Aspermigas Prediksi Kebutuhan Migas Terus Meningkat hingga 2050
- Aspermigas memprediksi kebutuhan minyak dan gas terus meningkat hingga 2050, didorong pembangunan pusat data, AI, dan kebutuhan energi besar serta andal.
- Gas bumi dinilai strategis sebagai energi relatif lebih bersih dan andal; potensi di Kalimantan Timur serta Papua dapat menopang kebutuhan domestik dan pertumbuhan ekonomi.
- Industri migas didorong menekan intensitas emisi, terutama metana dan kebocoran gas, melalui inisiatif OGMP 2.0 yang telah diikuti sejumlah perusahaan di Indonesia.
Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) memprediksi kebutuhan minyak dan gas bumi (migas) masih akan terus meningkat hingga 2050. Pertumbuhan kebutuhan tersebut didorong oleh, antara lain, pesatnya pembangunan pusat data dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pasokan energi besar dan andal.
Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, mengatakan proyeksi kebutuhan migas ke depan mengalami perubahan. Jika sebelumnya permintaan diperkirakan mulai stagnan pada 2032, perkembangan terbaru menunjukkan kebutuhan minyak dan gas masih berpotensi meningkat hingga 2050.
"Prediksi awal permintaan akan mulai stagnan pada 2032, sekarang ternyata berubah, di mana 2050 akan tetap naik untuk oil and gas," kata Moshe saat media breafing IEE Series 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).
Menurut dia, gas bumi memiliki posisi strategis karena dapat menyediakan energi relatif lebih bersih sekaligus andal untuk menopang kebutuhan listrik, terutama ketika konsumsi energi meningkat akibat perkembangan teknologi digital.
Indonesia dinilai memiliki potensi gas besar. Moshe menyebut sejumlah wilayah seperti Kalimantan Timur dan Papua memiliki sumber daya gas yang dapat menjadi modal memenuhi kebutuhan energi domestik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dia menilai optimalisasi sumber daya migas menjadi penting di tengah target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, pengembangan sektor migas tidak dapat dilepaskan dari upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Bukan Transisi, tapi pertumbuhan energi

Default Image Moshe juga menilai istilah transisi energi perlu dilihat dari perspektif berbeda. Menurut dia, peningkatan kebutuhan energi global berlangsung lebih cepat ketimbang kemampuan transisi menuju energi terbarukan.
Dia mencontohkan Singapura yang masih mengandalkan energi fosil dalam jumlah besar meskipun tengah mengembangkan pembangkit listrik berbasis gas dan hidrogen.
Menurut Moshe, kondisi tersebut menunjukkan gas bumi masih memiliki peran dalam memenuhi kebutuhan energi sekaligus menjadi bagian dari proses menuju sistem energi yang lebih rendah emisi.
"Singapura itu lagi membangun PLT Gas/hidrogen, double cycle, untuk kepentingan transisi energi. Karena kepentingan mereka itu masih 98 persen fosil," ujarnya.
Atas dasar itu, dia menilai sektor minyak dan gas masih akan memiliki peran penting dalam sistem energi global. Apalagi, penggunaan migas tidak hanya untuk kebutuhan energi, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk industri.
Moshe menyebut sekitar separuh penggunaan minyak dan gas ke depan berpotensi berkaitan dengan kebutuhan nonenergi. Berbagai produk sehari-hari juga masih menggunakan bahan yang berasal dari minyak dan gas sebagai bahan baku.
Fokus Tekan Emisi Migas

Default Image Meski memperkirakan permintaan migas terus meningkat, Aspermigas menilai industri tetap harus berkontribusi terhadap upaya penurunan emisi.
Menurut Moshe, fokus industri bukan semata-mata menghilangkan penggunaan migas, melainkan menekan intensitas emisi yang dihasilkan dari setiap barel atau unit produksi.
Salah satu upaya yang didorong adalah pengurangan emisi metana. Aspermigas bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi telah menggelar lokakarya pada 2023 untuk memperkenalkan Oil and Gas Methane Partnership (OGMP) 2.0, sebuah inisiatif yang dikembangkan United Nations Environment Programme (UNEP).
Program tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan migas mengidentifikasi dan mengurangi emisi metana dari kegiatan operasional.
Moshe menjelaskan metana menjadi salah satu kontributor penting terhadap pemanasan global karena memiliki potensi pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu.
"Oil and gas berusaha keras dengan program-program seperti itu untuk mengurangi bagaimana metana ini tidak keluar ke udara," katanya.
Menurut dia, upaya tersebut mencakup pengurangan emisi dari berbagai sumber, termasuk fugitive emissions atau kebocoran gas dari peralatan dan infrastruktur migas.
Moshe menyebut sejumlah perusahaan migas besar di Indonesia telah bergabung dalam inisiatif OGMP 2.0. Keikutsertaan tersebut diharapkan mendorong perusahaan melakukan pengukuran dan pengurangan emisi metana secara bertahap.

















