Jakarta, FORTUNE – PT Avrist Assurance melihat ruang pertumbuhan pada bisnis asuransi kesehatan seiring perbaikan kualitas portofolio dan pengendalian klaim. Perusahaan mencatat rasio klaim bisnis kesehatan medis berada di kisaran 74-75 persen, sementara kebutuhan proteksi kesehatan masyarakat masih menjadi salah satu penopang permintaan produk asuransi.
Perbaikan rasio klaim tersebut menjadi penting bagi perusahaan asuransi karena pertumbuhan premi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola biaya klaim. Bagi Avrist, segmen kesehatan kumpulan atau grup menjadi salah satu kontributor penting terhadap pendapatan premi perusahaan.
Pjs Presiden Direktur sekaligus Direktur Keuangan Avrist Assurance, Agus Setiawan, mengatakan perusahaan melihat perkembangan positif pada kualitas klaim bisnis kesehatan.
“Itu kita lihat bahwa tren klaim-nya itu membaik,” ujarnya, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (3/9).
Direktur Bisnis & IT Avrist Assurance, Aldi Rinaldi, mengatakan pertumbuhan bisnis asuransi kesehatan secara industri terjadi baik dari sisi premi maupun klaim. Namun, kontribusi premi terbesar masih berasal dari segmen grup dibandingkan individu.
Menurut Aldi, kualitas bisnis kesehatan, terutama pada segmen grup, mulai menunjukkan perbaikan seiring meningkatnya koordinasi di antara berbagai pihak dalam ekosistem kesehatan. Kondisi tersebut dinilai dapat membantu perusahaan asuransi mengelola klaim secara lebih terukur.
“Sinergi dari semua stakeholder industri asuransi kesehatan, di mana ada rumah sakit, ada OJK (Otoritas Jasa Keuangan) di dalamnya sebagai regulator, dan kita sebagai perusahaan asuransi yang meng-cover asuransi kesehatan. Plus juga dari sisi keadaan kesehatannya, ada BPJS dan juga ada Kementerian Kesehatan,” ucap Aldi.
Perbaikan tata kelola tersebut juga berlangsung setelah regulator memperkuat ketentuan mengenai ekosistem asuransi kesehatan. Aldi mengatakan implementasi Peraturan OJK (POJK) Nomor 36 Tahun 2025 tentang Penguatan Ekosistem Asuransi Kesehatan mendorong perusahaan memenuhi sejumlah persyaratan dalam pengelolaan bisnis kesehatan.
Ketentuan tersebut antara lain berkaitan dengan penguatan tata kelola, pengelolaan klaim, serta koordinasi antarpelaku dalam ekosistem kesehatan. Bagi industri, penguatan tersebut diarahkan untuk membentuk bisnis asuransi kesehatan yang lebih sehat sekaligus meningkatkan efisiensi pembiayaan kesehatan.
Di sisi lain, pemerintah juga memiliki agenda menekan porsi pengeluaran kesehatan yang harus dibayarkan langsung oleh masyarakat atau out of pocket. Besarnya biaya yang masih ditanggung masyarakat secara langsung membuka ruang bagi lembaga penjamin, termasuk perusahaan asuransi swasta, untuk mengambil peran lebih besar.
“Di Avrist sendiri kita bertumbuh (premi) dibandingkan tahun lalu, pertumbuhan kita cukup bagus dari sisi asuransi kesehatan. Namun harus juga melihat dari sisi klaim,” ujarnya.
Dari sisi klaim, Aldi menyebut kondisi bisnis kesehatan Avrist kini lebih terkendali. Secara keseluruhan, rasio klaim berada di kisaran 75-80 persen, sedangkan khusus bisnis medis berada sekitar 74 persen.
“Kalau bicara grup itu ada medical, jiwa, segala macam, tapi secara medical kita di angka 74 persen. Jadi artinya bagus secara bisnis untuk asuransi kesehatan kumpulan,” kata Aldi.
