FINANCE

BI Laporkan Hasil Stress Test Perbankan RI Kuat

Kondisi likuiditas yang kuat pengaruhi suku bunga.

BI Laporkan Hasil Stress Test Perbankan RI KuatDeputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti pada acara IFG International Conference 2022
11 July 2023
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan hasil stress test atau uji tekanan terhadap perbankan Indonesia cukup baik. BI memastikan likuiditas perbankan tetap longgar sehingga tumbuh positif untuk menyokong kredit dan pembiayaan. 

"Hasil stress test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan relatif kuat, ke depan Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan KSSK dalam memitigasi berbagai risiko ekonomi domestik dan global yang dapat menganggu ketahanan sistem keuangan" ujarnya dalam rapat di Badan Anggaran DPR RI, Senin (10/7).

Ketahanan sistem keuangan tersebut, khususnya perbankan, terlihat dari rasio kecukupan modal 25,54 persen pada April 2023.

Risiko kredit pun terkendali, tecermin pada rasio kredit bermasalah non-performing loan (NPL) yang relatif rendah, yakni 2,53 persen secara bruto dan secara neto 0,78 persen pada April 2023.

Kemudian, hingga akhir Mei 2023 rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga tetap tinggi, yakni 27,5 persen. Menurut Destry, hasil ini sejalan dengan stance kebijakan likuiditas longgar BI.

"Kondisi likuiditas yang terjaga dan kuat tersebut mempengaruhi perkembangan suku bunga yang kondusif terhadap permintaan kredit atau pembiayaan," katanya.

Di pasar uang, suku bunga overnight cukup rendah, yaitu 5,91 persen, sementara imbal hasil SBN tenor pendek dan panjang masing-masing 5,81 persen dan 6,25 persen.

Sementara suku bunga deposito satu bulan dan suku bunga kredit pada Mei 2023 juga tercatat rendah, masing-masing 4,13 persen dan 9,37 persen.

Terjaganya tingkat suku bunga kredit yang relatif rendah tersebut didukung pula oleh suku bunga dasar kredit yang relatif stabil di tingkat 8,8 persen.

"Bank Indonesia akan terus pastikan kecukupan likuiditas untuk dorong berlanjutnya kredit atau pembiayaan guna mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional," ujarnya.

Perkuat sinergi dengan pemerintah 

Dalam kesempatan tersebut, Destry juga menyampaikan bauran kebijakan BI pada 2023 juga akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam hal ini, fokus kebijakan diarahkan pada penguatan stabilisasi nilai rupiah untuk mengendalikan inflasi barang impor dan memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global.

"Kebijakan likuiditas dan makroprudential longgar akan terus dilanjutkan untuk mendorong penyaluran kredit, pembiayaan dan tetap mempertahankan terjaganya stabilitas sistem keuangan," katanya.

Setelah kenaikan kebijakan suku bunga terakhir pada RDG Januari 2023, hingga saat ini BI masih memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada 5,75 persen.

"Ini konsisten dengan stance kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran 3+/-1 persen pada sisi tahun 2023. BI juga terus memperkuat operasi moneter untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter," ujarnya.

BI juga akan terus memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah, khususnya melalui strategi triple intervention dan twist operation untuk mengendalikan inflasi barang impor dan memitigasi risiko rambatan pasar keuangan global.

Dalam hal ini, Destry menambahkan BI akan terus melakukan tiga upaya. Pertama, melakukan intervensi di pasar valas dengan transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Kedua, kebijakan twist operation akan dilakukan dengan penjualan SBN di pasar sekunder untuk tenor pendek.

"Ini tentunya diharapkan bisa meningkatkan attractiveness dari SBN sehingga dapat mengundang masuknya investor asing di portofolio SBN," katanya.

Ketiga, dengan mengoptimalkan instrumen operasi pasar valas devisa hasil ekspor (DHE), yaitu term deposit (TD) valas DHE sebagai instrumen penempatan DHE oleh eksportir melalui bank kepada BI.

"Serta penambahan frekuensi dan tenor lelang TD valas jangka pendek dengan suku bunga yang kompetitif," ujarnya.

Related Topics