Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hadapi Tekanan Bisnis, Jaguar Land Rover Pangkas 4.000 Pekerja
logo Jaguar Land Rover (unsplash.com/Zakaria Zayane)
  • Jaguar Land Rover akan memangkas sekitar 4.000 posisi dalam dua tahun, hampir 10% tenaga kerja global, terutama lewat pengunduran diri sukarela bagi karyawan bergaji tetap dan manajemen.
  • Restrukturisasi ditujukan menghemat hingga £1,7 miliar di tengah persaingan merek China, tarif AS, perubahan teknologi, ketidakpastian geopolitik, serta gangguan produksi akibat serangan siber 2025.
  • Meski melakukan efisiensi, JLR menyiapkan investasi £15–18 miliar selama lima tahun untuk elektrifikasi, digitalisasi, manufaktur canggih, dan lima produk baru dalam 12 bulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNEJaguar Land Rover (JLR) berencana mengurangi sekitar 4.000 posisi dalam dua tahun ke depan sebagai bagian dari restrukturisasi untuk menekan biaya dan meningkatkan daya saing. Pemangkasan tersebut setara hampir 10 persen dari sekitar 43.000 tenaga kerja JLR secara global.

Melansir Reuters, program pengurangan tenaga kerja akan dilakukan terutama melalui voluntary redundancy atau pengunduran diri secara sukarela dengan kompensasi, dan menyasar karyawan bergaji tetap serta manajemen. JLR mempekerjakan sekitar 34.000 orang di Inggris, meski perusahaan belum merinci lokasi seluruh posisi yang terdampak.

Langkah tersebut dilakukan ketika produsen mobil mewah milik Tata Motors menghadapi tekanan dari persaingan yang semakin ketat, khususnya dari produsen China, tarif Amerika Serikat (AS), perubahan teknologi, serta ketidakpastian geopolitik. JLR menargetkan penghematan biaya hingga £1,7 miliar dalam dua tahun.

CEO JLR, PB Balaji, mengatakan industri otomotif saat ini menghadapi tekanan besar akibat perubahan teknologi, persaingan yang semakin ketat, dan ketidakpastian geopolitik.

“Industri otomotif menghadapi tantangan yang signifikan, dengan perubahan teknologi di tengah persaingan yang ketat dan ketidakpastian geopolitik yang terus berlangsung,” kata Balaji.

Melansir Financial Times, tekanan dari merek Cina menjadi salah satu persoalan utama JLR. Sejumlah merek seperti Jaecoo dan Omoda dari Chery mulai memperkuat penjualan di Inggris, sementara pasar Cina yang sebelumnya dipandang sebagai sumber pertumbuhan justru menjadi semakin kompetitif bagi produsen otomotif global.

Selain persaingan, JLR juga harus menghadapi dampak tarif AS dan gangguan produksi akibat serangan siber besar pada 2025. Reuters menyebut serangan tersebut sempat menghentikan produksi di pabrik-pabrik JLR di Inggris selama beberapa pekan.

Di tengah efisiensi, JLR tetap menyiapkan investasi besar untuk transformasi bisnis. Perusahaan berencana mengalokasikan £15 miliar hingga £18 miliar dalam lima tahun ke depan untuk elektrifikasi, teknologi digital, manufaktur canggih, dan pengembangan pengalaman pelanggan. JLR juga akan meluncurkan lima produk baru dalam 12 bulan mendatang.

JLR juga ingin menurunkan titik impas bisnisnya menjadi sekitar 300.000 kendaraan per tahun. Target tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun struktur biaya yang lebih rendah di tengah perubahan pasar otomotif global.

The Wall Street Journal melaporkan, tekanan JLR semakin berat karena perusahaan harus membayar tarif AS yang lebih tinggi untuk kendaraan yang diekspor dari Inggris dan Slovakia. Di sisi lain, Cina menjadi salah satu pasar yang mengalami penurunan penjualan paling besar bagi JLR.

Pemangkasan tenaga kerja tersebut menunjukkan tekanan yang sedang dihadapi produsen otomotif Eropa ketika harus menjalankan transformasi menuju kendaraan listrik sekaligus menghadapi kompetisi harga dan teknologi dari produsen Cina. Langkah serupa juga terjadi di perusahaan otomotif lain, termasuk Volkswagen yang baru-baru ini menyetujui rencana pengurangan tenaga kerja dalam skala lebih besar.

Editorial Team

Related Article