Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Kans IHSG Capai 10.000 di 2026: Tidak Mustahil, Tapi Butuh Konsistensi

Karyawan melintas di dekat layar yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/10/2021). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Karyawan melintas di dekat layar yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/10/2021). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

Jakarta, FORTUNE - Mengawali perdagangan 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menyentuh level tertinggi baru sepanjang massa pada hari perdagangan kedua (5/1). Berkaca dari tren pergerakan sepanjang 2025 dan awal tahun, bagaimana peluang IHSG menyentuh level 10.000 pada akhir 2026?

Per akhir perdagangan sesi I, Selasa (6/1), IHSG telah menguat 2,36 persen ke level 8.881,78 sejak pembukaan perdagangan 2026.

Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, memperkirakan IHSG berpeluang mencapai 10.013 dalam skenario bullish. Salah satu sentimennya, kebijakan fiskal pro-investasi. "Dengan beberapa katalis di pasar domestik, kalau misalnya berjalan lancar, mungkin akan positif [dampaknya] ke pasar," katanya, dikutip Selasa.

Selain itu, ada pula sentimen dari pengalihan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) dari himbara senilai Rp75 triliun untuk pos belanja rutin kementerian/lembaga (K/L). Lutfi menilai, langkah itu bertujuan mendongkrak konsumsi masyarakat. Di sisi lain, dampaknya terhadap perbankan relatif kecil.

Namun, ada pula kekhawatiran kenaikan inflasi akibat pelonggaran likuiditas. Jika inflasi meningkat, maka akan ada risiko kenaikan suku bunga. Hal tersebut akan berdampak pula terhadap pergerakan pasar.

"Tapi kalau kita lihat dari data terakhir dari SRBI dan IndoNIA, ini sudah turun dalam. Ada juga kebijakan SRBI sendiri kemarin menerbitkan Rp78 triliun, ini untuk menekan inflasi juga. Masih cukup stabil dan terkendali," kata Lutfi. "Lalu untuk penurunan IndoNIA ini menandakan [terdapat] ekspektasi inflasi itu masih akan turun."

Sejalan dengan itu, harapannya daya beli masyarakat dapat bertumbuh. Hal itu akan mengerek naik tingkat konsumsi dan investasi. Sektor-sektor yang dapat merasakan dampak positifnya, yakni: perbankan, otomotif, consumer, dan juga properti.

Selain itu, katalis lainnya berasal dari ekspektasi penurunan suku bunga, yang berpeluang meningkatkan belanja modal para perusahaan. "Ini pada akhirnya laba perusahaan bisa membaik, aktivitas dan sentimen pasar tentu akan menguat lagi," ujar Lutfi.

Sentimen lainnya adalah target pertumbuhan pendapatan negara sebesar 10 persen dan kenaikan penerimaan pajak sebesar 13 persen pada 2026. Alokasi anggaran pemerintah akan berfokus pada ketahanan energi, program MBG, subsidi non-energi, pendidikan, bantuan sosial, dan kesehatan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memandang optimistis proyeksi IHSG mencapai level 10.000 pada 2026. Menurutnya, target itu realistis. Landasannya? Ekspektasi terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi ke level 6 persen.

Motor penggerak yang ia soroti: harmonisasi kebijakan fiskal dan moneter. "Kebijakan kami dengan Bank Indonesia sudah amat sinkron sebenarnya, bukan mustahil dicapai tahun ini," ujarnya selepas seremoni pembukaan perdagangan 2026, dikutip Selasa.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai, kebijakan yang lebih selaras antara pemerintah dan BI dalam mendorong ekonomi sebagai katalis positif dan mempertahankan stabilitas.

"Proyeksi [IHSG] kami sejalan dengan Menkeu, kami perkirakan IHSG [mencapai] 10.500 [di 2026]," ujar Rully, dikutip Selasa.

Lebih lanjut, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menambahkan, pergerakan IHSG tahun ini akan didukung oleh kombinasi kebijakan moneter global dan domestik, yang memasuki fase penurunan suku bunga. Dus, arus dana asing relatif akan masuk ke emerging market, seperti Indonesia.

Reydi menyoroti sektor berbobot besar seperti perbankan. Selain itu, ia juga menggarisbawahi saham-saham likuid yang kepemilikannya dapat diakumulasi oleh asing.

Selain itu, sektor apa lagi? "Pada 2026 anggaran MBG lebih besar dari sebelumnya, sehingga sektor-sektor terkait penyediaan bahan pangan MBH bisa dicermati," ujar Reydi, dikutip Selasa.

Kendati pandangan IHSG awal tahun relatif bullish, analis tetap menekankan sejumlah tantangan yang patut diwaspadai. Itu termasuk volatilitas nilai tukar rupiah, risiko perlambatan ekonomi dunia, perkembangan kebijakan suku bunga The Fed, perang dagang, harga energi, pergerakan komoditas utama, dan faktor geopolitik.

Founder Stocknow.id dan Republik Investor sekaligus Analis Pasar Modal, Hendra Wardana, mengatakan, IHSG di 2026 lebih realistis dipandang berada dalam tren naik bertahap, dengan volatilitas tetap tinggi dan selektivitas saham yang kian krusial.

Hendra menilai, secara teknikal, posisi indeks yang masih berada di atas area support kuat 8.610-8.635 menjaga risiko koreksi tetap terbatas, meski ruang kenaikan juga belum terlalu lebar.

"Secara keseluruhan, IHSG di 2026 berada dalam fase transisi menuju pertumbuhan yang lebih matang dan berbasis fundamental. Target ambisius 10.000 bukan mustahil dicapai, namun membutuhkan konsistensi kebijakan, stabilitas makro, serta kepercayaan investor," kata Hendra.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Mulai 2026, DJP Bisa Lihat Transaksi Aset Kripto

07 Jan 2026, 16:01 WIBMarket