Comscore Tracker
MARKET

Menyusul Emtek, Singtel dan Grab Resmi Jadi Pemegang Saham Bank Fama

Akuisisi demi pengembangan Bank Fama menjadi digital.

Menyusul Emtek, Singtel dan Grab Resmi Jadi Pemegang Saham Bank FamaIlustrasi bank digital. (Shutterstock/Song_about_summer)

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Bank Fama Internasional menyaksikan sejumlah pemegang saham baru. Setelah Grup Emtek, Singtel dan Grab kini tercatat sebagai penanam modal paling gres.

Sebagai informasi, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) melalui anak usaha PT Elang Media Visitama (EMV) telah mengakuisisi 9,09 miliar saham atau setara 93 persen dari seluruh modal Bank Fama pada Desember 2021 dan menjadikannya sebagai pengendali utama. Akuisisi tersebut bernilai RpRp908,95 miliar. 

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Emtek menyatakan telah mengundang A5-DB Holdings Pte.Ltd, anak usaha dari Grab Holdings Limited, dan Singtel Alpha Investments, bagian dari Singtel Telecommunications Limited dalam rangka akselerasi dan pengembangan usaha serta ekosistem digital perseroan. Keduanya turut berpartisipasi melakukan penyertaan modal dalam penerbitan saham baru bank Fama.

“Masing-masing Grab dan Singtel telah mengambil bagian atas 2,35 miliar lembar saham baru pada bank Fama (atau setara dengan 16,26 persen modal ditempatkan dan disetor Bank Fama yang telah ditingkatkan,” demikian pernyataan Emtek, seperti dikutip pada Senin (24/1). Setelah transaksi, kepemilikan saham Emtek melalui EMV menjadi 62,76 persen. Sedangkan, Grab dan Singtel masing-masing memiliki 16,26 persen dan PT Nusantara Berkat Agung 4,72 persen.

Singtel: ruang tumbuh perbankan digital RI masih besar

Menukil The Strait Times, Singtel mengumumkan akuisisi terhadap saham Bank Fama dengan nilai Rp500 miliar secara tunai. Aksi korporasi ini disebut sebagai bagian dari rencana mereka mengejar peluang perbankan di Indonesia.

Dalam keterangan kepada bursa setempat, perusahaan telekomunikasi itu menyebut bahwa populasi Indonesia adalah yang paling tidak memiliki akses ke perbankan (unbanked), bahkan di Asia Tenggara. Singtel berharap investasinya akan mengembangkan proposisi perbankan digital Fama dan mendorong inklusi keuangan yang lebih besar.

Sebagai tambahan, mengutip laporan keuangan Bank Fama, aset bank tersebut pada September 2021 mencapai Rp1,59 triliun. Sedangkan, labanya sebesar Rp40,49 miliar, atau meningkat 662,1 persen dari Rp5,31 miliar periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Investor Allo Bank: Mega Corpora, Bukalapak, dan Grup Salim

Sebelum Bank Fama, pasar modal diramaikan aksi PT Allo Bank Indonesia Tbk menyuntik modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Allo Bank merupakan entitas yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh Mega Corpora, perusahaan milik Chairul Tanjung.

Allo Bank sebelumnya menggelar rights issue senilai Rp4,80 triliun. Aksi korporasi tersebut nantinya akan diserap oleh tujuh investor kakap, yakni CT Corp, Grup Salim, Growtheum Capital Partners, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), Grab, Traveloka, hingga Carro.

Mengutip keterbukaan kepada BEI, PT Bukalapak.com Tbk pada Kamis (20/1) menyebut telah mewakili 11,49 persen saham Allo Bank senilai Rp1,19 triliun. Dengan dilakukannya transaksi ini melalui bisnis mitra dan konektivitasnya dengan pasar UMKM, Bukalapak berharap ada pengembangan penawaran serta aksesibilitas kredit bagi para pelaku usaha ke seluruh Indonesia.

Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, mengatakan Allo Bank bakal diarahkan menggaet nasabah baru melalui aplikasi mobile banking yang akan dirilis Maret tahun ini. Menurutnya, bank yang sebelumnya bernama Bank Harda Internasional ini ditargetkan sanggup menarik 10 juta nasabah.

Related Articles