Jakarta, FORTUNE – PT Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange/JFX) membukukan nilai transaksi Rp3.268 triliun sepanjang Juli 2026. Capaian yang disokong transaksi multilateral, bilateral, dan perdagangan akses luar negeri (PALN) ini memperkuat mekanisme pembentukan harga (price discovery) demi membangun harga acuan komoditas domestik yang kredibel di pasar global.
Direktur Utama JFX, Yazid Kanca Surya, menilai peningkatan aktivitas perdagangan tersebut sangat strategis bagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit (CPO) terbesar di dunia. Keberadaan harga referensi domestik yang lahir dari aktivitas perdagangan transparan, likuid, dan berkesinambungan akan melepaskan ketergantungan pelaku usaha pada benchmark asing.
"Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar, dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya. Dari proses inilah lahir harga referensi yang kredibel," ujar Yazid dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (5/8).
Yazid menambahkan, harga referensi yang kuat murni lahir dari interaksi penawaran dan permintaan pasar, bukan penetapan sepihak. Saat ini, pelaku usaha nasional masih dominan mengacu pada indikator internasional, seperti Bursa Malaysia Derivatives (BMD).
Pada pekan terakhir Juli 2026, harga acuan global Olein (FPOL BMD) menguat 3,52 persen dari US$1.135 menjadi US$1.175 per ton dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
Kenaikan benchmark internasional tersebut dipicu penguatan harga minyak mentah Brent sebesar 4,23 persen, peningkatan permintaan dari Cina, serta ekspektasi pengetatan pasokan CPO dari Indonesia. Di tengah dinamika tersebut, likuiditas perdagangan Olein di JFX tetap terjaga.
Sepanjang periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026, volume transaksi Olein mencapai 67.564 lot dengan nilai transaksi Rp6,85 triliun.
Selain Olein, transaksi komoditas lain di JFX menunjukkan tren konsisten. Transaksi timah ekspor sepanjang Juli 2026 mencapai 2.855 lot bernilai Rp2,66 triliun, di tengah koreksi tipis 0,19 persen pada harga acuan London Metal Exchange (LME) periode 19–25 Juli 2026.
Sementara itu, aktivitas PALN membukukan nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliun dengan volume melebihi 3,92 juta lot pada periode yang sama.
Secara akumulatif sejak didirikan pada 1999 sebagai bursa berjangka pertama di Indonesia, JFX telah memfasilitasi transaksi perdagangan dengan total nilai menembus lebih dari Rp131 kuadriliun selama lebih dari dua dekade.
