Jakarta, FORTUNE - EY mencatat bahwa terdapat 31 aktivitas merger dan akuisisi (M&A) di sektor jasa keuangan Asia Tenggara pada semester I 2026 dengan nilai transaksi sebesar US$936 juta. Meski jumlah aktivitas stabil, nilai transaksi menurun sebesar 41 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni US$1,6 miliar.
“Stabilnya aktivitas M&A di sektor jasa keuangan di Asia Tenggara mencerminkan pasar yang tetap aktif meskipun menghadapi volatilitas ekonomi dan geopolitik. Meskipun nilai transaksi yang diungkapkan menurun pada Semester I 2026, aktivitas M&A tetap terkonsentrasi pada transaksi berskala kecil hingga menengah,” ujar EY-Parthenon Partner, Financial Services, Ernst & Young Solutions LLP, Stuart Last, dalam keterangan resmi, Rabu (9/9).
Stuart memperkirakan peningkatan transaksi berskala besar pada paruh kedua tahun 2026 seiring membaiknya kondisi pendanaan serta semakin banyak aset berskala besar yang masuk ke pasar.
Menurut sektornya, volume transaksi perusahaan banking and capital markets turun menjadi 14 transaksi pada semester I 2026, sejalan dengan penurunan nilai transaksi menjadi US$669 juta dari US$1,1 miliar. Sementara itu, volume transaksi perusahaan asuransi meningkat dari delapan transaksi menjadi sembilan transaksi, dengan nilai transaksi turun menjadi US$123 juta dari US$478 juta.
Sementara itu, volume transaksi perusahaan wealth and asset management meningkat dari tiga transaksi menjadi sembilan transaksi, sejalan dengan peningkatan nilai transaksi dari US$0,8 juta menjadi US$145 juta.
Secara global, terdapat 1.137 transaksi M&A pada semester I 2026, meningkat 3 persen dibandingkan 1.101 transaksi pada semester I 2025. Meski demikian, total nilai transaksi menurun dari US$191,3 miliar menjadi US$134,5 miliar.
10 transaksi terbesar secara global menyumbang 58 persen dari total nilai transaksi (US$78,7 miliar).
Sebanyak 25 megadeal dengan nilai di atas US$1 miliar diumumkan dan ini mewakili 80 persen dari nilai transaksi. Nilai ini turun dibandingkan 37 transaksi megadeal pada semester I 2025 dan 55 transaksi pada semester II 2025.
EY Global Financial Services Leader, Omar Ali, mengatakan bahwa meski perusahaan jasa keuangan telah mempertimbangkan volatilitas dalam kegiatan operasional, ketidakpastian memberikan dampak pada perusahaan dan diperparah oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi global, meningkatnya inflasi, serta gangguan pasokan yang terus berlanjut.
“Oleh karena itu, meskipun jumlah transaksi meningkat, nilai transaksi di berbagai pasar utama dunia pada Semester I tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan tahun 2025 karena jauh lebih sedikit transaksi yang mencapai nilai di atas US$1 miliar,” kata Omar.
Di Indonesia sendiri, EY mencermati aktivitas M&A sektor jasa keuangan ditopang oleh konsolidasi yang didorong regulator, khsususnya upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat permodalan bank-bank kecil dan perusahaan multifinance.
Tingginya minat investor pada pasar jasa keuangan Indonesia yang masih relatif belum terpenetrasi juga mendukung aktivitas transaksi. Beberapa transaksi yang disoroti adalah akuisisi portfolio wealth dan premier banking HSBC Inddonesia oleh OCBC serta akuisisi portofolio kredit pensiun SMBC Indonesia oleh BTN.
“Saat ini, semakin banyak strategic buyer yang mencari akses ke jaringan distribusi, lisensi untuk memasuki bisnis jasa keuangan yang berdekatan, serta jangkauan nasabah yang lebih luas, bukan sekadar mengejar skala aset,” ujar EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, Reuben Tirtawidjaja.
Reuben menilai, minat terhadap sektor wealth and asset management juga semakin meningkat pada semester I 2026, seiring investor yang menangkap peluang dari bertumbuhnya segmen affluent di Indonesia dan meningkatnya permintaan terhadap wealth products. Hal ini menandai pergeseran menuju model bisnis berbasis fee yang lebih ringan modal dan memiliki potensi pertumbuhan struktural.
“Kesenjangan valuasi antara buyer dan seller masih menjadi tantangan, khususnya karena investor semakin memperhitungkan risiko geopolitik dan tantangan makroekonomi seperti volatilitas mata uang serta tekanan terhadap peringkat kredit Indonesia,” katanya.
Meski demikian, Reuben memperkirakan terdapat minat yang berkelanjutan pada sektor wealth and asset management. Sepanjang sisa tahun 2026, peluang tambahan diperkirakan akan muncul dari konsolidasi yang terus berlangsung serta ekspansi pemain mapan ke segmen nasabah baru.
“Kami memperkirakan minat yang berkelanjutan pada sektor Wealth and Asset Management, asuransi termasuk insurtech, di mana peningkatan persyaratan minimum ekuitas mendorong konsolidasi, multifinance, serta platform pembayaran dan pinjaman digital. Hal ini akan dilengkapi dengan konsolidasi yang terus berlanjut di kalangan bank-bank kecil sebagai respons terhadap persyaratan skala yang ditetapkan regulator,” ujar Reuben.
