Comscore Tracker
FINANCE

Pasca Holding UMi, PNM Optimis miliki 12 Juta nasabah hingga 2022

Gerai bersama UMi sudah ada di 54 titik.

Pasca Holding UMi, PNM Optimis miliki 12 Juta nasabah hingga 2022Ilustrasi Pegawai PNM/Dok. PNM

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE – Hadirnya Holding Ultra Mikro (UMi) mendorong PT Permodalan Nasional Madani (Persero) (PNM) semakin agresif menjangkau pelaku usaha prasejahtera. BUMN yang basis bisnisnya melakukan pemberdayaan ekonomi kaum ibu tersebut optimistis dapat menambah nasabah menjadi lebih dari 12 juta pada 2022. 

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Arief Mulyadi mengatakan, perseroan hingga saat ini telah melakukan pemberdayaan sekaligus pembiayaan pada sekitar 10,8 juta nasabah. Pada 2022, ia berharap perseroan bisa mengakuisisi lebih dari 1,2 juta nasabah baru. 

Arief menyebut target tersebut cukup realistis seiring dengan penguatan ekosistem usaha yang lebih baik melalui Holding UMi, bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. selaku induk dan PT Pegadaian (Persero). "Untuk tahun depan, memang kami sedang menghitung ulang. Kami justru berharap lebih tinggi dari itu (12 juta) nasabah," kata Arief melalui keterangan resminya do Jakarta (1/10). 

Adapun untuk saat ini Arief mengatakan, perseroan masih tetap konsisten dengan target yang telah ditentukan pada awal tahun 2021. Kendati telah tergabung dalam Holding UMi, pihaknya akan secara konsisten menjaga keberlangsungan dan semangat usaha nasabah yang sudah ada. Artinya, Holding UMi tak akan mengubah kualitas layanan dan produk jasa keuangan. Namun akan memperkuat apa yang telah dilakukan PNM selama ini. 
 

Gerai bersama UMi sudah 54 titik

Sementara itu terkait sinergi layanan bersama dalam Holding UMi melalui integrasi gerai bersama atau co-location, menurut Arief, sejauh ini telah berjalan di 54 titik dan menuju 78 titik. Perseroan pun optimistis penambahan integrasi kantor fisik masih akan bertambah lebih banyak lagi pada kuartal keempat 2021 dan berlanjut tahun depan. 

Dengan demikian, lanjut dia, ekosistem pembiayaan dan pemberdayaan usaha ultra mikro melalui Holding UMi akan menjadi lebih kuat ke depannya. Arief pun menyebut dengan Holding UMi lebih banyak memberikan nasabah manfaat. 

“Tadinya PNM tidak bisa lakukan bisa didukung oleh BRI sebagai induk holding dan Pegadaian sebagai sesama anggota holding. Dan ada jaminan penuh dengan efisiensi dan efektifitas proses yang akan kami lakukan bersama, Insya Allah segera bisa kami berikan keringanan beban bunga atau margin pada para nasabah," ujar Arief.

Menghitung bunga pinjaman

Adapun terkait biaya layanan jasa keuangan, pihaknya sudah mengkalkulasi beberapa hal seperti potensi beban dana, beban operasional, serta beban lainnya yang dapat ditekan dengan kehadiran Holding UMi dan akan ditransmisikan pada beban cicilan kredit usaha wong cilik. 

Dengan demikian, kata dia, PNM bisa lebih agresif dalam membantu pelaku usaha mikro naik kelas. Yakni melalui pembinaan yang semakin masif dan penyaluran pinjaman modal produktif dengan bunga cicilan yang lebih ringan. 

Dengan kolaborasi ketiga entitas BUMN, PNM cukup optimistis nasabah program Mekaar akan memperoleh keuntungan penurunan bunga pinjaman sekitar 3 persen. Sinergi itu pun akan semakin menguntungkan masyarakat kecil karena dapat mengoptimalkan peran pemberdayaan PNM dengan penurunan biaya overhead sekitar 8 persen. 

Ditegaskan pula, integrasi ketiga entitas BUMN tersebut dinilai bakal membentuk ekosistem usaha UMi yang kuat dengan menjaga, dan mempertahankan pendekatan pemberdayaan sosial PNM. "Ekosistemnya tentu akan menjadi lebih besar. Pelaku (usaha) ultra mikro dapat menjalin kerja sama dengan pelaku usaha menengah, bahkan korporasi, secara langsung," ungkap Arief. 

Senada, Direktur Kelembagaan dan Perencanaan PNM Sunar Basuki mengatakan salah satu harapan besar dari pembentukan holding adalah untuk menurunkan biaya cicilan. Hal itu harus ditempuh agar kehadiran negara lewat BUMN lebih terasa dalam mendukung kinerja pelaku usaha di tataran bawah secara langsung. Terlebih langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat grass root economy. "Hal ini juga sejalan untuk mendukung kinerja pelaku usaha ultra mikro lebih baik lagi di masa pemulihan ekonomi," ujarnya.

Aset PNM sudah Rp38,15 triliun

Berdasarkan laporan keuangan PNM aset perseroan tumbuh dari Rp31,66 triliun pada Desember 2020 menjadi Rp38,15 triliun per Juni 2021. Kontribusi terbesar dari komponen pembiayaan yang diberikan atau piutang pembiayaan kepada nasabah, yang meningkat dari Rp22,08 triliun menjadi Rp28,3 triliun pada periode yang sama. 

Pendapatan bunga dan syariah kotor pun naik dari Rp2,52 triliun per Juni 2020 menjadi Rp3,61 triliun per Juni 2021. Setelah dikurangi beban operasional, pendapatan bersih tumbuh 53,6 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp2,52 triliun pada paruh pertama 2021 dari sebelumnya Rp1,64 triliun. 

Setelah ditambah beberapa komponen lain dan dikurangi beban usaha, laba sebelum pajak perseroan naik menjadi Rp427,33 miliar dari sebelumnya Rp153,12 miliar pada Juni 2020.

Related Articles