Jelang Libur Panjang, IHSG Diproyeksi Fluktuatif

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah berdasarkan analisis teknikal, Senin (24/3).
Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova mengatakan, IHSG gagal melanjutkan tren naik dan saat ini justru menghadapi support 6.147. Adanya penembusan di bawah level ini dapat memicu pengujian kembali terhadap support 5.996, yang sebelumnya mampu menahan tekanan jual.
"Lebih lanjut, apabila IHSG menembus di bawah support fraktal di 5.996, tren turun dapat berlanjut menuju 5.838," jelas Ivan dalam riset hariannya.
Adapun, level support IHSG berada di 6.147, 5.996, dan 5.838. Sementara level resistennya berada di 6.445, 6.557, 6.663, dan 6.772. Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish.
Ivan memprediksi IHSG hari ini bergerak di antara 6.110 dan 6.285. Daftar saham pilihannya adalah BBRI, INCO, INDF, MAPI, dan UNTR.
Di lain sisi, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG hari ini melaju fluktuatif sebelum libur panjang di rentang 6.100 dan 6.370 pada perdagangan pekan ini. Saham-saham yang disoroti pada perdagangan hari ini, mencakup: ASII, BRPT, PGAS, AKRA, ERAA, dan ELSA.
Dari dalam negeri, kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperbolehkan buyback tanpa RUPS tampaknya masih memerlukan waktu sebelum berdampak pada IHSG. Di sisi lain, pasar juga masih berharap terhadap “obat” dari Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki kepercayaan pelaku pasar terhadap pasar modal Indonesia.
Dari pasar global, Nasdaq (+0,52 persen) memimpin penguatan terbatas indeks-indeks Wall Street pada perdagangan Jumat (21/3). Dengan penguatan tersebut, Wall Street mengakhiri pelemahan mingguan selama 4 pekan terakhir.
Penguatan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh penyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengenai rencana reciprocal tariff. Trump menyatakan akan ada “fleksibilitas” dalam penerapan reciprocal tariff dan berencana melakukan pertemuan dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
Di awal pekan ini, pasar akan disibukan dengan data indeks manufaktur dari sejumlah negara, termasuk Jepang, India, Jerman, Uni Eropa, Inggris dan AS. Uni Eropa masih berkutat di kondisi kontraksi (<50). Sementara India masih sangat ekspansif dengan proyeksi indeks manufaktur di atas 55 persen pada Maret 2025.
Pasar juga menantikan data U.S. Consumer Confidence dan penjulalan properti (25/3), serta bacaan final realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2024. Data-data tersebut diyakini akan mempengaruhi pandangan pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Dalam FOMC terakhir (19/3), The Fed membuka peluang pemangkasan suku bunga acuan hingga 2 kali di 2025.