Comscore Tracker
LUXURY

Cetak Rekor Margin, Hermes Pulihkan Penjualan di Cina

Kemewahan Hermes tetap diminati di tengah ancaman resesi.

Cetak Rekor Margin, Hermes Pulihkan Penjualan di CinaLogo Hèrmes dan syal Hèrmes sutra antik tahun 1970-an seri Brides de Gala. Shutterstock/Fortgens Photography

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Di tengah perlambatan ekonomi global dan ancaman resesi, peritel barang mewah, Hermes, justru membukukan peningkatan kinerja keuangan.  Pembuat tas mewah Birkin itu menikmati pertumbuhan pendapatan di kuartal kedua berkat peningkatan permintaan di pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS). Hermes juga mampu mengungguli para pesaingnya di  Cina saat negeri itu melonggarkan lockdown pada Juni silam.

Melansir Reuters, Selasa (2/8), pengecer barang mewah termasuk yang sangat terdampak oleh pembatasan di kota-kota utama Cina seperti Shanghai dan Beijing, sejak pertengahan Maret lalu.

Awal pekan ini, banyak peritel merek mewah melaporkan penurunan penjualan triwulan lebih dari 30 persen di Cina, yang merupakan pasar penting bagi industri. LVMH dan Kering pun tetap berhati-hati dalam menilai laju pemulihan pasar mereka di Cina. Hermes kini lebih optimistis dalam memandang pasar Cina

Penjualan terus tumbuh

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1937 di Paris oleh Thierry Hermès ini mengungkapkan, penjualannya telah tumbuh dalam persentase dua digit pada Juni dan mempertahankan kinerja yang baik di bulan ini.

Kembalinya turis AS ke Eropa juga menjadi salah satu pendorong penjualan. Tercatat pendapatan keseluruhan dalam tiga bulan hingga Juni mencapai US$2,76 miliar atau tumbuh 19,5 persen jika didasarkan atas nilai tukar yang konstan. Angka pertumbuhan itu jauh diatas proyeksi. Hermes juga mengalahkan perkiraan pasar dengan membukukan pertumbuhan margin operasi hingga angka rekor 42 persen pada paruh pertama tahun ini. 

Itu adalah level tertinggi di industri dan pencapaian yang cukup besar mengingat Hermes dalam beberapa bulan terakhir menaikkan harga lebih rendah daripada pesaing seperti LVMH dan Chanel.

Namun, margin keuntungan diprediksi turun pada paruh kedua tahun ini karena perusahaan meningkatkan investasi dalam e-commerce dan periklanan, menyusul pembatasan acara di Cina selama pembatasan Covid-19. Hermes juga menaikkan gaji di Eropa, kata eksekutif kepada analis dalam panggilan konferensi. 

Perusahaan juga tidak berencana untuk menaikkan harga lebih lanjut tahun ini di atas rata-rata 4 persen yang sudah diterapkan untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan baku dan logam mulia.

Tangguh berkat reputasi

Konsumen barang-barang mewah sejauh ini telah menepis kenaikan biaya hidup dan kekhawatiran tentang resesi yang menjulang, tetapi para eksekutif industri semuanya mengakui bahwa prospek untuk sisa tahun ini tidak pasti.

Hermes telah lama menjadi pemain paling stabil di industri barang mewah. Sukses ini berkat kepiawaian manajemen produksi dan stok yang cermat, yang membantunya mempertahankan aura eksklusivitas.

Berbagai model tas Birkin, yang harganya berkisar lebih dari US$10.000 bahkan masih amat dinanti pembeli hingga selalu muncul daftar antre. Banyaknya peminat Birkin mengakibatkan harga jual kembali tas itu selalu tinggi. Ini semakin menambah daya tarik Birkin, yang memiliki reputasi sebagai barang mewah yang kebal terhadap tren mode dan krisis ekonomi.

"Hasil ini menegaskan bahwa Hermes kemungkinan akan menjadi pemain barang mewah paling tangguh dalam resesi, dan tempat persembunyian yang tepat bagi mereka yang mencari perlindungan," kata Luca Solca, analis barang mewah di Bernstein.

Related Articles