Comscore Tracker
LUXURY

Rekomendasi Perjalanan Wisata Kuliner Hong Kong Terbaik

Mulai dari cita rasa lokal hingga sajian mewah kelas dunia.

Rekomendasi Perjalanan Wisata Kuliner Hong Kong TerbaikHidangan Istimewa di Lung King Heen/Dok. HKTB

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Negara-negara Asia Pasifik saat ini masih dalam menghadapi pandemi Covid-19. Namun, seiring penurunan kasus aktif dan meluasnya cakupan vaksinasi, ada beberapa negara sudah membuka kembali pintu masuk bagi wisatawan mancanegara. 

Hong Kong yang dikenal sebagai "daerah istimewa" dari Republik Rakyat Tiongkok, dapat menjadi salah satu pilihan destinasi travelling Anda di era new normal. Ketua Dewan Pariwisata Hong Kong atau Hong Kong Tourism Board (HKTB), Dr. YK Pang menekankan pentingnya memulihkan kepercayaan konsumen dan meyakinkan bahwa Hong Kong menjadi tujuan yang aman dan siap untuk menyambut wisatawan.

“Misi utama kami dalam industri ini adalah untuk memberikan kepercayaan dan kepastian untuk semua wisatawan bahwa perjalanan mereka aman dari awal hingga akhir,” ujarnya dalam forum virtual Beyond COVID-19: Global Tourism’s New Normal pada Rabu, (24/6/2020).

Selain terkenal dengan pesona wisata alam, Hong Kong merupakan surga wisata kuliner. Untuk kuliner dengan cita rasa khas dan beragam, Hong Kong menjadi salah satu tujuan utama sebagai kota pusat kuliner dunia.

Mencicipi cita rasa lokal hingga santapan mewah

Di Hong Kong Anda dapat menemukan hidangan seperti bebek panggang yang sempurna, mie yang kenyal dengan daging sapi, atau satu nampan dimsum kukus. Dari kelezatan lokal sederhana di Cha Chaan Teng (kafe lokal), hidangan klasik Kanton di Dai Pai Dongs (warung pinggir jalan), hingga anggur dan santapan mewah di restoran berbintang Michelin, Hong Kong memiliki semuanya.

Reputasi Hong Kong sebagai tujuan wisata kuliner yang menyajikan hidangan–hidangan fantastis diperkuat pada tahun 2009. Berawal ketika Michelin Guide memulai debutnya di kota tersebut dengan memberikan 31 bintang pada 22 restoran ternama di Hong Kong. Dalam semalam, the Guide telah membuat gebrakan baru di antara pecinta kuliner, menjadikan Hong Kong sebagai pelabuhan untuk beberapa makanan terbaik di Asia dan juga bagi para koki ambisius untuk membuat pencapaian mereka.

“Michelin Guide memperjuangkan kancah kuliner Hong Kong dengan menonjolkan standar tinggi untuk masakan Kanton. Pada tahun 2009, The Guide memberikan Lung King Heen dengan tiga bintang Michelin, yang merupakan restoran Tiongkok pertama dan satu-satunya di dunia pada saat itu yang menerima penghargaan tersebut, yang membantu mengangkat masakan Kanton untuk masuk ke dalam destinasi wisata kuliner”, kata Nicolas Achard, Managing Director Michelin Food & Beverage Asia, dalam keterangannya Kamis, (29/9).

Sampai hari ini, Lung King Heen masih memegang predikat tiga bintang Michelin, menjadikannya restoran Tiongkok dengan kemenangan bintang tiga Michelin terpanjang dalam 12 tahun berturut-turut. Penghargaan yang tak tertandingi ini mendorong Lung King Heen serta hidangan Kanton masuk ke dalam daftar santapan lezat, memikat para pecinta kuliner.

