Jakarta, FORTUNE - PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) menargetkan pertumbuhan total dana kelolaan (Asset Under Management) hingga 15 persen pada 2027.
Presiden Direktur Batavia, Lilis Setiadi, mengatakan, target itu tak hanya dilandasi oleh tantangan domestik, tetapi juga sentimen global. Itu disebut sebagai target moderat.
"Jadi mungkin peningkatan kurang lebih 12-15 persen [pertumbuhan] dibandingkan dengan AUM kami di akhir tahun," kata Lilis dalam konferensi pers di kantor Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Rabu (21/10).
Sebagai konteks, pada akhir 2026, Batavia membidik total dana kelolaan sejumlah Rp60 triliun. Target tersebut akan ditopang oleh permintaan dari nasabah institusi dan ritel.
Batavia masih melihat adanya peluang tambahan mandat dari sejumlah investor institusi, sehingga dapat meningkatkan kontrak baru. Perusahaan menilai, nasabah institusi disebut lebih strategis dalam pengambilan keputusan. Produknya pun tidak disiapkan secara instan. Selain itu, Batavia menyebut masih memiliki sejumlah produk untuk segmen institusi di pipeline-nya.
"Mereka tak hanya melihat risiko, tapi juga peluang yang ada. Misalnya, tiba-tiba ada [saham] dengan P/E-nya begitu menarik, dividennya, jadi memang dari berbagai sudut pandang mereka melihatnya," kata Direktur Batavia, Yulius Manto.
Sementara dari segmen ritel, Batavia mencatat ada 2 produk yang permintaannya cukup menonjol dibandingkan dengan lini produk lain, yakni: reksa dana pasar uang dan equity sharia global fund. Menurut Direktur Batavia, Eri Kusnadi, investor kini semakin minat terhadap diversifikasi instrumen aset global.
"Menjelang akhir tahun, kita mencoba untuk melakukan kegiatan edukasi, sosialisasi, dan tentunya di tengah pasar yang volatile ini, hadir di tengah-tengah investor ini menurut kita salah satu yang paling penting," ujar Yulius.
Dari segi strategi mengelola portofolio, perusahaan pun kini memilih untuk lebih tangkas. Perpindahan antara kelas aset saham dilakukan dengan cakupan waktu lebih pendek, yakni per kuartal. Kemudian, di tengah koreksi pasar yang terjadi sejak pekan lalu (menyusul pengumuman MSCI tentang proposal reklasifikasi pasar modal ke Standalone Market), Batavia pun akan aktif meninjau perusahaan berfundamental baik.
"Kami fokus juga pada [saham] yang memmbagikan investornya sehingga bisa mendapatkan yield atau hasil invesasi yang relatif tinggi," ujar Direktur Batavia, Rinaldi Lukita Handaya.