Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Manufaktur Indonesia Masuk Zona Kontraksi, Produksi Menurun
ilustrasi manufaktur, industri, karyawan pabrik, pabrik baja (magnific.com/fanjianhua)
  • PMI Manufaktur Indonesia turun dari 50,2 pada Juli menjadi 49,8 pada Agustus 2026, menandakan aktivitas kembali berkontraksi akibat produksi dan tenaga kerja yang melemah.

  • Pesanan baru kembali tumbuh tipis setelah tiga bulan, tetapi permintaan lemah, persaingan ketat, dan kenaikan harga membuat perusahaan menahan pembelian serta menyesuaikan produksi dan pekerja.

  • Tekanan inflasi mereda meski biaya input-output masih tinggi; di tengah backlog dan stok bahan baku yang meningkat, optimisme pelaku industri mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mei 2025

Penurunan persediaan pascaproduksi pada Agustus setara dengan laju yang tercatat pada Mei 2025.

April

Kepercayaan pelaku industri mencapai titik terendah sebelum terus membaik.

Juli

PMI Manufaktur Indonesia berada di level 50,2. Laju kenaikan backlog lebih cepat dibandingkan Agustus.

Agustus 2026

PMI turun ke 49,8 dan kembali menunjukkan kontraksi. Produksi serta jumlah tenaga kerja menurun, sementara pesanan baru masuk wilayah ekspansi secara tipis.

Selasa (1/9)

Maryam Baluch menyampaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia sedikit memburuk pada Agustus.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    PMI Manufaktur Indonesia turun ke 49,8 pada Agustus 2026 dan kembali masuk zona kontraksi.
  • Who?
    Industri manufaktur Indonesia, perusahaan manufaktur, S&P Global, dan ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch.
  • Where?
    Indonesia.
  • When?
    Agustus 2026, dengan data dirilis dalam keterangan Maryam pada Selasa (1/9).
  • Why?
    Produksi melemah akibat persaingan ketat, permintaan lemah, dan kenaikan harga barang; kebutuhan produksi yang berkurang juga menekan tenaga kerja.
  • How?
    PMI turun dari 50,2 pada Juli menjadi 49,8, sementara produksi dan jumlah tenaga kerja kembali menyusut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada Agustus, pabrik di Indonesia sedang agak susah. Angka PMI turun jadi 49,8. Banyak pabrik membuat barang lebih sedikit dan pekerjanya berkurang. Maryam Baluch bilang permintaan masih netral. Sekarang pesanan baru mulai naik sedikit, tetapi pabrik masih menghadapi biaya tinggi dan persaingan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masuknya indeks pesanan baru ke wilayah ekspansi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan memberi ruang perbaikan di tengah tekanan manufaktur. Perusahaan juga mulai meningkatkan pembelian untuk memenuhi pesanan baru, sementara kepercayaan pelaku industri pada Agustus mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan setelah pulih sejak April.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali tertekan pada Agustus 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli. Penurunan ini membawa PMI kembali ke bawah level 50 yang menandakan kontraksi aktivitas manufaktur.

Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh kembali melemahnya produksi dan penurunan jumlah tenaga kerja. Keduanya mengalami penurunan dalam lima dari enam periode survei terakhir. Ini menunjukkan tekanan terhadap aktivitas industri masih berlanjut di tengah kondisi permintaan yang belum sepenuhnya pulih.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Maryam Baluch, mengatakan kondisi sektor manufaktur Indonesia sedikit memburuk pada Agustus. Produksi kembali turun, sementara ketenagakerjaan membalikkan perbaikan yang sempat tercatat pada bulan sebelumnya.

“Data PMI terbaru menunjukkan kondisi sektor manufaktur Indonesia sedikit memburuk, karena produksi kembali menurun dan ketenagakerjaan membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi permintaan secara umum berada dalam kondisi netral,” kata Maryam dalam keterangannya, Selasa (1/9).

Penurunan produksi pada Agustus disebabkan oleh sejumlah faktor, mulai dari persaingan yang makin ketat, kondisi permintaan yang masih lemah, hingga kenaikan harga barang. Situasi tersebut membuat perusahaan menyesuaikan tingkat produksinya dengan kebutuhan pasar.

Sejalan dengan penurunan produksi, jumlah tenaga kerja manufaktur juga kembali menyusut. Sejumlah perusahaan mengurangi tenaga kerja karena kebutuhan produksi berkurang. Perusahaan lainnya menghadapi kesulitan mempertahankan jumlah pekerja akibat pengunduran diri secara sukarela.

Di sisi lain, pekerjaan yang belum terselesaikan atau backlog kembali meningkat untuk dua bulan berturut-turut. Meski penumpukannya masih dalam tingkat moderat, laju kenaikannya lebih lambat dibandingkan dengan Juli.

Tekanan terhadap manufaktur sedikit tertahan oleh perbaikan permintaan baru. Indeks pesanan baru masuk ke wilayah ekspansi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, meskipun hanya sedikit di atas level netral 50. Artinya, kenaikan pesanan baru masih sangat tipis.

Sebagian perusahaan melaporkan adanya perbaikan permintaan dan peningkatan permintaan pelanggan. Namun, kondisi tersebut masih diimbangi laporan mengenai lemahnya permintaan, persaingan yang kian ketat, serta penurunan daya beli pelanggan.

Dari sisi aktivitas pembelian, perusahaan manufaktur cenderung menahan diri. Setelah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut, aktivitas pembelian tidak berubah pada Agustus. Sejumlah perusahaan meningkatkan pembelian untuk memenuhi pesanan baru, tetapi perusahaan lainnya justru mengurangi pembelian karena arus masuk pesanan masih lemah.

Persediaan bahan baku juga mulai meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meski tipis saja. Beberapa perusahaan memilih menambah stok pengaman guna mengantisipasi potensi kenaikan harga bahan baku.

Sementara itu, persediaan pascaproduksi kembali turun untuk bulan keempat berturut-turut. Penurunannya berada pada tingkat sedang dan menjadi yang tercepat dalam lebih dari empat tahun, setara dengan yang terjadi pada Mei 2025.

Dari sisi harga, tekanan inflasi kembali mereda pada Agustus. Meski demikian, inflasi harga input dan output masih berada pada tingkat tinggi secara historis. Tingginya harga bahan baku serta kenaikan biaya dari pemasok masih menekan biaya operasional perusahaan, yang dalam sejumlah kasus diteruskan kepada konsumen.

Di tengah tekanan tersebut, kepercayaan pelaku industri justru terus membaik sejak mencapai titik terendah pada April. Tingkat optimisme pada Agustus mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan.

Maryam mengatakan kondisi tersebut menunjukkan produsen masih memiliki harapan terhadap prospek industri manufaktur dalam setahun ke depan.

“Tekanan inflasi kembali mereda. Selain itu, kepercayaan bisnis juga terus pulih sejak bulan April, menunjukkan bahwa meskipun kinerja sektor secara keseluruhan masih lemah, produsen tetap berharap produksi akan meningkat selama 12 bulan mendatang,” katanya.

Namun, untuk saat ini, sektor manufaktur masih menghadapi tantangan berupa lemahnya produksi, tekanan biaya, persaingan, serta penyesuaian tenaga kerja. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article