Lung King Heen menggunakan bahan-bahan segar dan teknik memasak khusus mereka untuk meningkatkan cita rasa alami melalui pengukusan, penggorengan, pemanggangan, dan rebusan. Keterampilan kuliner ini tidak dipelajari dalam semalam, tetapi melalui pengalaman bertahun-tahun di bawah seorang masterchef.

Michelin Guide tidak hanya menyoroti keunggulan kuliner khas Hong Kong, mendorong dunia kuliner dan gastronomi Hong Kong, tetapi juga menginspirasi banyak calon koki muda untuk memanfaatkan kesempatan bereksperimen dengan bahan-bahan dan melakukan inovasi dalam teknik memasak baru di dapur.

Muda dan siap mengambil alih dunia

Koki Vicky Cheng yang lahir di Hong Kong, melatih dirinya di program manajemen kuliner di George Brown College, Toronto dan kembali ke Hong Kong pada tahun 2011. Dia mendirikan VEA pada tahun 2016 dan memenangkan bintang Michelin pada tahun pertama restoran ini beroperasi. Vicky Cheng baru berusia 36 tahun, dan ia menciptakan gaya baru dengan konsep fusion-nya "Frenchifying Chinese Food".

Para koki muda juga didorong untuk lebih kreatif, terbukti dengan satu-satunya chef wanita di Asia, Vicky Lau dari Tate Dining Room, yang diakui dengan dua bintang Michelin pada 2021. Mengambil suasana Hong Kong sebagai sumber inspirasi, Lau telah menciptakan menu “Ode to Fruits”, di mana dia fokus untuk menyajikan bahan-bahan utama untuk masakan Tiongkok. Hal ini termasuk eksplorasi teh, tahu, dan kecap asin.

Koki kelahiran Hong Kong seperti Lau dan Cheng yang terlatih dalam teknik memasak ala Perancis ingin memberikan penghormatan kepada para pengajar mereka melalui eksperimen dengan bahan-bahan dan produk makanan lokal. Keduanya juga menciptakan cita rasa Timur yang berpadu dengan Barat melalui hidangan mereka.

Menu sederhana dibuat dengan rasa istimewa, seperti seperti wafel telur dengan beberapa sendok es krim disertai siraman saus coklat, hingga roti kukus yang diisi dengan krim custard telur asin. Cheng juga menghadirkan hidangan teripang panggang di atas saus udang.

Pilihan beragam selain masakan Kanton

8 ½ Otto e Mezzo BOMBANA, adalah restoran Italia pertama dan satu-satunya di luar Italia yang diakui dengan tiga bintang Michelin. Kepala Koki Umberto Bombana, telah tinggal di Hong Kong selama hampir tiga dekade. Ia menyukai energi, kenyamanan, dan nuansa kosmopolitan Hong Kong.

Restoran terkenal lainnya adalah New Punjab Club, yang telah mengangkat hidangan Punjabi ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan menu hidangan seperti daging rusa tandoori yang disiram dengan lassi mangga yang menyegarkan, restoran ini juga merupakan restoran Pakistan pertama di dunia yang diakui dengan bintang Michelin.

Suasana makan yang semarak juga telah menarik banyak koki internasional untuk mendirikan restoran di Hong Kong. Salah satunya adalah koki Shane Osborn yang datang ke Hong Kong pada 2012 dan membuka St Betty untuk pertama kalinya, dua tahun kemudian dia mendirikan tempatnya sendiri, Arcane, dan pada 2018 diakui dengan bintang pertamanya.

“Hong Kong adalah kota yang sangat internasional dengan budaya kuliner yang dinamis. Orang-orang suka menjelajah dan mencoba hal-hal baru, mereka sangat berpikiran terbuka dalam hal restoran. Anda bisa mendapatkan segala jenis hidangan di Hong Kong dan untuk restoran atau para koki, Hong Kong adalah tempat yang sangat menarik.” kata Shane Osborn.

