Jakarta, FORTUNE - Demam Labubu yang sempat mengangkat produsen mainan asal Cina, Pop Mart International Group, ke panggung global mulai mereda. Penjualan perusahaan merosot hingga 50 persen pada kuartal III-2026, memunculkan tantangan baru bagi perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan dan mengurangi ketergantungan pada karakter boneka yang menjadi fenomena tersebut.
Mengutip laporan Financial Times Pop Mart melaporkan penjualan turun 45 persen hingga 50 persen pada tiga bulan yang berakhir September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut disampaikan perusahaan dalam pembaruan bisnis yang diumumkan pada Selasa malam, 27 Oktober 2026. Penurunan terjadi di seluruh pasar utama perusahaan. Kawasan Amerika mencatat kontraksi terdalam, dengan penjualan turun 70 persen hingga 75 persen. Pendapatan dari Eropa dan wilayah lainnya menyusut 50 persen hingga 55 persen, sedangkan Cina daratan turun 25 persen hingga 3 persen.
Kinerja tersebut menandai perubahan tajam setelah Labubu menjadi fenomena global pada 2025. Boneka berbulu dengan gigi menonjol itu viral di media sosial dan mendapat perhatian selebritas, termasuk David Beckham dan Lisa dari grup K-pop Blackpink. Popularitasnya turut mendorong kenaikan valuasi Pop Mart hingga melampaui gabungan kapitalisasi pasar dua produsen mainan besar, Hasbro dan Mattel.
Namun, popularitas yang terkonsentrasi pada satu karakter juga membawa risiko. Pop Mart tidak hanya mengandalkan penjualan boneka koleksi. Perusahaan mengembangkan portofolio karakter atau intellectual property (IP), memperluas jaringan toko, serta membangun pengalaman konsumen melalui taman hiburan dan berbagai produk turunan.
Laporan kinerja semester I-2026 yang dirilis perusahaan menunjukkan bahwa bisnis Pop Mart sebenarnya telah memiliki sejumlah penopang di luar The Monsters, waralaba yang menaungi Labubu. Pendapatan perusahaan mencapai 17,2 miliar yuan, tumbuh 23,8 persen secara tahunan. The Monsters menyumbang pendapatan 4,45 miliar yuan atau sekitar 26 persen dari total pendapatan, lebih rendah dibandingkan kontribusinya sebesar 34,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di luar The Monsters, karakter Twinkle Twinkle membukukan pendapatan 2,65 miliar yuan, tumbuh 580,6 persen secara tahunan. Sementara itu, CRYBABY menghasilkan 1,63 miliar yuan, DIMOO sebesar 1,62 miliar yuan, SKULLPANDA sebesar 1,55 miliar yuan, dan HIRONO sebesar 1,01 miliar yuan.
Strategi Pop Mart juga mencakup pengembangan karakter menjadi aset hiburan. Melansir CNA, perusahaan engah mengembangkan ekosistem hiburan berbasis karakter melalui taman hiburan, pameran, dan film. Salah satu pusat strategi tersebut adalah Pop Land di Beijing, taman hiburan yang menghadirkan pengalaman langsung bagi penggemar karakter Pop Mart. Salah satu mesin pertumbuhan Pop Mart selama ini adalah model penjualan blind box. Pada puncak popularitas Labubu, mekanisme tersebut turut memicu pasar sekunder dengan harga jual kembali yang tinggi. Financial Times mencatat, sebuah boneka Labubu berukuran manusia pernah terjual seharga 1,2 juta renminbi atau sekitar US$170.000, termasuk biaya lelang, di Beijing.
Namun, harga di pasar sekunder yang melemah menjadi salah satu sinyal bahwa antusiasme terhadap Labubu tidak lagi sekuat sebelumnya. Sejak mencapai puncak pada Agustus 2025, saham perusahaan telah kehilangan lebih dari separuh nilainya. Kapitalisasi pasarnya menyusut menjadi sekitar US$22 miliar.
Perusahaan juga menghadapi tantangan dari sisi daya beli. Di Amerika Serikat, salah satu pasar yang menjadi sasaran ekspansi, konsumen berhadapan dengan kenaikan harga dan persoalan keterjangkauan produk. Sementara di Cina, pasar yang menyumbang lebih dari separuh pendapatan Pop Mart pada 2025, permintaan konsumen juga menunjukkan pelemahan.
Persoalannya kini bukan semata-mata apakah perusahaan mampu menciptakan Labubu berikutnya. Tantangan yang lebih besar adalah membangun portofolio karakter yang dapat bertahan melewati pergantian tren, menjaga pembelian berulang, dan menopang pertumbuhan perusahaan ketika satu karakter tidak lagi menjadi pusat perhatian.
