Perjalanan Oma Elly dan Upaya Melanggengkan Resep Keluarga

- Chef Andry Susanto mendirikan restoran Italia Oma Elly untuk melestarikan resep dan kenangan sang nenek, Ellydae Mazzei, melalui hidangan autentik yang menghadirkan suasana hangat keluarga.
- Perjalanan bisnis kuliner ini bermula dari hobi memasak lasagna untuk potluck, yang kemudian berkembang menjadi pesanan rutin hingga akhirnya mendorong Andry meninggalkan pekerjaan kantoran.
- Dari dapur rumahan dengan tiga menu sederhana, Oma Elly kini tumbuh menjadi jaringan 12 gerai di Jabodetabek dengan sekitar 700 karyawan dan konsep private dining yang populer.
Jakarta, FORTUNE - Restoran Italia Oma Elly dibangun sebagai salah satu upaya menjaga memori keluarga tetap hidup. Dengan memegang teguh filosofi sederhana sang nenek dan adaptasi bahan yang kreatif, Chef Andry Susanto memastikan setiap hidangan yang tersaji tetap membawa kehangatan yang sama seperti di dapur sang nenek— Ellydae Mazzei atau nama lengkap Oma Elly—puluhan tahun silam.
“Oma gemar memasak. Saya sering sekali masak bareng beliau. Kami bahkan sering menonton cooking channel bersama. Lalu, di akhir pekan belanja bahan dan mencoba resep baru,” katanya kepada Fortune Indonesia di Oma Elly Trattoria Senayan City, pada pertengahan Januari.
Pesto hingga basil sauce, juga bolognese, aneka olahan jamur, lasagna dan tiramisu klasik adalah sejumlah masakan yang lahir dari dapur sang Oma yang merupakan perempuan asli Italia dan kini tersaji di restoran dengan suasana hangat itu.
Ketika berada di dalam Oma Elly Trattoria, pengunjung dibetot oleh atmosfer emosional karena dinding restoran berisi foto-foto keluarga serta dekorasi berupa piring-piring milik Elly yang dibawa dari Italia.
Berawal dari ketidaksengajaan

Restoran dan gerai dessert Oma Elly kini sudah banyak orang tahu. Namun, Andry tidak langsung terjun ke bisnis ini. Lulusan University of Western jurusan ekonomi, pemasaran, dan ekonomi internasional ini memang sempat tinggal di Australia dan menyelesaikan studinya sambil bekerja di industri makanan dan minuman (F&B).
Tetapi, dia mulai bekerja di dunia korporasi setibanya di Indonesia— mulai dari perusahaan properti dan perumahan, industri kreatif, hingga konsultan. Pada Oktober 2018, takdir membawanya ke jalur kuliner lewat, menurutnya, sebuah “kecelakaan” yang menyenangkan. Mulanya adalah masa-masa ketika dia tinggal di sebuah apartemen dan kerap membawa lasagna pada acara potluck bersama teman-teman dan keluarga.
Masakan yang dia bawa itu, tak disangka, disukai oleh mereka. Pesanan pun kemudian berdatangan, bukan saja dari teman dekatnya, tapi juga tetangga di apartemen.
Dia lalu mengerjakan daftar pesanan sembari masih bekerja sebagai pegawai kantor. "Sepulang kantor sekitar jam tujuh malam, aktivitas dapur berlanjut— membuat saus hingga lewat tengah malam, bahkan kerap berakhir pukul satu dini hari."
Pola ini berlangsung cukup lama. Sampai pada suatu waktu, dia akhirnya merasa bisnis tersebut telah cukup kuat untuk berdiri sendiri. Andry lantas memutuskan berhenti dari pekerjaan kantor dan menempatkan fokusnya pada bisnis kuliner. “Ketika baru memulai, semua masih pakai oven rumah. Baru pelan-pelan kami membangun commercial kitchen,” ujarnya.
Pada masa awal usaha, pemesanan dilakukan secara sederhana. Semua order diterima via WhatsApp dan Instagram, dan hanya tiga produk ditawarkan: lasagna, tiramisu, dan roast beef. Periode tersebut pun melahirkan jenama Oma Elly.
“Waktu itu banyak teman bertanya, ‘Instagram-nya apa?’ Kami bingung karena belum terpikirkan nama. Akhirnya kami memilih nama Oma Elly, karena memang resep oma. Sangat rumahan, dan punya makna emosional yang kuat” katanya.
Pada Maret 2019, ia memindahkan dapur ke kawasan Manggarai, Jakarta Selatan demi melayani pesanan antar (delivery).
Di sana ia tak hanya memasak, tapi juga rutin membuat konten—video memasak, potongan proses di dapur. Banyak orang kemudian tertarik, dan kemudian meminta dimasakkan hidangan untuk acara ulang tahun atau jamuan pribadi. Konsep private dining pun lantas lahir. Pada siang hari, dapur digunakan untuk menyiapkan katering dan lasagna. Begitu malam tiba, meja- meja dipindahkan. Suasana diubah, dan dapur menjelma ruang makan. Pengalaman dine-in Oma Elly pun pertama kali diciptakan.
Ia mengakui, masa-masa awal membangun bisnis Oma Elly penuh dengan pembelajaran mahal. Kini, bisnis kuliner yang dijalankan telah berkembang. Dari yang awalnya hanya mempekerjakan empat orang—termasuk Andry, kitchen helper dan admin— saat ini Oma Elly telah mempekerjakan sekitar 700 orang. Total gerainya ada 12. Semuanya ada di kawasan Jabodetabek.


















