Comscore Tracker
MARKET

Kerugian Masyarakat Akibat Minyak Goreng Langka Capai Rp3,38 Triliun

Masyarakat Jawa dan Sumatera paling dirugikan.

Kerugian Masyarakat Akibat Minyak Goreng Langka Capai Rp3,38 TriliunPresiden Jokowi mengecek langsung ketersediaan minyak goreng di sejumlah lokasi pasar dan toko swalayan, di DIY, Minggu (13/03/2022). (Dok. BPMI Setpres)

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Kerugian ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat kelangkaan minyak goreng diperkirakan mencapai Rp3,38 triliun. Lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas) dalam riset kebijakannya baru-baru ini, mengatakan taksiran tersebut berasal dari selisih harga rata-rata minyak goreng pada periode April 2021 hingga Januari 2022 dibandingkan periode sebelumnya.

Jika diperinci, akumulasi kerugian berasal dari dua periode, yakni pada April hingga September 2021 sebesar Rp980 miliar dan Oktober 2021 higga Januari 2022 sebesar Rp2,4 triliun. Adapun acuan harga normal yang digunakan adalah periode Januari hingga Maret 2021.

“Jika selama periode kelangkaan minyak goreng setelah 19 Januari 2022 [setelah penetapan harga Rp14.000 per liter] masyarakat mempertahankan konsumsi minyak goreng dengan membeli pada harga yang lebih tinggi, maka kerugian masyarakat akan makin besar,” tulis Ideas dalam risetnya, dikutip Senin (14/3).

Dalam kajian tersbeut, Ideas juga menggunakan acuan rata-rata konsumsi minyak goreng nasional yang diperkirakan mencapai 3,3 miliar liter pada 2021. Kemudian, konsumsi per kapita per tahun ditaksir mencapai 12,3 liter, dan pengeluaran masyarakat untuk membeli minyak goreng per tahunnya diperkirakan mencapai Rp43 triliun atau Rp156.000 per kapita per tahun.

Berdasarkan data tersebut, Ideas mencatat bahwa kelas menengah merupakan kelompok yang mendominasi konsumsi minyak goreng nasional dan paling terdampak kenaikan harga. Kelompok dengan pengeluaran per kapita per bulan di kisaran Rp1 juta sampai Rp3 juta, yang merupakan 40,7 persen populasi Indonesia, menyumbang sampai 46,4 persen konsumsi minyak goreng nasional atau sekitar 4,23 juta liter per hari--setara dengan 1,52 miliar liter per tahun. Kelompok ini mengalami kerugian sekitar Rp1,57 triliun.

Sedangkan kelompok berpengeluaran Rp400.000 per kapita/bulan sampai Rp1 juta per kapita/bulan menjadi penyumbang konsumsi terbesar dengan persentase 42,2 persen dari total konsumsi. Dengan konsumsi mencapai 1,39 miliar liter per tahun, potensi kerugian kelompok ini menyentuh Rp1,43 triliun.

Jawa dan Sumatera paling dirugikan

Lebih lanjut, jika dilihat berdasarkan wilayahnya, kerugian ekonomi terbesar dari mahalnya minyak goreng dialami oleh konsumen rumah tangga di Jawa. Dengan konsumsi 5,1 juta liter per hari, Ideas menaksir masyarakat di Jawa mengalai kerugian hingga Rp1,99 triliun.

Kerugian terbesar kedua dialami konsumen rumah tangga di Sumatra yang konsumsi total per harinya mencapai 2,5 juta liter, yakni sebesar Rp850 miliar selama April 2021—Januari 2022.

Adapun total kerugian yang dirasakan konsumen di wilayah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Bali Nusa Tenggara, Maluku dan Papua diestimasi mencapai Rp540 miliar. 

Pemerintah sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan harga dan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar. Salah satunya menghadirkan 3 produk minyak goreng dengan segmentasi berbeda, yang didasarkan atas indeks harga pasaran.

Ketiga jenama minyak goreng tersebut, antara lain Nusakita dengan 100 persen indeks market leader; Salvaco dengan 92-95 persen indeks harga; dan kemasan ekonomis minyak INL dengan 88-90 persen indeks pemimpin pasar.

Minyak INL adalah salah satu jenama dengan kemasan sederhana yang dikembangkan pemerintah untuk pasar tradisional. Upaya ini dilakukan oleh anak usaha Holding Perkebunan, yakni PT Industri Nabati Lestari (INL). Pengembangan baru dilakukan saat harga minyak melambung tahun lalu.

Produk INL akan dijual dengan harga Rp14.000 per liter. Minyak ini tersedia dalam dua jenis kemasan, yakni 450ml dan 900ml.

Related Articles