Comscore Tracker
FINANCE

Krisis Credit Suisse, Akankah Seperti Lehman Brothers?

Credit Suisse alami berbagai problem, investor pun cemas.

Krisis Credit Suisse, Akankah Seperti Lehman Brothers?ilustrasi cash flow (unsplash.com/ Sharon McCutcheon)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Saham Credit Suisse sempat anjlok ke level terendah sepanjang masa pada Senin (3/10) waktu setempat, sebelum mengakhiri perdagangan dengan penurunan 0,93 persen.

Dalam setahun belakangan, saham Credit Suisse bahkan merosot 56,95 persen dari 9,15 Swiss Franc menjadi 3,94 Swiss Franc. Belum lagi, credit default swaps (CDS) Credit Suisse tenor 5 tahun sempat melesat 355 basis poin pada Senin, rekor tertingginya.

Kepala Eksekutif Credit Suisse, Ulrich Körner merilis memo guna meyakinkan klien dan staf ihwal kondisi keuangan perusahaan. “Saya yakin Anda dapat membedakan kinerja harga saham harian kami dengan basis modal yang kuat dan posisi likuiditas bank,” katanya, dikutip dari The Guardian.

Credit Suisse tengah menyiapkan berbagai rencana untuk mengatasi problem keuangannya, yang di antranya dikabarkan akan mencakup pemutusan hubungan kerja, penjualan aset, hingga meminta investor kembali menyetorkan dana tunai. Strategi final akan diumumkan pada 27 Oktober mendatang.

Perspektif analis

Credit Suisse telah merugi besar tahun lalu akibat mendukung Archegos Capital Management. Para investor pun harap-harap cemas. Sebagai bank terbesar Eropa, tren itu pun menimbulkan kekhawatiran tersendiri di bidang keuangan dunia. Di pasar pun timbul kekhawatiran Credit Suisse terancam berujung seperti Lehman Brothers.

Lantas, benarkah kondisinya seburuk itu? Sejumlah analis justru menilai situasi Credit Suisse belum seburuk itu. Analis Citigroup Inc, Keith Horowitz, kondisi saat itu dan saat ini berbeda dari segi fundamental. Dus, ia belum melihat dampak sistemik dari krisis yang dialami Credit Suisse.

“Dibanding dengan saat jatuhnya Lehman Brothers yang mendorong krisis keuangan dunia, bank-bank AS kini memiliki lebih banyak modal,” katanya, dilansir dari Reuters.

Sebelumnya, Deutsche Bank pada 2016 dan 2017 pernah alami situasi serupa ketika CDS-nya juga melonjak. Pada 2011, Morgan Stanley juga melalui kesulitan serupa. Pada akhirnya, keduanya bisa lewati krisis tersebut.

“Ini bukan tahun 2008,” imbuh Analis Citigroup Inc lain, Andrew Coombs, dikutip dari Bloomberg.

Tapi, reaksi pasar saham terhadap lonjakan biaya CDS memang mengindikasikan berkurangnya opsi bagi bank raksasa Swiss itu dalam meninjau strategi daruratnya. Para investor cemas tentang cara bank tersebut menutupi biaya–yang diproyeksi analis mencapai US$4 miliar–serta pengaruhnya terhadap rasio modal inti 13,5 persen.

Jika salah satu opsi yang diambil berupa peningkatan modal, Analis Perbankan Bloomberg, Alison Williams, mengatakan, “Akan sulit untuk menstabilkan saham saat jumlah potensi penerbitan dan dilusi tak diketahui. Kondisi pasar yang kesulitan menambah ketidaksabaran.”

Bila bank itu mempertimbangkan memperdagangkan surat utang, Williams ragu akan tingkat likuiditasnya di tengah tekanan suku bunga The Fed.

Analis Bank di Vontobel, Andreas Venditi, menilai aset itu bisa lebih mudah dijual jika dilakukan satu atau dua tahun lalu. “Karena permintaan untuk aset berisiko lebih tinggi,” ujarnya.

Related Articles