Tantangan Menjaga DNA Luxury di Era Baru Konsumen

- Central Mega Kencana (CMK) hadapi tantangan menjaga kredibilitas dan eksklusivitas di tengah segmentasi konsumen yang semakin beragam.
- CMK membangun narasi bahwa perhiasan adalah simbol kehidupan, bukan sekadar komoditas, dengan standarisasi jaringan gerai dan transparansi harga serta spesifikasi.
- Kolektor muda sangat detail, mencari koneksi emosional dengan objek yang dikoleksi, sehingga dunia koleksi semakin lintas kategori dan generasi.
Jakarta, FORTUNE - Di tengah dinamika industri barang mewah yang terus berkembang, pelaku industri menghadapi sejumlah tantangan. Bukan lagi sekadar memperluas pasar, tantangan juga mencakup bagaimana menjaga kredibilitas dan nilai eksklusivitas di tengah segmentasi konsumen yang semakin beragam.
Tantangan inilah yang dijawab oleh Central Mega Kencana (CMK), salah satu grup ritel perhiasan di Indonesia.
CMK mengelola beberapa brand dengan posisi pasar dan target market yang berbeda. Mondial berada di segmen tertinggi dengan pendekatan high jewelry, Frank & Co menyasar segmen menengah premium, sementara The Palace hadir untuk segmen yang lebih terjangkau.
Petronella Soan, Chief Operating Officer CMK, mengatakan menjaga DNA luxury di setiap segmen tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam.
“Kuncinya terletak pada standarisasi jaringan gerai dan membangun sistem,” katanya dalam Fortune Indonesia Summit 2026 dalam sesi bertajuk Where Growth Meets High Net Worth, Kamis (12/2).
Menurutnya, perhiasan bukan sekadar komoditas. CMK membangun narasi bahwa perhiasan adalah simbol kehidupan, baik sebagai ungkapan cinta, simbol komitmen, simbol pencapaian, dan perjalanan hidup.
“Kami tidak hanya bicara soal besar berlian atau berat emas, tetapi makna di baliknya. Itu sebabnya craftsmanship, kualitas, dan edukasi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Saat ini, CMK mengelola lebih dari 150 toko, dengan lebih dari 1.200 pengrajin, dan sekitar 3.000 karyawan, termasuk gemologist. Semua proses produksi berada di bawah kendali internal perusahaan dengan quality control ketat.
Selain itu, hadirnya konsumen baru, seperti generasi muda pengguna perhiasan dan generasi lama memiliki tantangan, salah satunya pada tingkat informasi. Konsumen muda biasanya datang ke toko dengan riset yang matang dan pemahaman awal yang kuat. Peran brand pun bergeser—bukan hanya sebagai edukator, tetapi sebagai penyedia pengalaman sejalan dengan pengetahuan dan ekspektasi konsumen.
Oleh karenanya, transparansi menjadi hal utama. CMK memastikan perusahaan harga, kadar emas terstandarisasi (750/18K), serta spesifikasi berlian yang detail dan transparan. Pendekatan ini membangun kepercayaan jangka panjang, terutama bagi konsumen muda yang kritis dan well informed.
Tak hanya di industri perhiasan, Jasmine, Managing Director Sotheby’s pun melihat hal serupa. “Kolektor muda sangat detail—baik itu seni, jam tangan, sneakers, hingga pop culture. Bahkan ada kolektor 20 tahun yang tertarik pada old master paintings. Dunia koleksi kini semakin lintas kategori,” katanya.
Perubahan perilaku konsumen luxury global turut memengaruhi cara brand membangun relevansi. Dari perspektif Sotheby's, pola belanja high net worth individuals (HNWI) kini semakin bergeser dari sekadar status atau investasi semata.
Jasmine Prasetio, Managing Director Sotheby’s, menegaskan bahwa satu benang merah yang tidak pernah berubah adalah passion of collecting. Baik kolektor lama maupun generasi baru, keduanya mencari koneksi emosional dengan objek yang dikoleksi.
Kolektor generasi baru tidak hanya ingin memiliki, tetapi juga mengalami perjalanan emosional, yakni merasa terhubung, terlibat, bahkan menjadi patron. Sensasi “masuk ke dunia lain” inilah yang membedakan perilaku kolektor masa kini.
Data Sotheby’s menunjukkan bahwa kolektor di bawah usia 40 tahun kini menyumbang sekitar 17 persen pembelian karya seni dan 27 persen transaksi di kategori luxury, meningkat signifikan dibandingkan satu dekade lalu.
Sedangkan bicara soal generasi muda, seperti yang diungkap CMK, fenomena serupa juga terlihat di Sotheby’s. Kolektor muda kini sangat detail, tidak hanya pada seni rupa, tetapi juga jam tangan, sneakers, hingga pop culture. Bahkan, terdapat kolektor berusia 20-an yang sudah tertarik pada old master paintings, menandakan bahwa dunia koleksi semakin lintas kategori dan lintas generasi.
















