Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Project Suncatcher Google, Taruhan Besar Data Center AI Luar Angkasa

2 min read
Project Suncatcher Google, Taruhan Besar Data Center AI Luar Angkasa
ilustrasi peluncuran satelit (pexels.com/SpaceX)
  • Google menguji Project Suncatcher dengan satelit prototipe ber-TPU di orbit, dikembangkan bersama Planet dan diluncurkan SpaceX; perangkat dilaporkan telah terhubung serta beroperasi sesuai rencana.
  • Riset ini mengkaji pusat data AI orbital yang memanfaatkan energi surya hingga delapan kali lebih besar dibanding panel di Bumi, dengan komputasi didistribusikan melalui sejumlah satelit.
  • Google menilai pendinginan, ketahanan terhadap radiasi dan suhu ekstrem, serta komunikasi berbandwidth tinggi sebagai tantangan utama; dua satelit pada 2027 direncanakan menguji koneksi laser.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Google mulai menguji gagasan membangun infrastruktur komputasi kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa melalui Project Suncatcher. Perusahaan telah menempatkan satu satelit prototipe ke orbit untuk menguji kemampuan perangkat keras AI beroperasi dalam kondisi ekstrem di luar Bumi.

Satelit tersebut dikembangkan Google bersama perusahaan pencitraan satelit Planet dan diluncurkan melalui misi rideshare Transporter-18 milik SpaceX pada 1 Oktober 2026. Google mengonfirmasi bahwa pihaknya telah berhasil terhubung dengan satelit dan perangkat tersebut beroperasi sesuai rencana.

Melansir The Register, Project Suncatcher merupakan bagian dari riset jangka panjang Google untuk mengkaji kemungkinan menempatkan infrastruktur machine learning berskala besar di orbit. Dalam tahap awal ini, satelit membawa Tensor Processing Unit (TPU), chip khusus yang dikembangkan Google untuk kebutuhan komputasi AI.

Selama beberapa pekan mendatang, Google akan mengumpulkan data mengenai kemampuan TPU menghadapi tekanan fisik selama penerbangan, radiasi, serta perubahan suhu ekstrem di ruang angkasa. Hasil pengujian tersebut akan digunakan untuk menentukan rancangan pengembangan berikutnya.

Konsep Suncatcher memanfaatkan ketersediaan energi Matahari di orbit rendah Bumi. Menurut Google, satelit di wilayah tersebut berpotensi memperoleh energi surya hingga delapan kali lebih besar dibandingkan panel surya yang berada di Bumi.

Dalam pengembangan jangka panjang, Google membayangkan sejumlah satelit yang masing-masing membawa TPU dan terhubung sebagai satu sistem komputasi. Dengan konfigurasi tersebut, beban kerja AI dapat diproses secara terdistribusi di orbit

Meski menawarkan akses terhadap energi surya yang melimpah, membangun pusat data di luar angkasa menghadirkan persoalan teknis yang berbeda dari fasilitas di Bumi. Salah satunya adalah sistem pendinginan.

Di ruang hampa, tidak terdapat aliran udara yang dapat digunakan untuk membuang panas dari chip. Google karena itu tengah menguji pendekatan menggunakan heat pipe dan radiator untuk memindahkan serta melepaskan panas dari TPU.

Selain persoalan termal, komunikasi antarsatelit juga menjadi tantangan. Konsep Suncatcher membutuhkan koneksi dengan bandwidth tinggi agar sejumlah satelit dapat bertukar data dan berfungsi sebagai satu klaster komputasi.

Google berencana menguji teknologi komunikasi berbasis laser pada tahap berikutnya. Dua satelit yang diluncurkan pada 2027 akan digunakan untuk menguji kemampuan koneksi tersebut sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan klaster komputasi di orbit.

Reuters melaporkan pengujian di orbit ini diperlukan karena pengujian di Bumi belum dapat sepenuhnya menggambarkan kondisi ruang angkasa.

Selain radiasi dan temperatur ekstrem, Google harus memastikan chip mampu bertahan dari tekanan saat peluncuran serta menemukan sistem pendinginan yang sesuai dengan lingkungan tanpa udara.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More