Comscore Tracker
TECH

Kinerja Bisnis Positif, Shopee Indonesia Pastikan Tidak Lakukan PHK

Shopee Indonesia mempekerjakan 20 ribu karyawan.

Kinerja Bisnis Positif, Shopee Indonesia Pastikan Tidak Lakukan PHKShopee. Shutterstock/Sergei Elagin

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Manajemen Shopee Indonesia akhirnya buka suara soal gosip pemutusan hubungan kerja (PHK) yang santer belakangan. Platform e-commerce ini memastikan tidak melakukan langkah efisiensi karyawan tersebut.

Dikutip dari The Strait Times, Shopee dikabarkan akan memberhentikan sejumlah staf di wilayah operasionalnya di Asia Tenggara. Sejumlah lini bisnis Shopee, seperti ShopeeFood dan ShopeePay, disebut akan terdampak kebijakan layoff tersebut.

Menjawab kabar itu, Direktur Utama Shopee Indonesia, Handhika Jahja, dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (16/6), mengatakan langkah penyesuaian itu dipastikan takkan terjadi pada operasional Shopee di dalam negeri.  

“Langkah penyesuaian yang diambil pada segmen dan pasar tertentu, dipastikan tidak melibatkan Shopee Indonesia,” katanya kepada Fortune Indonesia.

Sebelumnya, CEO Shopee, Chris Feng, dalam sebuah memo pada Senin (13/6), mengatakan pihaknya membuat sejumlah penyesuaian untuk mengoptimalkan operasi perusahaan di segmen dan pasar tertentu. Langkah ini, kata dia, menyusul ketidakpastian ekonomi yang meluas.

Menurut Handhika, Shopee Indonesia justru terus menunjukkan performa bisnis yang baik. Dia menyampaikan Indonesia akan tetap menjadi pasar prioritas. “Kami terus mengembangkan bisnis kami untuk membantu lebih banyak UMKM dan pengguna di Indonesia merasakan manfaat pertumbuhan ekonomi digital,” ujarnya.

Performa Bisnis Shopee Indonesia

Sea Limited. Shutterstock/Wirestock Creators

Shopee Indonesia mempekerjakan lebih dari 20 ribu karyawan di pelbagai lini bisnis, seperti Shopee, ShopeePay, dan ShopeeFood, kata Handhika. Dia bahkan menyebut lebih dari 50 persen pegawai ini bergabung sejak COVID-19 mewabah.

Menurut Handhika, perseroan masih terus merekrut talenta terbaik demi mengembangkan tim. Melalui program Sea Labs, misalnya, perusahaan akan membangun tim yang terdiri dari seribu talenta digital, terutama engineer dan product manager.

Dia menambahkan, perusahaan dalam enam bulan terakhir menggulirkan pelbagai inisiatif untuk mendorong kemajuan UMKM Indonesia, termasuk Kampus UMKM Shopee yang hadir di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Program tersebut telah melatih puluhan ribu UMKM lokal dengan keterampilan bisnis digital. Selain itu, terdapat program Java in Paris yang berhasil membawa ribuan produk UMKM lokal untuk dijual di Paris.

“Misi Shopee di Indonesia tetap sama, yakni mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bagi mereka yang belum terlayani dengan baik, melalui teknologi dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, untuk menciptakan berbagai kerja sama strategis demi mewujudkan misi ini,” katanya.

Shopee belakangan santer dikabarkan melakukan PHK besar-besaran. Platform e-commerce akan melakukan efisiensi pada operasional di Asia Tenggara, meski tidak memerinci negara mana yang akan terdampak kebijakan tersebut. Selain itu, Shopee disebut bakal melepaskan bagian dari timnya di Meksiko, Argentina dan Chili, serta tim lintas batas yang mendukung pasar di Spanyol.

Menurut Feng, bisnis masih akan terus beroperasi seperti biasa, dengan Shopee di Meksiko, Argentina, Chili, serta ShopeeFood dan ShopeePay di Asia Tenggara. Dia menyebutkan komitmen perusahaan untuk mendukung pengguna, mitra, dan pedagang di pelbagai pasar tersebut.

Shopee merupakan platform e-commerce besutan Sea Limited, perusahaan teknologi asal Singapura. Laporan keuangan Sea Limited menunjukkan perusahaan kuartal pertama tahun ini membukukan rugi US$580,14 juta atau lebih dari Rp8,53 triliun (asumsi kurs Rp14.700). Nilai kerugian itu melonjak 37,4 persen ketimbang US$422,09 juta pada periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Perusahaan teknologi besar seperti Sea tengah berada di bawah tekanan untuk meningkatkan profitabilitas di tengah kekhawatiran penurunan. Shopee, bagaimanapun, menghadapi sejumlah hambatan makro, termasuk kenaikan inflasi dan suku bunga, yang berdampak ke sektor ritel dan konsumsi. Di sisi lain, investor yang terguncang oleh ketidakpastian ekonomi, telah kabur dari saham teknologi yang merugi belakangan.

Related Articles