Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Nilai Tukar Rupiah 29 Agustus 2025 Melemah Imbas Aksi Demo

uang rupiah
Ilustrasi nilai tukar rupiah (pexels.com/Polina Tankilevitch)
Intinya sih...
  • Nilai tukar rupiah melemah menjadi yang terdalam di Asia
  • Peningkatan ketegangan politik akibat aksi demonstrasi besar-besaran di Jakarta menambah tekanan terhadap rupiah
  • Pelembahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik, dan kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada Jumat (29/8) hingga menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia. Nilai tukar rupiah 29 Agustus ini melemah seiring meningkatnya ketegangan politik dalam negeri akibat aksi demonstrasi besar-besaran yang berlangsung di Jakarta.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup melemah Rp147 atau 0,90% menjadi Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, rupiah sempat menyentuh titik terlemah di Rp16.526 per dolar AS pada pukul 10.28 WIB, sebelum akhirnya bertahan di level Rp16.499,50 menjelang penutupan. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat sudah merosot 0,91% dari posisi Rp16.351 pada Jumat (22/8).

Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga ikut melemah Rp105 atau 0,64% ke Rp16.461 per dolar AS. Dalam sepekan, Jisdor terkoreksi 0,74% dibandingkan pekan lalu yang berada di Rp16.340 per dolar AS.

Rupiah jadi mata uang paling lemah di Asia

Pelemahan rupiah hari ini menjadi yang terdalam di kawasan Asia. Rupiah tercatat terdepresiasi 0,90%, disusul rupee India 0,66%, won Korea 0,53%, dan baht Thailand 0,36%. Ringgit Malaysia juga ikut melemah 0,20%, dolar Singapura 0,19%, yen Jepang 0,11%, sementara dolar Taiwan dan peso Filipina hanya terkoreksi 0,05%.

Di sisi lain, indeks dolar AS justru menguat 0,16% ke posisi 97,97. Penguatan ini mencerminkan bertahannya dolar terhadap mayoritas mata uang utama dunia, meskipun pergerakannya dalam dua pekan terakhir cukup bergejolak dengan pola naik-turun harian.

Meski demikian, sepanjang Agustus 2025, rupiah masih mencatatkan apresiasi tipis sebesar 0,7% secara month to date (MtD). Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang menguat 2,1% MtD, baht Thailand naik 1% MtD, dan ringgit Malaysia menguat 0,5% MtD.

Sentimen demo menambah tekanan rupiah

Pengamat forex dari PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa rupiah sebenarnya sudah berada dalam tren pelemahan sejak awal pekan. Namun, meningkatnya eskalasi aksi demonstrasi, termasuk insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online akibat terlindas kendaraan taktis Brimob saat aksi pada Kamis (28/8), menambah kekhawatiran pelaku pasar.

“Demonstrasi besar-besaran dan ketegangan politik membuat investor cenderung wait and see. Tekanan jual terhadap rupiah meningkat meski sebelumnya dolar AS juga sempat menunjukkan pelemahan,” ujar Ibrahim dalam keterangannna.

Situasi politik domestik tersebut dianggap menambah beban psikologis bagi pasar, di samping faktor global yang memang sudah menekan nilai tukar rupiah.

Pemicu global

Pelemahan rupiah juga tidak lepas dari penguatan dolar AS. Indeks dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, menguat 0,16% menjadi 97,97 pada Jumat (29/8). Dalam dua pekan terakhir, indeks dolar bergerak sangat fluktuatif dengan kecenderungan menguat.

Salah satunya adalah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menggandakan tarif impor dari India hingga 50%, memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Selain itu, tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat. Ketegangan hubungan Trump dengan The Fed juga menambah ketidakpastian, di mana muncul kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS.

Di sisi lain, pernyataan dovish Ketua The Fed Jerome Powell di Jackson Hole yang memberi sinyal potensi penurunan suku bunga acuan sempat menahan laju dolar AS. Namun, ketegangan politik antara Trump dan The Fed membuat arah kebijakan moneter AS masih sulit diprediksi.

IHSG juga tertekan di tengah aksi massa

Tak hanya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Jumat (29/8). Mengutip data RTI, IHSG ditutup melemah 1,53% ke level 7.830,49. Indeks LQ45 bahkan merosot 1,78% ke posisi 797,11, menandakan tekanan jual meluas pada saham berkapitalisasi besar.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di rentang tertinggi 7.913,86 hingga terendah 7.765,59. Dari total 802 saham yang diperdagangkan, sebanyak 610 saham melemah, 122 saham menguat, dan 70 saham stagnan.

Kondisi pasar modal yang tertekan ini bertepatan dengan aksi demonstrasi yang digelar di depan Gedung DPR/MPR RI Jakarta. Sejumlah kelompok buruh dan mahasiswa turun ke jalan menyuarakan tuntutan kenaikan upah minimum tahun 2026 serta menolak kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan pekerja.

Prospek rupiah ke depan

Menurut Ibrahim, rupiah masih berpotensi tertekan di kisaran Rp16.340 hingga Rp16.400 per dolar AS dalam waktu dekat, terutama jika sentimen demonstrasi dan ketidakpastian global berlanjut.

“Stabilitas politik domestik akan menjadi kunci, sebab pasar sangat sensitif terhadap risiko sosial yang memengaruhi persepsi investor,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. Menurutnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang yang masih bertahan turut memberi ruang bagi dolar AS untuk mempertahankan penguatannya.

“Selama indeks dolar bertahan di atas level 98, tekanan terhadap rupiah akan tetap tinggi,” jelasnya.

Demikian informasi mengenai nilai tukar rupiah yang melemah signifikan ke Rp16.500 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/8). Pelemahan tersebut menjadi yang paling dalam di Asia dan diperparah oleh eskalasi aksi demonstrasi di Jakarta.

FAQ seputar nilai tukar rupiah

  1. Apa yang dimaksud dengan nilai tukar rupiah?

    Nilai tukar rupiah adalah perbandingan harga rupiah terhadap mata uang asing, seperti dolar AS.

  2. Faktor apa yang memengaruhi nilai tukar rupiah?

    Nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh inflasi, suku bunga, kondisi ekonomi global, hingga arus modal asing.

  3. Mengapa nilai tukar rupiah penting?

    Karena berpengaruh pada harga barang impor, ekspor, dan stabilitas ekonomi nasional.

  4. Bagaimana cara masyarakat melindungi diri dari pelemahan rupiah?

    Dengan mengelola keuangan bijak, berinvestasi di aset yang relatif stabil, dan mengurangi konsumsi barang impor.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda DS
EditorYunisda DS
Follow Us