Konflik AS-Iran Bisa Ganggu Kinerja Bank, BI Diharap Bisa Antisipasi

- Konflik AS-Iran dapat mengganggu kinerja perbankan nasional
- BI diharapkan dapat mengantisipasi dampak negatif dengan memperkuat koordinasi dengan perbankan dan korporasi
- Kredit masih tumbuh 7,74%, likuiditas bank terjaga
Jakarta, FORTUNE – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak hanya mengganggu ekonomi global secara keseluruhan, melainkan dikhawatirkan akan mengganggu kinerja dari perbankan nasional.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede memandang, ketika risiko konflik naik, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Sehingga, negara berkembang seperti Indonesia bisa menghadapi tekanan pada nilai tukar, arus modal, dan biaya pendanaan pemerintah maupun korporasi.
“Dampaknya biasanya berantai yakni rupiah melemah, imbal hasil SBN naik, biaya bunga dan biaya dana perbankan terdorong tinggi, lalu investasi dan konsumsi yang sensitif terhadap suku bunga ikut tertahan,” kata Josua saat dihubungi Fortune Indonesia di Jakarta, Senin (19/1).
Ia menilai, dengan naiknya bunga & biaya dana dikhawatirkan bakal memperlambat penyaluran kredit. Pada saat yang sama, Bank Indonesia (BI) diharapkan dapat mengantisipasi dampak negatif tersebut dengan memperkuat koordinasi dengan perbankan dan korporasi agar kebutuhan valuta asing untuk impor energi dan pembayaran utang tidak menumpuk.
“Pada waktu yang sama, BI juga perlu mendorong praktik pengelolaan risiko kurs, serta menjaga komunikasi kebijakan yang konsisten agar pelaku usaha tidak membentuk ekspektasi inflasi yang terlalu tinggi,” kata Josua.
Kredit masih tumbuh 7,74%, likuiditas bank terjaga

Kinerja intermediasi perbankan tercatat masih meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai. Berdasarkan data OJK, kredit perbankan mampu tumbuh 7,74 persen (YoY) menjadi sebesar Rp8.314 triliun pada November 2025, .
Kredit tersebut terutama dikontribusikan dari pertumbuhan pada sektor pengangkutan dan pergudangan sebesar 18,33 persen, pengadaan listrik, gas, dan air sebesar 21,83 persen, industri pertambangan sebesar 11,0 persen, serta konstruksi sebesar 8,14 persen.
“Hal ini menunjukkan perbankan telah mampu mengatasi berbagai tantangan dalam penyaluran kredit dan sektor riil telah mulai menunjukkan perbaikan permintaan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae melalui keterangan tertulis.
Dian menyebut, hingga saat ini kinerja perbankan nasional masih solid meskipun terdapat ketidakpastian dari ekonomi global. Untuk tahun 2026, OJK memproyeksikan kinerja perbankan diproyeksikan tetap solid, dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang tetap stabil, ditopang oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat.
Likuiditas industri perbankan pada November 2025 tercatat memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 131,49 persendan 29,67 persen, atau masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 210,38 persen, sementara LDR tercatat sebesar 83,99 persen dan masih terdapat ruang dalam mengantisipasi peningkatan kredit.


















