Inflasi Agustus 2026 0,21 Persen, Harga Ayam Jadi Pendorong

BPS mencatat inflasi bulanan Agustus 2026 sebesar 0,21 persen, berbalik dari deflasi 0,14 persen pada Juli.
Makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama dengan inflasi 0,57 persen, terutama daging ayam ras berandil 0,17 persen.
Transportasi mengalami deflasi 0,50 persen yang menahan inflasi, dipicu tarif angkutan udara dan bensin.
Jakarta, FORTUNE — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi 0,21 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Angka ini berbalik dari deflasi 0,14 persen pada Juli 2026.
Secara tahunan, inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date) tercatat 1,86 persen. Kenaikan itu tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik pada Agustus 2026.
“Terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis berita resmi statistik, Selasa (1/9).
Table of Content
Penyumbang utama inflasi Agustus
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi pada Agustus 2026. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,57 persen. Sejumlah komoditas turut mendorong kenaikan harga pada periode tersebut.
Berikut kelompok dan komoditas yang memengaruhi inflasi Agustus 2026:
1. Daging ayam ras
Daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yatitu 0,17 persen. Selain daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing memberikan andil inflasi 0,02 persen.
BPS juga mencatat kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, dan semangka sebagai komoditas yang turut mendorong kenaikan harga. Masing-masing memberikan andil 0,01 persen. Dari kelompok tembakau, sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) memberikan andil inflasi masing-masing 0,01 persen.
2. Emas perhiasan
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 0,37 persen dan memberikan andil 0,03 persen terhadap inflasi Agustus. Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas utama pada kelompok tersebut. BPS mencatat harga emas perhiasan mengalami inflasi 0,75 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,02 persen.
3. Transportasi menahan inflasi
Kelompok transportasi bergerak berbeda dari dua kelompok sebelumnya. Pada Agustus 2026, kelompok ini mengalami deflasi 0,50 persen dan memberikan andil deflasi 0,06 persen.
Tarif angkutan udara menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap deflasi kelompok transportasi, dengan andil 0,06 persen. Bensin juga memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Secara tahunan, kondisi kelompok transportasi berbeda. BPS mencatat kelompok ini mengalami inflasi 4,79 persen dengan andil 0,58 persen terhadap inflasi tahunan. Komoditas yang mendorong inflasi tahunan transportasi antara lain bensin, tarif angkutan udara, oli mesin, sepeda motor, dan mobil.
Inflasi inti capai 2,92 persen
Dilihat berdasarkan komponennya, seluruh komponen inflasi mencatat kenaikan harga secara tahunan pada Agustus 2026. Inflasi inti berada di level 2,92 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 1,87 persen.
Kenaikan inflasi inti terutama dipengaruhi oleh emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, oli mesin, serta laptop atau notebook. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices mengalami inflasi 3,32 persen dengan andil 0,65 persen terhadap inflasi umum.
Komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi paling tinggi sebesar 4,06 persen dengan andil 0,67 persen. Daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah menjadi komoditas yang dominan mendorong inflasi pada komponen ini.
Inflasi Agustus di seluruh provinsi
BPS mencatat seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi secara tahunan pada Agustus 2026. Maluku Utara menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi, yakni 5,28 persen.Sementara itu, Kalimantan Utara mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 2,17 persen.
Secara kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,13 persen. Berikutnya adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,63 persen, serta transportasi dengan andil 0,58 persen.
Data BPS menunjukkan kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama inflasi bulanan Agustus. Di sisi lain, penurunan harga pada transportasi memberikan tekanan berlawanan terhadap pergerakan IHK.
Dengan realisasi tersebut, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan dan 1,86 persen secara tahun kalender. Angka bulanan sebesar 0,21 persen sekaligus membalikkan deflasi yang terjadi pada Juli 2026.
FAQ seputar inflasi Agustus 2026
Berapa inflasi Agustus 2026? Inflasi Agustus 2026 tercatat 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan.
Apa penyumbang utama inflasi Agustus 2026? Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan.
Berapa inflasi inti pada Agustus 2026? Inflasi inti secara tahunan tercatat 2,92 persen.
Kelompok apa yang mengalami deflasi pada Agustus 2026? Kelompok transportasi mengalami deflasi 0,50 persen secara bulanan.



















