FINANCE

Awali 2024, BI Tahan Bunga Acuan di Level 6%

Ekonomi global di 2024 diprediksi tumbuh lambat 2,8%.

Awali 2024, BI Tahan Bunga Acuan di Level 6%Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI)/FortuneIDN Suheriadi

by Suheriadi

17 January 2024

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia (BI) mempertahankan Suku Bunga Acuan BI-Rate sebesar 6,00 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Januari 2024. Selain itu, untuk suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan, keputusan mempertahankan BI-Rate konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu untuk penguatan stabilitas nilai tukar Rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2024.

“Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung Pertumbuhan Ekonomi yang berkelanjutan,” kata Perry di Kantor BI Jakarta, Rabu (17/1).

Ia menambahkan, kebijakan makroprudensial yang longgar terus ditempuh untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan kepada dunia usaha dan rumah tangga.

Ekonomi global di 2024 diprediksi tumbuh lambat 2,8%

Ilustrasi resesi ekonomi global.Ilustrasi resesi ekonomi global. (Pixabay/Elchinator)

Dari sisi eksternal, BI memandang ekonomi global diperkirakan tumbuh sebesar 3,0 persen pada 2023. Bahkan, pertumbuhan ekonomi diyakini bakal melambat menjadi 2,8 persen pada 2024. Meski demikian, ekonomi Amerika Serikat (AS) dan India tetap kuat didukung konsumsi rumah tangga dan investasi.

Sementara itu, ekonomi Tiongkok juga diprediksi melambat seiring dengan tetap lemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi sebagai dampak lanjutan dari pelemahan kinerja sektor properti, serta terbatasnya stimulus fiskal.

“Yield obligasi Pemerintah negara maju, termasuk US Treasury, menurun secara gradual tapi masih berada di level tinggi sejalan dengan premi risiko jangka panjang atau term-premia terkait besarnya pembiayaan fiskal dan utang pemerintah AS,” kata Perry.

Perry menambahkan, tekanan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia juga berkurang. Perkembangan tersebut mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing dan mengurangi tekanan pelemahan nilai tukar di emerging market, termasuk Indonesia. 

Meski demikian, ke depannya beberapa risiko global tetap perlu dicermati karena dapat mempengaruhi ketidakpastian perekonomian dunia, seperti berlanjutnya ketegangan geopolitik, pelemahan ekonomi di sejumlah negara utama, termasuk Tiongkok, serta kepastian waktu dan besarnya penurunan suku bunga moneter negara maju, khususnya FFR.

Ekonomi RI diperkirakan tumbuh 5,5% di 2024

Sejumlah pedagang menata sayur dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (2/2/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat