lebih dari Rp750 triliun), naik dari hanya US$35 miliar pada tahun sebelumnya. Pada 2025, GMV e-commerce dalam negeri ditaksir mencapai US$104 miliar atau setara Rp1.487 triliun.

Related Articles