Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami technical rebound pada Rabu (12/8), setelah terkoreksi 1,53 persen ke level 6.267,88 di akhir perdagangan kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, support IHSG berada di antara 6.200–6.240 dan resisten antara 6.300–6.385. Selama area support mampu dipertahankan, peluang rebound masih terbuka.
"Meski MSCI Review berpotensi membuat pergerakan IHSG tetap volatil," kata Reza dalam riset hariannya.
Pasar akan mencermati rilis inflasi AS Juli dengan konsensus headline 3,4 persen (YoY) dan core 2,5 persen (YoY), serta MSCI Review pada 12 Agustus (13 Agustus dini hari WIB) yang berpotensi meningkatkan volatilitas dan memengaruhi arus dana asing.
Investor juga akan memperhatikan perkembangan konflik AS–Iran, harga minyak, serta kepastian terkait Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI).
Daftar saham pilihan tim BRIDS pada perdagangan hari ini adalah MEDC, ESSA, dan WIRG.
Lebih lanjut, Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan, besarnya arus keluar dana asing menjadi perhatian karena menunjukkan investor global masih cenderung berhati-hati terhadap aset Indonesia. Menurutnya, itu berarti, walaupun secara valuasi sejumlah saham domestik sudah relatif menarik setelah terkoreksi, investor asing belum menunjukkan perubahan sikap yang konsisten untuk kembali melakukan akumulasi.
"Selama tekanan jual asing masih berlanjut, ruang penguatan IHSG berpotensi terbatas dan setiap kenaikan indeks masih berisiko dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan profit taking atau mengurangi eksposur," kata Hendra.
Dari ranah domestik, perbaikan data penjualan ritel periode Juni menjadi kontraksi 3 persen (YoY) dari sebelumnya minus 3,9 persen menunjukkan sinyal bahwa konsumsi masyarakat mulai membaik. Namun, perbaikan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari faktor eksternal dan arus keluar dana asing.
Hendra mengatakan, saat ini pasar membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk mengubah sentimen, baik dari sisi kebijakan moneter, stabilitas rupiah, maupun perbaikan fundamental ekonomi dan korporasi.
