Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Wawancara Eksklusif Batik Keris: dari Suksesi hingga Upaya Inovasi

Batik Keris-Profile-008.jpg
Andy Rusli, Generasi Ketiga Batik Keris. (Dok. Maulana Surya)

Jakarta, FORTUNE - Kendala suksesi hingga pandemi sempat memukul Batik Keris hingga memangkas jumlah toko dan menghentikan ekspor. Seiring waktu, Batik Keris bertumbuh, sempat jatuh, hingga kini mencoba kembali berlari.

Handianto Tjokrosaputro masih berusia belasan tahun saat ayahnya, Kasom Tjokrosaputro tutup usia pada 1976. Kepergian Kasom tak hanya membuat Handianto kehilangan sosok ayah, tapi juga mentornya. Praktis, ia pun tak punya banyak waktu mempelajari seluk-beluk di balik lahirnya Batik Keris dari sang ayah.

Untungnya, masih ada sang ibu, Gaitini, yang memang aktif mengelola bisnis batik rumahan keluarga sepeninggal sang suami. Sebelum terpisah maut, sejoli itu memang akrab dengan dunia batik karena latar belakang keluarga masing-masing. Tak ayal, setelah menikah, keduanya memutuskan merintis usaha batik rumahan di Nonongan, Kota Solo, pada 1947.

Setidaknya, begitulah cerita yang dituturkan oleh Handianto kepada Andy Rusli, sosok menantu yang kelak mengelola Batik Keris. Andy telah menikah dengan putri sulung Handianto, Elvina Tjokrosaputro sejak 2016.

Andy dan Handianto sering berdiskusi soal urusan bisnis dan personal. “Sebetulnya beliau pun tidak pernah bekerja sama dengan papanya, Pak Kasom, karena beliau meninggal di usia muda,” katanya kepada Fortune Indonesia (20/10/2025) di Solo.

Usaha batik itu tumbuh perlahan hingga pada 1970, Keluarga Tjokrosaputro mendirikan PT Perusahaan Dagang dan Industri Batik Keris. Handianto pun bergabung di bagian manufaktur. Saat itu perusahaan memang lebih fokus pada produksi tekstil secara masif, bahkan sampai mengekspor ke sejumlah negara.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan memisahkan lini bisnis menjadi entitas yang berdiri sendiri. “Waktu dari keluarga memutuskan untuk memisahkan [lini bisnis grup], Pak Handianto yang akhirnya pegang merek Batik Keris [di segmen ritel] ini. Jadi beliau serius di sana. Kira-kira pada 2000-an beliau baru sepenuhnya memegang merek ini,” kata Andy. “Sebelumnya, ramai-ramai [pengelolaannya]. It’s a family business.”

Di bawah kepemimpinan Handianto, Batik Keris memperkuat identitas sebagai produk budaya, bukan sekadar bahan sandang. Ia, misalnya, menggagas pembuatan CD lagu budaya untuk dibagikan kepada konsumen.

Contoh lainnya, restorasi ‘Omah Lowo’ menjadi Istana Heritage Batik Keris di Solo pada 2016. Rumah ini mulanya adalah rumah keluarga, Gaitini, yang sempat terbengkalai hingga banyak dihuni kelelawar. Proyek mahal itu dikerjakannya untuk memuaskan jiwa sentimental dan gairahnya terhadap pelestarian budaya.

Sayangnya, sebelum restorasi Omah Lowo rampung, Handianto tutup usia pada Desember 2018. Sama seperti Gaitini saat Kasom pergi, istri Handianto yang duduk di kursi komisaris pun turun gunung demi mempertahankan roda bisnis perusahaan. Namun, sebagai entitas bisnis, Batik Keris tetap membutuhkan manajemen aktif.

Sebelum mangkat, Handianto sebenarnya telah meminta Andy, sang menantu, untuk mengambil alih kepemimpinan. Namun, waktu itu Andy belum bisa menyanggupi karena masih harus mengelola bisnis keluarganya sendiri. Permintaan itu baru dapat Andy penuhi mulai 2024.

Dipercaya mengelola sebuah merek batik legendaris yang telah melalui puluhan dekade, rupanya tak menjadi beban bagi Andy. Sebab, keluarga Andy sendiri juga menggeluti usaha tekstil. “Sehingga ketika pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, apalagi historinya hampir sama, untuk saya, ini bukan sesuatu yang asing. Tapi sudah langsung, oh it feels like home, begitu,” katanya.

Banyak pekerjaan rumah yang harus Andy selesaikan begitu resmi mengelola Batik Keris. Sebab, sejak posisi manajemen kosong, ada banyak kegiatan yang terpaksa dihentikan, termasuk ekspor.

Sebelumnya, Batik Keris telah mengekspor produk ke negara-negara Asia seperti Singapura, Vietnam, dan Thailand. Tapi, selepas kepergian Handianto, proyek tersebut dibekukan. Situasi kian mengimpit saat pandemi melanda. Jumlah jaringan toko Batik Keris pun sempat menyusut dari sekitar 137 di bawah kepemimpinan Handianto, menjadi 60 pada 2024.

“Karena sejak Pak Handianto meninggal memang belum ada yang fokus [mengelola]. Jadi, dijalankannya hanya agar bisa hidup dulu saja. Asalkan jalan, begitu,” ujar Andy.

Kini, Andy berfokus untuk membawa Batik Keris kembali ekspansif. Untuk itu, hal pertama yang ia lakukan adalah meningkatkan produksi secara organik. Selama setahun terakhir, total karyawan bidang produksi Batik Keris pun melejit 300 persen. Tiga bulan terakhir, Andy juga membentuk tim riset dan pengembangan. Awalnya, Batik Keris tak punya tim khusus untuk bidang itu. Musababnya, perusahaan lebih fokus pada produksi kain dibandingkan produk pakaian jadi.

Andy ingin membuat terobosan. Hal itu tak terelakkan. Namun, ia juga menyadari bahwa batik sangat identik dengan dunia tradisional. “Kalau kita tak bisa berinovasi, tak memaksa Batik Keris ini masuk ke abad 21, tinggal tunggu waktu untuk ditinggalkannya kapan,” ujarnya.

Maka, ia menyesuaikan arah desain fesyen Batik Keris. Tujuannya, mengubah pandangan bahwa batik hanya bisa dipakai di acara formal oleh orang-orang tua. Visi besarnya, mentransformasi citra batik menjadi pakaian yang cocok untuk kehidupan sehari-hari.

Langkah itu membutuhkan kekuatan riset pasar. Para karyawan di toko menjadi ujung tombak dari langkah itu. Hasil riset itu menjadi landasan pengembangan produk Batik Keris saat ini. Contohnya, koleksi yang baru ditampilkan Batik Keris di Plaza Indonesia Fashion Week 2025.

“Waktu saya gabung setahun pertama, saya jalankan sendiri. Tapi sekarang kita mulai kumpulkan tim dengan kapabilitas. Yang memang mengetahui selera anak muda,” katanya.

Lalu, Batik Keris mendiversifikasi merek dengan meluncurkan Keris Gallery. Merek itu terdiri atas produk batik dan non-batik, tetapi harganya lebih terjangkau dibandingkan merek Batik Keris. Tujuannya, meningkatkan daya saing di antara merek-merek lain di level nasional. Per akhir Oktober 2025, sudah ada 10 Keris Gallery, yang tersebar di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Malang, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Business

See More

Profil dan Prospek Saham Petrosea (PTRO) di Tengah Ekspansi Proyek

14 Jan 2026, 15:39 WIBBusiness