Comscore Tracker
LUXURY

Pandemi Mendorong Tren Skincare dan Produk Kecantikan Baru, Apa Saja?

Kosmetik "transferproof" diprediksi masih jadi tren.

Pandemi Mendorong Tren Skincare dan Produk Kecantikan Baru, Apa Saja?Ilustrasi kosmetik. Shutterstock/5 second Studio

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Animo masyarakat untuk melakukan perawatan kulit justru semakin tinggi selama pandemi Covid-19. Vice President Research & Development Paragon dr. Sari Chairunnisa, Sp.KK. mengungkapkan pada masa pandemi, kandungan skincare yang banyak dicari oleh masyarakat adalah niacinamide dan retinol.

"Untuk skincare kandungan yang top search google itu ada di niacinamide, retinol. Kalau dari segi perhatian ke masalah kulit, di Indonesia orang masih concern untuk kulit yang terasa kusam, selain itu hydrating kelembaban dan acne atau jerawat,” kata Sari kepada Fortune Indonesia di Research & Development Center Paragon, Jatake, Tangerang, Kamis (7/10).

Tak hanya itu, Sari juga menjelaskan bahwa tren skincare kini lebih spesifik untuk masalah-masalah kulit tertentu. Misalnya seperti untuk anti-aging, jerawat, dan kulit kusam.

"Trennya sekarang karena sudah terkait dengan global jadi sangat spesifik. Nggak cuma whitening saja atau ekstrak-ekstrak untuk whitening. Namun, sekarang juga lebih spesifik problem kayak anti-aging, acne, untuk mengatasi kulit kusam," katanya.

Tren skincare baru dan digitalisasi

Fajrin selaku Paragon Researcher menjelaskan, pandemi turut mendorong lahirnya tren-tren skincare. Misalnya, produk skincare yang perlindungan dari blue light, skincare yang mengandung antiseptik dan sebagainya.

"Saat pandemi ada banyak keyword tren atau klaim yang bermunculan. Ada blue light, antiseptik dan aktif-aktif skincare. Kenapa bisa muncul? Karena kita terlalu sering ada di rumah saat pandemi. Jadi teman kita hanya laptop, smartphone. Jadi kita terpapar blue light," kata Fajrin.

"Wardah pun salah satu produk Paragon meluncurkan produk Lightening Series untuk melindungi kulit dari blue light. Faktor WFH juga membuat kita punya waktu untuk memperhatikan diri. Jadi banyak beli skincare atau bodycare. Maka muncul banyak brand baru yang mulai menyebut nyebut nama kandungan-kandungan seperti niacinamide, dan memunculkan inspirasi untuk whitening, dan lain-lain," ujarnya.

Menariknya, Fajrin melihat bahwa skincare juga akan berhubungan dengan digitalisasi. Sebab, kini sudah banyak inovasi-inovasi baru seperti gadget yang dapat mengingatkan waktu untuk mengaplikasikan sunscreen pada kulit. Dia pun memprediksi, ke depannya akan banyak inovasi skincare yang berkaitan dengan digitalisasi.

"Ke depannya untuk skincare juga akan ada hubungannya dengan digitalisasi dan instrumen. Misal kita bisa ukur kapan kulit kita harus pakai sunscreen. Ada gadget-nya dan lain-lain,” ujarnya..

Kosmetik "transferproof" diprediksi jadi tren hingga tahun depan

Peneliti dari PT Paragon Technology and Innovation menjelaskan bahwa kosmetik dengan kemampuan transferproof dan maskerproof jadi produk yang paling banyak dicari masyarakat saat ini hingga tahun depan.

“Bicara tentang makeup, memang saat ini perkembangannya banyak produk dan inovasi baru di market, baik dari segi packing maupun formula. Tapi kalau kita lihat sekitar 2 sampai 3 tahun terakhir, saat sedang masa pandemi, memang trennya kalau makeup saat ini itu transferproof dan maskerproof,” kata Bayu, salah satu peneliti di PT Paragon Technology and Innovation.

“Karena orang yang biasanya pakai masker, sehingga apa-apa yang ditaruh di bibir, di wajah, sebisa mungkin nggak cemong-cemong ke maskernya. Sehingga klaim-klaim yang kita provide dan formula yang kita ciptakan lebih ke sana,” ujarnya.

Meskipun demikian, Bayu menjelaskan bahwa penggunaan produk yang maskerproof ada konsekuensinya. Sebab biasanya, produk kosmetik yang memiliki klaim maskerproof cenderung kering. Misalnya, seperti lipstik transferproof yang dapat membuat bibir menjadi kering.

Tren kosmetik hybrid

Tren lain yang muncul adalah hadirnya kosmetik hybrid. Jenis kosmetik ini, kata Bayu, memiliki fungsi makeup dan skincare sekaligus dalam satu produk.

“Tapi ada konsekuensinya. Biasanya kalau pakai lipstik yang maskerproof itu cenderung dry atau kering, sehingga tren itu juga muncul. Dari situ, mulai bermunculan lagi tren-tren makeup yang ke arah hybrid. Antara fungsi makeup dan skincarenya,” paparnya. Ia menambahkan, “Jadi mulai bermunculan demand-demand di mana makeup itu harus sudah mulai ada skincare benefit."

Transferproof makeup dan hybrid makeup masih akan menjadi tren. Akan tetapi, yang berbeda mungkin dari segi kandungan-kandungan di dalamnya. Saat ini kosmetik yang dicari ke arah moisturizing atau melembabkan. Namun, mungkin ke depannya butuh ke arah acne, makeup untuk sensitive skin atau kulit sensitif..

Selain transferproof makeup dan hybrid makeup, produk kosmetik berkelanjutan atau sustainability juga akan menjadi tren di Indonesia. Melihat tren di eropa, menurutnya sudah mulai membuat produk kosmetik yang berkelanjutan. Dengan demikian, produk seperti ini pun dinilai juga akan masuk ke Indonesia.

“Kalau yang sekarang tren di negara Eropa dan sepertinya akan mulai terinternalisasi ke Indonesia, itu terkait tren sustainability. Jadi kita juga sedang membuat konsep untuk menciptakan produk yang sebisa mungkin komponen yang kita angkat sustainability,” ujar Bayu.

Related Articles