Comscore Tracker
TECH

Digitalisasi Asuransi: Angin Segar Bagi Industri

Insurtech seperti PasarPolis ‘dihujani’ rezeki.

Digitalisasi Asuransi: Angin Segar Bagi IndustriIlustrasi asuransi. (Pixabay/geralt)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Digitalisasi sungguh berperan besar menyelamatkan berbagai industri yang terkena dampak pandemi. Salah satunya, sektor asuransi. Selama COVID-19 mewabah, para pelaku industri tersebut didorong mengakselerasi pemanfaatan teknologi.

Itu sesuai dengan hasil survei global Insurance CEOs yang digelar oleh lembaga akuntansi raksasa, KPMG International. Kepala Asuransi Global KPMG International, Laura J. Hay berkata, “COVID-19 telah menjadi katalis digital yang begitu dibutuhkan oleh para perusahaan asuransi.”

Langkah Digitalisasi Bos Asuransi Global Selama Pagebluk

Ada lima langkah digitalisasi yang dilakukan oleh para bos asuransi global selama wabah virus corona melanda. Berikut rinciannya.

- Memperbarui peta jalan digital agar transformasi tak berjalan setengah matang.

- Mulai bergeser ke pendekatan berbasis platform, bukan infrastruktur fisik. Dengan begitu, perusahaan akan lebih gesit menghadapi kondisi tidak pasti.

- Berkolaborasi dengan berbagai mitra hingga menciptakan satu ekosistem. Termasuk menggandeng para insurtech (asuransi berbasis teknologi).

- Eksplorasi pemanfaatan teknologi baru, seperti otomatisasi, kecerdasan buatan, dan pembelajaran mesin.

- Menjajaki model operasi bisnis di masa depan. Beradaptasi adalah keniscayaan.

Pergeseran Perilaku Konsumen terhadap Produk Asuransi

Hay mengatakan kebutuhan dan permintaan pelanggan kini telah berubah. Pengalaman digital terbaik kini menjadi sukar dielakkan—dalam industri apa pun. Terlebih, keterbatasan mobilitas selama pandemi membuat pelanggan semakin nyaman membeli berbagai produk secara daring.

“Itu berarti, perusahaan asuransi tak lagi bersaing dengan perusahaan asuransi lain, tetapi melawan pengalaman digital yang pelanggan rasakan di hidupnya,” jelasnya.

Mengamini pandangan tersebut, pendiri dan CEO PasarPolis—insurtech yang berkolaborasi dengan Gojek—Cleosent Randing meramalkan lahirnya inovasi produk bersifat lebih personal di masa depan. Dengan kata lain, produk-produk itu dirilis berdasarkan kebutuhan unik tiap konsumen.

“Kini asuransi bukan lagi menjadi produk yang kaku, namun customised dan mulai menjadi gaya hidup masyarakat,” katanya.

Dengan menerapkan pembuatan produk berdasar kebutuhan konsumen, PasarPolis sukses memanen buah manis. Itu tercermin pada total pemberian asuransi kepada hampir 30 juta jiwa di Indonesia (11 persen dari total populasi). Sejak 2019, insurtech itu pun sudah menerbitkan lebih dari 1 miliar polis bagi para nasabah pemula.

Durian Runtuh untuk Insurtech

Sebagai salah satu platform insurtech, PasarPolis bak beroleh durian runtuh selama pandemi. Itu tergambar dalam tren pembelian asuransi digital PasarPolis yang melampaui 600 juta polis sejak 2020.

Memasuki tahun kedua pandemi, produk digital yang banyak dibeli masyarakat adalah asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, dan asuransi gawai. Begitu pula dengan asuransi pengiriman barang yang tumbuh seiring kenaikan tren belanja daring.

Berdiri pada 2015, PasarPolis menawarkan lebih dari 170 produk berbasis kebutuhan konsumen. Inovasi produknya mampu mendorong pertumbuhan bisnis hingga 5 kali lipat. Total mitra strategisnya juga melambung 80 persen pada September 2021 dibandingkan dengan September 2020.

Related Articles