Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Riset: Raksasa Teknologi Berburu Startup Blockchain, Samsung Teraktif

Riset: Raksasa Teknologi Berburu Startup Blockchain, Samsung Teraktif
Konsep teknologi blockchain dengan rantai blok terenkripsi. Shutterstock/NicoElNino

Jakarta, FORTUNE – Sejumlah raksasa teknologi, mulai dari Alphabet, Samsung, sampai PayPal, tercatat menyuntikkan pendanaan ke perusahaan rintisan berbasis blockchain, menurut laporan dari Blockdata. Riset sama menyebutkan Samsung merupakan pemodal yang paling aktif memberikan pendanaan ke startup.

Dalam riset bertajuk “Top 100 Public Companies Investing in Blockchain & Crypto Companies”, setidaknya terdapat 40 investor yang menggelontorkan investasi sebanyak US$6 miliar ke perusahaan rintisan blockchain pada September 2021 dan Juni 2022.

Dikutip dari Bitcoin.com, Selasa (20/9), Alphabet Inc. menempati peringkat pertama investor yang memberikan pendanaan terbanyak dengan nominal mencapai US$1,51 miliar. Perusahaan induk dari Google ini berinvestasi ke sejumlah startup, yakni Fireblocks, Dapper Labs, Voltage, dan Digital Currency Group.

Blackrock, perusahaan finansial dari Amerika Serikat, menyusul di peringkat kedua dengan total investasi US$1,17 miliar, serta portofolio seperti FTX dan Anchorage Digital. Lalu, di bawahnya ada Morgan Stanley dengan nilai investasi US$1,10 miliar.

Investor teraktif

Ilustrasi Startup/ Shutterstock wowomnom
Ilustrasi Startup/ Shutterstock wowomnom

Samsung berada pada peringkat keempat. Nilai investasi produsen ponsel pintar dari Korea Selatan ini hanya US$979,26 juta. Meski demikian, Samsung tercatat sebagai investor paling aktif karena telah mendukung 13 startup, di antaranya Sky Mavis, Metrika, Animoca Brands, dan Yuga Labs.

Sementara itu, Goldman Sachs berinvestasi pada lima perusahaan dengan nilai pendanaan US$698 juta. Perusahaan bank investasi dan jasa keuangan dari AS ini memiliki portofolio perusahaan rintisan, seperti Coinmetrics, Anchorage Digital, Elwood, Blockdaemon, dan Certik.

“Samsung menempatkan taruhan di seluruh ekosistem blockchain dengan berinvestasi di perusahaan yang berfokus pada 15 kasus penggunaan yang berbeda, seperti layanan blockchain, platform pengembangan, NFT, dan jejaring sosial,” begitu bunyi laporan tersebut. “Di sisi lain, Alphabet dan Blackrock menampilkan strategi yang sama sekali berbeda dengan membuat taruhan terkonsentrasi pada sekumpulan perusahaan yang lebih kecil."

Prospek blockchain

Enkripsi blockchain untuk mata uang kripto, internet of things, cloud computing. Shutterstock/Immersion Imagery
Enkripsi blockchain untuk mata uang kripto, internet of things, cloud computing. Shutterstock/Immersion Imagery

CEO Tokocrypto, Pang Xue Kai, menyebut prospek industri blockchain masih tinggi meski saat ini sedang terjadi siklus “musim dingin” aset kripto.

Menurutnya, situasi itu disinyalir membuat investor mundur dari industri blockchain. Meski demikian, crypto winter hanya menghambat arus investasi di industri blockhain ataupun aset kripto, dan tidak menghentikannya.

"Musim dingin terjadi berdasarkan pada situasi pasar saat ini yang umumnya disebabkan oleh inflasi dan lainnya. Namun, kami tahu ini akan berlalu,  karena bear market itu seperti siklus dan akan rebounce kembali,” ujar Pang Xue Kai, dalam keterangan yang dikutip Senin (19/9).

Peluang dan potensi di industri blokchain, termasuk pengembangan generasi internet ketiga atau Web3, akan selalu ada serta menarik perhatian investor.

"Investor tidak bisa mengabaikan peluang dari blockchain. Relevansi blockchain ini luas di masa depan, dan tidak hanya sebagai arsitektur teknologi untuk kripto,” katanya. Sejumlah teknologi yang prospektif ini seperti keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan metaverse.

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
Luky Maulana Firmansyah
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Tech

See More

Darya-Varia Rilis Dua Alat Kesehatan Berbasis AI, Begini Fungsinya

02 Apr 2026, 17:24 WIBTech