Jakarta, FORTUNE - Proyek gasifikasi batu bara menjadi methanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur resmi dimulai.
Fasilitas yang dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan dari dua anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yaitu PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) itu ditargetkan menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan pengembangan fasilitas tersebut akan memanfaatkan lahan sekitar 93 hektare di kawasan BCIP, dan termasuk dalam proyek strategis nasional karena menjadi upaya pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batubara.
"Proyek tersebut merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," kata Yuliot saat groundbreaking Gasifikasi Batubara di Belangon, Senin (31/8).
Untuk mencapai target produksi tersebut, BEC mengolah sekitar 7,70 juta-7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg setiap tahun menjadi metanol berstandar International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
"Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplayer effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi," ujar Yuliot.
Guna menunjang kegiatan operasional, fasilitas gasifikasi akan dilengkapi reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Teknologinya juga disiapkan untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS).
Metanol hasil pengolahan pabrik tersebut nantinya dipasok untuk kebutuhan industri, khususnya petrokimia dan formaldehida. Komoditas tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan fatty acid methyl ester (FAME) serta program B50.
Yuliot menilai keberdaan hilirisasi BEC dapat menjadi model bagi perusahaan batubara lainnya, mengingat besarnya potensi batubara berkalori rendah di Kalimantan dan Sumatera.
