BUSINESS

Fasilitas Produksi HiteJinro Icheon: Pabrik Kebahagiaan

Sanggup membotolkan maksimal 6 juta minuman sebulan.

Fasilitas Produksi HiteJinro Icheon: Pabrik KebahagiaanPabrik HiteJinro, produsen Jinro soju, di Icheon, Korea Selatan. Fortune Indonesia/Bonardo Maulana

by Bonardo Wahono

15 November 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Banyak hal tentang Korea Selatan yang kemudian menjadi ikonik, sebagiannya berkat gelombang 'Demam Korea' atau Hallyu yang menghampiri berbagai benua via produk budayanya.

Satu di antaranya adalah minuman beralkoholnya, soju.

Meski bukan satu-satunya minuman hasil penyulingan di Korea, soju kadung melekat dalam benak orang-orang sebagai minuman nasional bangsa tersebut. Citra itu kian kuat dengan kemasan botol hijaunya. Bahkan, sejumlah film kesohor Korea acap kali menampilkan adegan dengan menyertakan soju dalam botol hijau sebagai bagian dari 'properti panggung' demi menegaskan impresi soju sebagai 'minuman nasional'. 

Anda mungkin ingat Parasite (2019), film arahan sutradara Bong Joon-Ho, yang berbicara tentang diskriminasi sosial serta pertentangan kelas di Korea, dan meraih empat Oscar. Pada salah satu adegannya, yakni ketika Min Hyuk (dimainkan oleh Park Seo Joon) menawarkan Ki Woo (diperankan Choi Woo Shik) peluang untuk menggantikannya sebagai guru les pribadi seorang perempuan tajir bernama Da Hae, mereka berbicara dengan iringan soju dalam naungan sebuah payung besar. 

Di situ, yang muncul adalah Jinro soju, yang dihasilkan oleh salah satu produsen besar soju dunia, HiteJinro Co Ltd. Kunjungan ke salah satu pabrik terbesar perusahaan tersebut di Icheon, kota Korea yang termasyhur dengan kerajinan keramiknya, menjawab pertanyaan kecil tentang kenapa botol soju rata-rata berwarna hijau.

Menurut manajer HiteJinro untuk wilayah Asia Tenggara, Hyung Jun Yu, botol hijau beredar semata "karena untuk kepentingan daur ulang," katanya saat mendampingi wartawan di pabrik Icheon yang luas itu di Korea Selatan (14/11).

Dalam tur singkat tersebut, dia memperlihatkan bagaimana pabrik Icheon, yang mengedarkan botol beling hanya untuk konsumsi domestik, mendaur ulang botol. Mesin yang mengotomatisasi proses melakukan pencopotan label, dan botol polos akan melalui proses sanitasi sebelum diisi kembali. 

Tidak semua botol milik Jinro, karena sejumlah perusahaan telah bersepakat lebih dari sedekade lalu untuk mengemas soju mereka dalam botol hijau--dalam desain dan warna seragam--sehingga mudah didaur ulang. 

Munculnya produk soju Jinro dalam produk budaya Korea seperti film, drama, dan lewat bintang-bintang K-pop seperti menjadi penyalur dahaga peminum muda akan idola-idola mereka itu. Dan sebetulnya, itu juga bagian dari strategi pemasaran Jinro saat menampilkan pesohor perempuan sebagai 'brand ambassador'. (Dutanya saat ini adalah IU, yang merupakan penyanyi sekaligus aktris). Selain itu, duta perempuan diangkat untuk mendorong kenaikan segmen konsumen dari sisi perempuan muda, karena dulu soju dianggap sebagai minuman laki-laki. 

Di pabrik Icheon itu pula kami dapat melongok sejarah Jinro yang nyaris berusia satu abad setelah awalnya dirintis di Korea Utara pada 1924. Di situ terlihat bagaimana Jinro diklaim berbeda dari para pesaingnya. Soju Chamisul mereka dikenal dengan cita rasanya yang netral dan sedikit manis meski kandungan alkoholnya masih terhitung tinggi. Untuk mencapai cita rasa tersebut, dibutuhkan kolaborasi tiga bahan: beras, barli, dan singkong. 

Penyempurnaan akhirnya adalah pada proses penyulingan empat lapis yang melibatkan arang dari bambu. Dengan adanya proses tersebut, konsumen Chamisul dapat terhindar dari hangover alias 'konde'.