Harga koin koleksi tidak hanya ditentukan oleh kandungan emas atau peraknya. One More Coin mencatat empat faktor utama yang dapat memengaruhi nilai sebuah koin, yaitu kelangkaan, kondisi, provenance atau riwayat kepemilikan, dan permintaan kolektor.
Semakin sedikit spesimen yang bertahan dan semakin baik kondisinya, semakin besar daya tariknya. Riwayat tokoh, institusi, atau peristiwa tertentu juga dapat memperkuat nilai koleksi, sementara persaingan pembeli di lelang dapat mendorong harga lebih tinggi.
Jadi, itulah daftar koin termahal di dunia yang menunjukkan bahwa nilai koin koleksi tidak hanya bergantung pada materialnya.
Apa koin termahal di dunia? | 1933 Saint-Gaudens Double Eagle menjadi koin dengan harga lelang tertinggi, yakni 18,87 juta dolar AS atau sekitar Rp269 miliar. |
Mengapa koin bisa sangat mahal? | Kelangkaan, kondisi, sejarah, riwayat kepemilikan, dan permintaan kolektor dapat meningkatkan nilai sebuah koin. |
Apakah koin berbahan nonlogam mulia bisa mahal? | Bisa, seperti Liberty Head Nickel 1913 yang memiliki nilai tinggi karena hanya lima spesimen yang diketahui. |
Apakah tahun pada koin selalu menunjukkan tahun pembuatannya? | Tidak, Silver Dollar Class I 1804 bertanggal 1804 tetapi sebenarnya dibuat pada 1834 hingga 1835. |