BUSINESS

Riset: Ada Gap antara Upaya Keberlanjutan dan Transformasi Digital

Hanya 30 persen perusahaan punya strategi ESG yang jelas.

Riset: Ada Gap antara Upaya Keberlanjutan dan Transformasi DigitalIlustrasi ESG. (Doc: Fortune Indonesia)

by Desy Yuliastuti

04 July 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Terdapat kesenjangan antara praktik bisnis keberlanjutan dan transformasi digital di kalangan perusahaan dan organisasi di Indonesia, menurut hasil studi terbaru oleh Paessler, pakar monitoring untuk infrastruktur dan jaringan IT (information technology).

Studi berjudul “Keeping Watch: Monitoring Your Path to Sustainable IT” ini bertujuan untuk menyoroti kondisi praktik upaya keberlanjutan di kalangan bisnis saat ini dan menyelami lebih dalam tentang faktor pendorong dan penghambat dalam menerapkan praktik IT keberlanjutan. Sejumlah rintangan para bisnis dalam mengadopsi praktik keberlanjutan di Indonesia pun terungkap di dalam studi ini, yang termasuk; menyeimbangkan metrik ESG dengan target pertumbuhan (68 persen), biaya penerapan ke bisnis (50 persen), kurangnya kejelasan dari pembuat regulasi tentang standar pelaporan (45 persen), dan minimnya pengetahuan teknis tentang implementasi perencanaan (40 persen).

Sebanyak 75 persen perusahaan di Indonesia merasa sangat optimis terhadap prospek bisnis dalam tiga tahun ke depan. Hasil studi menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan masih menganggap praktik upaya keberlanjutan dan transformasi digital masih berjalan sendiri-sendiri serta tidak saling terkait. Para perusahaan tengah berupaya mengembangkan kerangka kerja keberlanjutan dan strategi transformasi digital secara setengah-setengah.

Akibatnya, sumber daya yang mereka miliki—baik itu anggaran biaya, waktu, maupun keahlian yang terlibat—menjadi kurang efektif. Mereka juga tidak memiliki kemampuan dan keahlian untuk mengembangkan kerangka kerja keberlanjutan dan menjalankannya; yang dengan jelas menyoroti ketidakterkaitan antara praktik keberlanjutan yang dilakukan dan perjalanan transformasi digital mereka.

Di saat bersamaan, sejumlah perusahaan di Indonesia menyadari manfaat monitoring infrastruktur IT, yang merupakan roda penggerak utama dalam strategi IT sebuah organisasi dalam membantu mengoptimalkan konsumsi energi (100 persen), menganalisis kebutuhan nyata pada perangkat IT tahap lanjut (100 persen), memantau faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, CO2, dan lain-lain (98 persen), mengurangi emisi (95 persen), dan mengukur jumlah penghematan sumber daya (95 persen). Oleh karena itu, strategi IT yang berkelanjutan dengan dukungan kerangka kerja monitoring yang komprehensif harus memiliki andil dari operasional bisnis. Hal ini akan memastikan ketersediaan sumber bahan untuk proses produksi dan semua komponen lain dari bisnis yang berkelanjutan, agar nantinya dapat diintegrasikan dengan strategi transformasi digital yang menyeluruh.

Dengan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan tumbuh hingga 4,8 persen pada tahun 2023 dan 5 persen pada tahun 2024, sejumlah bisnis yang berfokus pada transformasi digital, upaya keberlanjutan, serta peningkatan produktivitas dan efisiensi sebagai area prioritas utama lebih siap dalam menghadapi perlambatan ekonomi global. 

“Banyak perusahaan melihat upaya keberlanjutan dan profitabilitas sebagai hal yang kontradiktif. Namun, jika kita mengukurnya dengan benar, kombinasi keduanya dapat menghasilkan efisiensi biaya dan keunggulan kompetitif. Sangat penting untuk membangun strategi IT yang kuat, strategi transformasi digital dan mengembangkan kerangka kerja keberlanjutan yang semuanya terintegrasi dengan kerangka kerja monitoring IT secara komprehensif. Menjembatani kesenjangan antara transformasi digital dan upaya keberlanjutan untuk membuat keputusan berbasis data dapat menghasilkan optimalisasi sumber daya dan menghadirkan manfaat ekonomi bagi bisnis,” ujar Felix Berndt, Regional Sales Manager, Asia Pacific, Paessler.

Upaya keberlanjutan harus jadi prioritas

Dok. Paessler

Di saat bersamaan, sejumlah perusahaan di Indonesia menyadari manfaat monitoring infrastruktur IT, yang merupakan roda penggerak utama dalam strategi IT sebuah organisasi dalam membantu mengoptimalkan konsumsi energi (100 persen), menganalisis kebutuhan nyata pada perangkat IT tahap lanjut (100 persen), memantau faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, CO2, dan lain-lain (98 persen), mengurangi emisi (95 persen), dan mengukur jumlah penghematan sumber daya (95 persen).

Oleh karena itu, strategi IT yang berkelanjutan dengan dukungan kerangka kerja monitoring yang komprehensif harus memiliki andil dari operasional bisnis. Hal ini akan memastikan ketersediaan sumber bahan untuk proses produksi dan semua komponen lain dari bisnis yang berkelanjutan, agar nantinya dapat diintegrasikan dengan strategi transformasi digital yang menyeluruh.

Dengan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan tumbuh hingga 4,8 persen pada tahun 2023 dan 5 persen pada tahun 2024, sejumlah bisnis yang berfokus pada transformasi digital, upaya keberlanjutan, serta peningkatan produktivitas dan efisiensi sebagai area prioritas utama lebih siap dalam menghadapi perlambatan ekonomi global. 

Regional Sales Manager Paessler Asia Pacific, Felix Berndt, mengatakan banyak perusahaan melihat upaya keberlanjutan dan profitabilitas sebagai hal yang kontradiktif. Namun, jika mengukurnya dengan benar, kombinasi keduanya dapat menghasilkan efisiensi biaya dan keunggulan kompetitif.

"Sangat penting untuk membangun strategi IT yang kuat, strategi transformasi digital dan mengembangkan kerangka kerja keberlanjutan yang semuanya terintegrasi dengan kerangka kerja monitoring IT secara komprehensif. Menjembatani kesenjangan antara transformasi digital dan upaya keberlanjutan untuk membuat keputusan berbasis data dapat menghasilkan optimalisasi sumber daya dan menghadirkan manfaat ekonomi bagi bisnis,” ujar Felix.

Praktik keberlanjutan (ESG) dan upaya transformasi digital tidak sejalan

Dok. Paessler