Jakarta, FORTUNE - Bank Mandiri merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dari semula 5,2 persen menjadi lebih dari 5,3 persen.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina mengatakan ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan meski pertumbuhan pada kuartal II 2026 termoderasi.
Kuartal pertama pertumbuhannm ekonkmi mencapai 5,6 persen, sedangkan kuartal kedua 5,29 persen. Sehingga, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen.
"Sepanjang 2026 ini masih sangat resilient di tengah berbagai gejolak global yang terjadi. Sehingga, secara keseluruhan tahun kemungkinan bisa tumbuh di atas 5,3 persen," ujar Dian di Jakarta, Kamis (3/9).
Dian mengatakan, terdapat dua faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi, yakni belanja pemerintah dan investasi. Belanja pemerintah ditopang oleh program prioritas, seperti MBG, Koperasi Desa Merah Putih, serta belanja infrastruktur.
Sementara itu, investasi pada kuartal II tumbuh 6,9 persen dibandingkan kuartal I. Peningkatan tersebut terutama berasal dari investasi bangunan dan kendaraan.
Oleh karenanya Bank Mandiri menilai investasi di sektor infrastruktur termasuk sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan. Konsumsi rumah tangga pada kuartal II tumbuh 5,06 persen, lebih rendah dibandingkan kuartal I yang mencapai 5,5 persen.
Dian mengatakan, perlambatan tersebut terjadi pada berbagai kelompok pengeluaran. Namun, belanja pendidikan dan kesehatan masih tumbuh cukup tinggi sehingga turut menopang konsumsi rumah tangga pada kuartal II.
"Tapi tentunya kita tidak lupa yang kuartal I ini adalah periode yang musiman, secara musiman memang konsumsinya tinggi karena ada periode lebaran," ujarnya.
Sementara terkait suku bunga, Dian memperkirakan BI tetap menahannya hingga akhir tahun. Seperti diketahui, hingga akhir Agustus 2026, BI telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin sebagai upaya fokus menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan.
Ke depan, menurutnya kebijakan BI akan bergeser ke arah kebijakan makroprudensial, termasuk berbagai insentif guna menarik aliran modal asing, menjaga stabilitas rupiah, serta menopang likuiditas perbankan.
