Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kinerja Traya Akan Terkonsolidasi dengan FOLK pada Semester I-2026
Direktur Utama PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) Danny Sutradewa (tengah) dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (9/6). (Eko Wahyudi/ Fortune Indonesia)
  • FOLK akan mengonsolidasikan kinerja PT Traya Multi Investama dan unit usahanya, Traya Hydro, ke laporan keuangan mulai semester I 2026 setelah menguasai 99,96 persen saham perusahaan tersebut.

  • Pada kuartal I-2026, FOLK beroleh laba bersih Rp14,82 miliar meski pendapatannya turun menjadi Rp4,09 miliar.

  • Kondisi keuangan FOLK menguat dengan aset naik 93,56 persen menjadi Rp147,5 miliar dan tanpa pinjaman bank.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Langkah FOLK mengonsolidasikan kinerja Traya Multi Investama dan Traya Hydro mencerminkan strategi ekspansi yang matang dan terukur. Dengan kepemilikan hampir penuh, perusahaan berhasil memperkuat posisi keuangan melalui peningkatan aset dan ekuitas yang signifikan, disertai penurunan liabilitas. Kondisi tanpa pinjaman bank menunjukkan ketahanan finansial yang kuat, sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan investasi berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) mulai menuai hasil dari langkah ekspansi yang dilakukan melalui akuisisi perusahaan portofolio. Perseroan memastikan kinerja PT Traya Multi Investama (TMI) beserta unit usahanya, Traya Hydro, akan mulai terkonsolidasi penuh ke dalam laporan keuangan FOLK pada kuartal II-2026 atau per Juni tahun ini.

Direktur Utama FOLK, Danny Sutradewa, mengatakan perseroan saat ini menguasai hampir seluruh saham TMI sehingga memiliki kendali penuh atas perusahaan tersebut. Dengan kepemilikan 99,96 persen, kontribusi bisnis Traya Hydro akan tecermin secara penuh dalam laporan keuangan konsolidasi FOLK mulai semester I-2026.

“Saat ini kami juga sedang dalam proses audit, dan kami optimistis hasilnya positif karena ketika kami masuk, Traya Hydro sudah menghasilkan pendapatan dan profit yang cukup baik,” kata Danny dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (9/6).

Pada April 2026, FOLK telah merampungkan pengambilalihan 2.499 lembar saham PT Traya Multi Investama senilai Rp249,9 juta. Transaksi yang selesai pada 17 April 2026 itu membuat FOLK menjadi pemegang saham mayoritas mutlak dengan porsi kepemilikan 99,96 persen.

Akuisisi tersebut menjadi bagian dari strateginya sebagai perusahaan holding investasi multi-sektor. Berbeda dari perusahaan operasional yang mengandalkan penjualan produk atau jasa setiap hari, sumber pendapatan FOLK berasal dari perusahaan-perusahaan yang berada di bawah kendali manajemennya.

Menurut Danny, kontribusi perusahaan portofolio yang dikendalikan penuh akan terefleksi pada pendapatan konsolidasi, sementara kenaikan nilai investasi atau valuasi perusahaan akan dicatat sebagai keuntungan yang belum direalisasikan (unrealized gain) pada laba bersih.

“Ketika Traya Hydro masuk konsolidasi, kinerjanya akan masuk ke laporan keuangan FOLK,” katanya.

Traya Hydro bergerak pada bidang solusi pengolahan air dan air limbah. Perusahaan tersebut menawarkan sistem pengolahan air limbah berbasis Membrane Bioreactor (MBR) dan teknologi ultrafiltrasi yang banyak digunakan untuk kebutuhan industri.

Sepanjang kuartal-1 2026, perseroan mencatat laba bersih Rp14,82 miliar, berbalik dari rugi Rp2,89 miliar pada periode sama tahun lalu.

Meski demikian, pendapatan bersihnya turun menjadi Rp4,09 miliar dari Rp5,43 miliar pada kuartal I-2025. Danny menjelaskan perbedaan tersebut merupakan konsekuensi model bisnis perusahaan investasi yang pertumbuhan labanya tidak selalu sejalan dengan peningkatan pendapatan.

“Ada kontribusi unrealized gain yang masuk sebagai other income,” ujarnya.

Pada sisi neraca, kondisi keuangan FOLK menunjukkan penguatan. Total asetnya melonjak 93,56 persen menjadi Rp147,5 miliar hingga akhir Maret 2026, dibandingkan Rp76,2 miliar pada akhir tahun lalu. Ekuitas juga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp137,79 miliar dari Rp66,12 miliar.

Sementara itu, total liabilitas turun menjadi Rp9,7 miliar dari Rp10,08 miliar pada akhir 2025. Danny menegaskan perseroan saat ini tidak memiliki pinjaman bank atau zero loan sehingga dinilai lebih tahan menghadapi ketidakpastian ekonomi dan perubahan suku bunga.

“Fokus kami tetap pada cash flow dan penguatan permodalan. Dalam kondisi krisis sekalipun, kami sudah melakukan berbagai simulasi dan posisi FOLK masih sangat baik,” katanya.

Ke depan, FOLK juga membuka peluang memperkuat struktur modal melalui skema rights issue maupun penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Dana tersebut akan digunakan untuk menangkap peluang investasi yang dinilai menarik, termasuk ekspansi ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Vietnam, dan Filipina.

“Kami melihat saat ini banyak perusahaan yang fundamentalnya bagus tetapi valuasinya masih murah. Itu menjadi peluang investasi yang menarik bagi FOLK,” ujar Danny. 

Editorial Team

Related Article