Shane baru-baru ini membentuk The Arcane Collective, memperluas portofolio restorannya dari Arcane, restoran bintang satu Michelin, ke Cornerstone dan sekarang Moxie, yang menampilkan hidangan vegetarian dan boga bahari, di The Landmark.

Street Food didorong untuk semakin terkenal

Hong Kong tidak hanya dikenal dengan restoran mewahnya, tetapi juga restoran khusus pada makanan lokal yang sesuai untuk para petualang yang ingin mencicipi kedai jajanan kota dengan bujet affordable.

Selain restoran fine-dining berbintang tiga, Hong Kong juga membanggakan salah satu restorannya yang diakui Michelin dengan harga terjangkau. Terletak di lingkungan para pekerja Sham Shui Po, Tim Ho Wan merupakan restoran terjangkau yang memegang predikat bintang Michelin selama 10 tahun berturut-turut.

Hong Kong adalah salah satu dari sedikit kota yang kedai jajanan atau street food–nya diakui oleh Michelin Guide. Distrik Jordan dan Yau Ma Tei memiliki beberapa kedai jajanan yang termasuk dalam Michelin Guide ini. Bagi penikmat hidangan mie, Mak Man Kee Noodle Shop sudah berusia lebih dari enam dekade dan masih menyajikan mie telur kenyal dengan wanton udang ukuran besar.

Ada pula Kai Kai Dessert terkenal dengan makanan penutup tradisional Kanton. Seperti sup wijen hitam dengan bahan wijen hitam segar yang baru digiling, sup almond, dan pangsit yang diisi dengan pasta wijen hitam.

Masa depan yang berkelanjutan

Dalam Michelin Guide edisi 2020, Green Star diberikan kepada restoran yang “mewujudkan dan memiliki misi keberlanjutan dalam operasional sehari-hari mereka”. Di Hong Kong, Roganic diberikan predikat dengan Green Star ini. Dipimpin oleh koki top Inggris Simon Rogan, dia beserta timnya menggunakan setiap bagian dari suatu bahan untuk meminimalkan limbah makanan, restoran ini juga menanam bumbu-bumbu dan sayurannya sendiri, serta menggunakan teknik pengeringan dan pengawetan untuk memperpanjang usia penyimpanan produk makanan tersebut.

Dengan berkembangnya dunia F&B, para koki memperjuangkan metode makanan yang berkelanjutan, dimulai dengan lebih memilih untuk menggunakan bahan-bahan yang diproduksi secara lokal seperti ayam kuning, sayuran organik, dan rempah-rempah. Fokus pada lingkungan yang berkelanjutan telah membuat pengunjung lokal dan internasional lebih sadar akan sektor pertanian Hong Kong yang berkembang dengan stabil.

Pasti akan sangat menarik untuk melihat restoran baru mana yang akan masuk dalam daftar Michelin Guide edisi 2022. Pada tahun 2009, Hong Kong dianugerahi 31 bintang untuk 22 restoran. Saat ini, Hong Kong telah memiliki 95 bintang untuk 69 restoran, yang dengan jelas membuktikan bahwa Hong Kong memiliki bakat, pengalaman, dan juga ambisi untuk terus mendapatkan bintang Michelin.

Meskipun pandemi, wisata kuliner Hong Kong telah berkembang pesat, semakin banyak restoran yang dibuka, dan sekarang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan awal tahun ini.  

Kota ini telah menangani Covid-19 dengan baik hingga jumlah kasus lokal menjadi satu digit dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, seiring meningkatnya jumlah orang yang divaksinasi, penduduk merasa lebih percaya diri untuk makan di luar. 

Ini terbukti di restoran fine dining khususnya, di mana pengunjung harus memesan dua hingga tiga bulan ke depan. Ketika perbatasan dibuka, tidak ada keraguan bahwa pengunjung akan dimanjakan dengan banyak pilihan hidangan yang ditawarkan di Hong Kong.

Related Topics

Related Articles