IHSG di Persimpangan: Review MSCI Bisa Picu Reli atau Outflow Asing

- IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan setelah naik 2,78 persen ke 6.409, didukung ekonomi domestik, kinerja emiten, inflasi terkendali, dan ekspektasi The Fed lebih dovish.
- Level 6.400 menjadi support penting, dengan peluang penguatan ditopang net foreign buy sekitar Rp917 miliar, valuasi P/E 9,76 kali, serta sinyal teknikal positif.
- Pasar menanti review MSCI 12 Agustus; hasil tanpa kejutan negatif berpotensi memicu relief rally, sedangkan keputusan lebih buruk dapat memicu outflow asing. CPIN dan GOTO menjadi perhatian.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada Senin (11/8), setelah naik 2,78 persen ke level 6.409 sepanjang perdagangan pekan lalu.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, indeks acuan saham itu berhasil menembus level psikologis 6.400 yang sebelumnya menjadi resistance penting. Penguatan didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen (YoY), kinerja emiten Semester I-2026 yang relatif solid, serta inflasi Juli yang tetap terkendali di 2,88 persen.
"Dari eksternal, pelemahan pasar tenaga kerja AS setelah NFP Juli terkontraksi 23.000 dibanding ekspektasi +80.000 meningkatkan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih dovish," kata Reza dalam risetnya.
BRIDS masih melihat IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 6.400–6.350 dan resistance 6.425–6.450. Secara teknikal, keberhasilan bertahan di atas 6.400 menjadi sinyal positif karena level tersebut berpotensi berubah fungsi menjadi support.
Peluang penguatan juga didukung aksi net foreign buy sekitar Rp917 miliar pada perdagangan terakhir, sehingga ruang bagi capital inflow dan kelanjutan penguatan IHSG masih terbuka.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah PSAB, ARCI, dan BRMS.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG berpotensi membangun momentum breakout pada resisten terdekat karena faktor reli penguatan. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, bahkan MA20&60 telah membentuk pola golden cross.
Dari sisi fundamental, valuasi saham Indonesia dinilai masih relatif menarik, dengan P/E di level 9,76x, dibanding beberapa pasar regional setelah tekanan yang terjadi pada semester I-2026, sehingga tentunya berpotensi menarik minat para pelaku investor. Bahkan terjadi daily net foreign buy pada kisaran Rp917,23 miliar.
Sentimen global relatif mendukung. Pada Jumat, S&P 500 naik 0,62 persen dan mencetak rekor baru, Nasdaq naik 1,30 persen, sementara Dow Jones naik 0,28 persen. Penguatan terjadi setelah data tenaga kerja AS (US nonfarm payroll) lebih lemah dari perkiraan, sehingga meningkatkan harapan bahwa kebijakan The Fed akan lebih akomodatif.
"Hal itu positif bagi risk appetite pada bursa regional Asia, termasuk Indonesia," catat Nafan.
Sementara dari domestik, para pelaku pasar akan menantikan terkait perilisan data indeks keyakinan konsumen periode Juli 2026 dari Bank Indonesia (BI). Proyeksi dari Trading Economics berada pada 116, lebih rendah dari sebelumnya, yakni pada 117,8 sehingga indikasinya masih berada di zona optimistis, namun belum mengalami pemulihan yang relatif kuat. Hal itu karena momentum konsumsi rumah tangga masih belum sepenuhnya pulih.
Meski demikian, para pelaku pasar akan menantikan pengumuman MSCI August Index Review pada 12 Agustus 2026. Mengingat MSCI telah mempertahankan kebijakan pembekuan sementara terhadap penambahan saham Indonesia, peluang terjadinya penambahan konstituen baru relatif terbatas.
Fokus para pelaku pasar justru akan tertuju pada potensi rebalancing atau penghapusan konstituen akibat kebijakan pembekuan sementara serta evaluasi konsentrasi kepemilikan saham oleh MSCI.
"Jika tidak terdapat kejutan negatif, keputusan MSCI berpotensi menjadi katalis relief rally karena sebagian kekhawatiran sudah ter-price in. Sebaliknya, hasil yang lebih negatif dari ekspektasi dapat kembali memicu foreign outflow dan menekan IHSG," jelas Nafan.
Terdapat saham Indonesia menjadi perhatian dalam evaluasi pada periode Agustus. Pertama, CPIN, yang diperkirakan menjadi kandidat turun dari MSCI Global Standard ke Small Cap. Penyebab utamanya adalah penurunan harga saham secara signifikan sejak review Mei sehingga kapitalisasi pasar yang disesuaikan free float turun di bawah ambang batas indeks Standard.
Sementara GOTO masih memenuhi persyaratan likuiditas secara umum. Namun harga saham yang lama bertahan di level Rp50 dan likuiditas jangka pendek yang melemah membuat MSCI memiliki ruang untuk menggunakan diskresi terkait aspek replicability sehingga hal ini membuat status GOTO masih belum pasti.









