Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan terkoreksi lagi pada Jumat (29/5), setelah libur Iduladha. Salah satu sentimennya berkaitan dengan tanggal efektif hasil kocok ulang indeks MSCI.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, IHSG masih akan bergerak dalam tren konsolidasi melemah dengan area resisten di 6.240 dan support di 6.060. Saham-saham yang ia soroti adalah EMAS dan PGAS.
"Pelaku pasar juga akan mencermati tekanan nilai tukar rupiah yang telah mendekati level Rp16.800 per dolar Amerika Serikat (AS), sehingga berisiko mendorong capital outflow lebih lanjut," katanya dalam riset harian.
Di sisi lain, tanggal efektif rebalancing MSCI pada penutupan perdagangan hari ini diperkirakan dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Pada Selasa (26/5), IHSG ditutup turun 1,23 persen di level 6.130 dengan aksi jual asing senilai Rp1,89 triliun di pasar reguler. Penyebab koreksinya adalah meningkatnya aksi profit taking dan tekanan pada sejumlah saham big caps serta saham komoditas. Reza menilai, reli saham-saham Grup Barito yang sempat menopang laju IHSG ternyata belum cukup kuat untuk menahan koreksi pasar yang semakin meluas.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai, secara teknikal, stochastic RSI masih menunjukkan reversal ke arah pivot dan penyempitan histogram negatif MACD berlanjut. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000-6.200 pada perdagangan Jumat (29/5).
Terkait sentimen tanggal efektif kocok ulang MSCI, potensi dampak yang dapat terjadi adalah penyesuaian portofolio oleh para manajer investasi global yang mengikuti indeks MSCI sehingga dapat menyebabkan aksi jual masif terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI serta memicu kenaikan volatilitas pasar.
Sebagai konteks, saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard adalah AMMN, BRPT, TPIA, CUAN, DSSA. Untuk AMRT turun kelas dari Global Standard menjadi Small Cap. Sedangkan saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI Small Cap adalah ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS dan TAPG.
Sentimen lain adalah persiapan skema intensif untuk kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel. Salah satu opsi yang sedang dalam pembahasan adalah PPN akan ditanggung oleh Pemerintah dengan besaran yang bervariasi mulai dari 40 persen hingga 100 persen.
Untuk baterai yang berasal dari nikel dan non-nikel akan dibedakan skemanya, dengan kendaraan berbasis baterai nikel kemungkinan akan memperoleh insentif lebih besar.
Namun insentif tersebut masih dalam pembahasan sehingga pelaksanaannya akan ditunda satu bulan. "Ke depannya hal ini berpotensi menjadi faktor positif bagi emiten yang memproduksi baterai listrik berbasis nikel," kata tim riset Phintraco Sekuritas.
Daftar saham pilihan tim Phintraco Sekuritas adalah CPIN, TLKM, MAIN, MYOR, dan ERAA.
